Senin, 27 Juni 22

Yusril Apa yang Kau Cari?

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. adalah seorang politisi sekaligus akademisi. Sebagai akademisi, ia telah mencapai puncak dengan memperoleh gelar doktor dan guru besar di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Sebagai politisi, ia pernah menduduki puncak pimpinan Partai Bulan Bintang. Berkat kepakaran dalam hukum tata negara dan posisi sebagai petinggi PBB, Yusril sempat menjabat posisi Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Hukum dan HAM.

Sebagai Ketua Majelis Dewan Syuro PBB Yusril Ihza ditetapkan sebagai bakal calon presiden 2014. Deklarasi Yusril sebagai capres  dilaksanakan pada 8 Desember 2013 di Surabaya, Jawa Timur. Pria kelahiran Belitung 5 Februari 1956 ini dinilai memiliki wawasan kenegaraan dalam nasional dan internasional sehingga layak menjadi pemimpin Indonesia.

Namun, seperti kita ketahui, PBB yang menjagokannya, tak mampu merebut simpati rakyat yang cukup tinggi dalam Pemilu Legislatif 9 April 2014. Pada pilpres 2014 lalu, Yusril adalah  Capres yang “gugur” di tengah jalan. Pertanyaan kita sekarang, mengapa Yusril kini getol mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta?

PBB adalah sebuah partai politik berasaskan Islam dan menganggap dirinya sebagai partai penerus Masyumi yang pernah jaya pada masa Orde Lama. Partai ini didirikan pada 17 Juli 1998. PBB telah ikut pemilu selama empat kali yaitu pada 1999, 2004, 2009 dan 2014. Pada 1999, PBB mempu meraih 2.050.000 suara atau sekitar 2% dan meraih 13 kursi DPR RI. Sementara pada Pemilu 2004 memenangkan suara sebesar 2.970.487 pemilih (2,62%) dan mendapatkan 11 kursi di DPR.

Pada Pemilu 2009, partai ini memeroleh suara sekitar 1,8 juta yang serata dengan 1,7% yang berarti tidak mampu meraih perolehan suara melebihi parliamentary threshold 2,5% sehingga tidak memiliki wakil seorang pun di DPR RI, meski di beberapa daerah pemilihan beberapa calon anggota DPR RI yang diajukan memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai Anggota DPR RI. Dalam pemilu 2014, PBB meraih suara sebesar 1 sampai 2 persen, artinya kembali mengulang kegagalan pemilu sebelumnya.

Kegagalan PBB meraih dukungan masyarakat sejak 2004 menjadikan partai ini diplesetkan sebagai Partai Bulan Bulanan, Karena partai ini hanya berjaya di kampung kelahiran Yusril, maka tak sala ada guyonan PBB singkatan Partai Bangka Belitung.

Sejak Yusril dicopot dari jabatan menteri  pada 2007. Namanya nyaris tidak lagi terdengar. Dia memilih kembali mengurus partai. Yusril kemudian mencoba terjun ke dunia advokat atau pengacara. Ia mendirikan IHZA & IHZA Law Firm bersama adiknya, Yusron Ihza Mahendra. Kantor pengacara ini cukup laris terutama bagi  para koruptor.

Ada beberapa tokoh yang menjadi klien IHZA & Ihza, antara lain Emir Moeis (PDI Perjuangan), Zulkarnaen Djabar (Partai Golkar), Agusrin Najamuddin (mantan Gubernur Bengkulu), Siti Fadilah Supari (mantan Menteri Kesehatan), Dahlan Iskan (mantan Menteri BUMN) dan RJ Lino (Pelindo II), sampai menjadi pengacara pemilik kapal asing pencuri ikan.  Meski menjadi pengacara tersangka korupsi, Yusril menegaskan, dia bukan pengacara koruptor. “Harus dibedakan antara tersangka dugaan korupsi dan koruptor. Kalau koruptor tidak usah dibela,” kata Yusril.

Kiprahnya di bidang perfilman ternyata juga mendapat pengakuan. Tak tanggung-tanggung, ia berhasil meraih satu penghargaan dari festival film internasional yang diselenggarakan di Madrid, Spanyol, 19 Juli 2014 lalu. Lewat film “Laksamana Cheng Ho”, di mana dia bermain sebagai pemeran utamanya, Yusril memenangkan “Best Lead Actor in a Foreign Language Film”.

Perjalanan hidup Yusril cukup lengkap, selain menjadi guru besar di universitas ternama, menjadi menteri di kabinet, memimpin PBB, menjadi bintang film, sampai dicapreskan partai itu. Namun rupanya masih kurang lengkap, ia kini mengincar kursi gubernur DKI Jakarta.

Kemenangan Yuslih Ihza Mahendra, kakak Yusril, menjadi bupati di Belitung Timur melawan Basuri Tjahaya Purnama, adik Ahok, memicu dirinya untuk bertarung menjadi DKI 1 melawan Ahok. Namun partainya yang kecil, dan kurangnya relawan kreatif, menyebabkan Yusril harus melamar menjadi calon gubernur di berbagai partai politik seperti PDI P, Gerindra, dan Partai Demokrat.

Bagaimana tanggapan masyarakat Jakarta?  Sebagaian menganggap Yusril tak pantas menurunkan kemampuan sebagai elit nasional ke pimpinan daerah. Sebagian lagi menilai, pernyataan-pernyataan Yusril yang menjurus SARA, sungguh tak mencerminkan dirinya seorang profesor doktor dan mantan menteri. Yang lain mengatakan, mengurus partai saja gagal kok mau mengurus ibu kota.

Head to head Yusril melawan Ahok pada pilgub 2017 mungkin bisa terjadi. Belitung vs Belitung. Seperti kata Yusril dalam berbagai kesempatan, dalam politik tak ada yang tak mungkin. Artinya ia bisa mengalahkan Ahok pada pilgub tahun depan. Tetapi bisa juga, Yusril kembali tak jadi dicalonkan oleh partai-partai yang ia lamar. Gagal menjadi capres 2014, bisa berlanjut gagal menjadi cagub 2017.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait