Selasa, 3 Oktober 23

ZAKIR NAIK DATANG TOLERANSI TURUN?

Kita tak kekurangan ulama besar. Jika ada orang mengkultuskan Zakir Naik berarti ada sesuatu yg turun pada orang tsb.

Belum selesai pilkada serentak, terutama pilkada Jakarta 2017, yang membelah publik setidaknya menjadi dua kubu, kini negeri  ini kedatangan tokoh kontroversial asal India yang berpotensi mengurangi harmoni hubungan antara pemeluk agama di Indonesia. Mengapa Dr Zakir Abdul Karim Naik disambut meriah di Tanah Air?

Ulama kondang asal India, Zakir Naik melakukan safari dakwah ke Indonesia pada awal April 2017. Berlangsung selama 10 hari di enam kota: Bandung, Yogyakarta, Cibubur, Bekasi, Ponorogo, dan Makassar. Safari dakwah bertajuk “Zakir Naik Visit Indonesia 2017” itu berlangsung, 01-10 April 2017.Tema ceramahnya antara lain: ‘Da’wah or Destruction’, ‘Misconception of Islam’, ‘Religion in Right Perspective’, ‘Similarity Between Islam and Christianity’, dan  ‘Qur’an and Modern Science’. Zakir Naik tampil dengan model ceramah biasa dilanjutkan tanya jawab dengan peserta. Bukan debat.

Tentu saja kedatangan Zakir Naik menjadi heboh. Pasalnya, tokoh ini di negara asalnya tengah menghadapi masalah hukum. Organisasinya, Islamic Research Foundation (IRF) dilarang di India. Pada November 2016 lalu, media India melaporkan, Badan Investigasi Nasional negara itu (NIA) melakukan penggerebekan di beberapa properti komersial dan residensial yang dimiliki Zakir Naik.

Pejabat NIA menyita beberapa dokumen yang diduga menunjukkan bahwa IRF telah mensponsori para calon militan untuk melakukan perjalanan ke Suriah guna bergabung dengan kelompok radikal ISIS. Selain India, sejumlah negara seperti Bangladesh, Kanada dan Inggris juga telah melarang Zakir. Di Malaysia sejumlah organisasi masyarakat sipil menuntut pemerintah menjadikan Zakir Naik sebagai ancaman nasional.

Di Indonesia, menjelang kunjungan Zakir Naik, telah menelan “korban” yaitu seorang komedian tunggal Ernest Prakasa. Pemain film Ngenest dan Cek Toko Sebelah ini menulis di akun twitternya terkait pertemuan Zakir Naik dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “JK dengan hangat menjamu Zakir Naik, orang yang terang-terangan mendanai ISIS. Sulit dipahami,” seperti dikutip SINDOnews di akun Twitter Ernest, @ernestprakasa, Senin (6/3/2017). Buntutnya, Ernest dibuli di media sosial, lalu minta maaf dan dimaafkan JK. Meski demikian, kontrak iklan dengan Jamu Sido Muncul, tak diperpanjang lagi.

Bagaimana menjelaskan fenomena Zakir Naik ini? Pemerhati budaya dari Yogyakarta, Hairus Salim menyatakan, “Zakir Naik adalah trend. Yang namanya trend, kecenderungan, hanya sesaat. Napasnya tidak akan panjang. Sebagai trend, yang ditawarkan adalah kebaruan tanpa kedalaman, sensasi tanpa isi, dan berbagai spekulasi. Yang diberikan kehebohan, bukan keheningan, keriuhan bukan ketenangan”. Memang aneh, lanjut  Hairus Salim, bahwa dalam hal “beragama” pun ada yang namanya trend, seperti sebuah model busana atau selera musik saja. Tapi itulah nyatanya.

Direktur Yayasan LKiS ini menjelaskan, agama memang sebuah arena kontestasi. Dan Zakir dengan sadar memasuki gelanggang itu dan memenuhi hasrat mereka yang memang memandang agama sebagai arena kontestasi juga. Ia menawarkan rasa percaya diri dan kepal serta tepuk tangan. Persepsi agama sebagai sebuah pertandingan memang membutuhkan hal-hal itu. Tapi bagi mereka yang memandang agama sebagai suatu sarana pengayaan batin menuju Tuhan, Zakir adalah suatu ironi. Suatu paradoks. Zakir memang menjadi suatu yang mencemaskan.

Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla menyatakan,  di era politik identitas yang menjadi gejala global sekarang, gaya pemikiran seperti Zakir Naik memang paling laku dan laris manis. Sebab gaya pemikiran ini lebih memberikan dan menjamin “sense of identity”. “Anda serang seperti apapun, gaya pemikiran ini akan tetap merajalela. Sebab pasar membutuhkannya. Anda ndak bisa melawan hukum pasar,” tulis Ulil di akun Facebooknya. Yang bisa kita lakukan adalah mencari dan membangun ceruk pasar lain untuk memasarkan gaya pemikiran yg berbeda.

Menurut kader Partai Demokrat iitu, gaya pemikiran Zakir Naik bukan hal baru. Dalam sejarah pemikiran Islam di era klasik Islam (kira-kira abad ke-8 hingga abad ke-12), gaya pemikiran polemis ala Zakir Naik ini sangat populer. Ada penjelasan historisnya saat itu. Ekspansi Islam ke wilayah di luar jazirah Arab (seperti kawasan Persia dan Syam yang sangat dipengaruhi warisan peradaban Greko-Roman) mempertemukan umat Islam dengan agama-agama dan mazhab pemikiran lain.

Berbeda dengan Ulil, Roy Murtadho, melihat fenomena Naik, lebih pelik ketimbang soal tren dalam logika pasar, dengan solusinya membuat ceruk pasar lainnya yang beroposisi. Bisa ya bisa tidak. Ada banyak aspek, gejala bangkitnya fasisme beragama. Artinya tak sesederhana yang kita banyangkan. Di sini, ketimbang mengikuti imannya Deedat dan Naik saya lebih memilih imannya Ibn Arabi dan para Salikin yang rendah hati dan juga imannya Romero yang membebaskan.

Roy Murtadho menambahkan, jika masih ngotot (tanpa direparasi terlebih dulu caranya dalam mendekati Islam) sila dilihat sendiri. Seseorang bisa menjadi manusia bermartabat tak sepenuhnya memerlukan asumsi-asumsi teologis. Sebaliknya, orang yang hidupnya digenangi oleh asumsi-asumsi teologis justru seringkali tak mampu menjadi manusia yang bermartabat, yaitu manusia yang mampu memanusiakan lainnya.

Kecemasan tak hanya pada anak muda, begitu juga Goenawan Mohammad. GM menulis, “Zakir Naik, pengkhotbah dari Bangladesh yang terkenal dan baru datang ke Indonesia, menyatakan bahwa musik haram hukumnya bagi Islam. Saya bayangkan yang akan terjadi jika Indonesia menerapkan doktrin itu: sebuah negeri yang tanpa gamelan, musik kulintang, lagu dangdut, jazz, Iwan Fals, Slank, dan entah apa lagi. Tuhan memberi manusia bakat musik dan kemampuan menghargai yang yang musikal. Sejak dulu. Tak jarang sebagai bagian kehidupan rohani. Juga di masyarakat Islam sendiri. Tapi mungkin semua mereka, jika mengikuti ajaran Zakir Naik, masuk neraka jahanam….”

Netizen menanggapi kedatangan Zakir Naik cukup beragam. Ada yang mencemaskan dan menanggapi dengan serius, ada pula yang santai bahkan merespon dengan humor. Wartawan senior Soe Tjen Marching, menulis: “Dalam artikelnya “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara”, Soekarno menulis bahwa jangan sampai masyarakat tidak mengikuti jaman dan hanya berpacu pada peraturan baku. Kalau tidak nanti mereka akan tertinggal dan hanya menjadi Masyarakat Onta terus. Eh, sekarang masih ada saja yang mau mempromosikan bumi datar (ini tidak berlaku di Indonesia saja, di Amerika sana juga ada)”

Soe Tjen juga merespon Zakjar Naik secara guyon, “Lihat tulisan “Zakir naik” bacanya kok jadi “Zakar naik” terus (akibat ketuaan)”. Komentar ini ditanggapi seorang netizen, “Seperti pembaca berita TV Jepang berbahasa Inggris: Soeharto recently has a problem with his erection.” Pada akun Facebook lainnya netizen menemukan dua status: 1) “Lebih berguna Mak Erot yg bs bikin panjang & besar penis drpd ZN yg bs p’panjang & p’besar barisan calon penista keyakinan lain.” 2)  “Saya lebih suka Dr Naek L Tobing yg ahli penis daripada Naik lain yg ahli memicu penistaan kpd keyakinan lain.”

Kecemasan dan berbagai pertanyaan publik direspon oleh Akhmad Sahal, tokoh muda NU, melalui kuliah twitter. Kultwit Sahal ada tujuh belas cuitan. Intinya, pendekatan Zakir Naik sudah ketinggalan zaman. Kultwit itu tak hanya bisa diakses followers Sahal tetapi juga dibagi di Facebook. Jadilah kultwit yang cukup viral. Berikut kultwit Kyai Sahal selengkapnya.

Muslim Pengidap Inferiority Complex
by @sahaL_AS

(1) Zakir Naik digemari muslim yg mengidap inferiorty complex thdp Barat, Kristen, dan agama2 lain. Mrk merasa terancam, terkepung, kalah.

(2) Pandangan2 ZN yg simplistik, reduksionis dan hitam putih menjadi semacam kompensasi bagi rasa inferior berjamaah yg diidap fansnya.

(3) Di mata fansnya, ZN mampu buktikan keunggulan Peradaban islam. Mrk menganggap, agama2 lain dibuat tak berkutik dan kalah kabeh oleh ZN.

(4) Fansnya koar2 nantangin kelompk2 yg beda faham/ agama dgn mrk utk debat sama ZN. Trus mrk umumkan scr sepihak bahwa ZN tak tertandingi.

(5) Tp bagi muslim yg mendalami ilmu2 keislaman (tak hanya modal copas, google, terjemah), ZN justru tak dianggap sbg rujukan otoritatif.

(6) Bagi mrk, belajar dari ZN sama halnya dgn belajar kedokteran dari orang yg bukan dokter, tp hanya baca2 buku kedokteran. Bkn ahlinya!

(7) Selain itu, cara ZN dlm melihat agama lain itu khas mindset era Perang Salib. Agama lain dianggap sbg musuh yg hrs ditundukkan.

(8) Yg ditawarkan ZN adlh cara pandang konfrontasional thd agama lain. Khas Abad Pertengahan, era yg kental warna Perang Agamanya.

(9) Pdhl spirit relasi agama dlm peradaban mutakhir hrsnya justru ke arah relasi kerjasama, saling belajar, dan saling memahami,

(10) Ini bukan menganggap semua agama benar seperti tuduhan mrk, tp upaya membangun jembatan antar pemeluk agama, bukan dinding pemisah.

(11) Perbedaan agama bukan utk dipertandingkan dlm kontes iman, yg sering adu subjektivitas antar pemeluk agama sing ora uwis2. Knp?

(12) Cara itu selama berabad2 yg lampau terjadi, yg sering berujung perang agama. Hasilnya? Masing2 tetap aja keukeuh dgn imannya sendiri2.

(13) Cara2 konfrontasional ini kuno. Studi2 agama yg ilmiah skrg semangatnya mengapresiasi agama lain, bukan menyerangnya dari iman sendiri.

(14) Kalo sarjana2 agama tak tertarik/ tak mau mendebat ZN, itu krn eranya beda. ZN cocoknya hidup di era Perang Salib. Ia lahir terlambat.

(15) Muslim yg pede dgn imannya tak jadikan agamanya sbg palu utk menghantam agama liyan, tp sbg suluh agar bisa saling memahami.

(16) Sembari meyakini agama sendiri yg paling benar, si muslim tsb mengakui hak pemeluk agama lain utk yakini agamanya yg paling benar.

(17) Muslim yg tak punya inferiority complex tak butuh Zakir Naik. Krn ia bisa naik sendiri ke level saling menghargai agama lain. Sekian.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait