Sabtu, 10 Desember 22

Yang Muda yang Bercanda di Istana

Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo, belum lama ini mengunggah video di YouTube berjudul Pencitraan. Dalam video berdurasi 6 menit 59 detik yang diunggah 31 Maret 2016 itu, Kaesang mengatakan dengan gaya bercanda, salah satu fasilitas mewah yang dimilikinya adalah pergi ke kampus di Singapura menggunakan helikopter pribadi. Dia juga mengaku diberi uang jajan Rp 5 miliar sebulan oleh sang ibu, Iriana Jokowi.

Kaesang berkelakar memiliki mesin ATM di dalam lemari pakaiannya. Lantai kamarnya berlapis emas 24 karat. “Di lemari aku ada mesin ATM dan lantai aku terbuat dari emas 24 karat,” ujar Kaesang dalam video itu. “Gara-gara kegesek sama kaki aku, kena sepatu aku, warnanya berubah jadi kayak warna keramik, warna silver dan putih gitu,” kata kaesang dalam cuplikan video itu.

kaesang pangarep
kaesang pangarep

Soal uang jajan yang Rp 5 M itu, Kaesang menambahkan, “Kalau enggak habis, ibu bakal menghukum aku dan aku bakal dikasih Rp 10 miliar. Langsung dikasih ke muka, nih Rp 10 miliar harus dihabisi dalam waktu satu minggu,” ujar Kaesang sembari bergaya seolah sang ibu yang menamparkan uang ke wajahnya. Namun Kaesang mengatakan hidup hemat dan sederhana. “Aku bahkan diusahain makan sehari cuma dua kali,” ujarnya.

Kaesang dan Gibran Rakabuming Raka memang suka bercanda di media sosial. Awal Januari 2016, Kaesang mengomentari unggahan foto ayahnya yang mengagumi Raja Ampat. “Pulau Pianemo Raja Ampat, sangat indah. Surga kecil di Tanah Papua -Jkw.” Tweet Jokowi tersebut tak lama kemudian langsung dikomentari Kaesang yang sebenarnya sedang berada sama-sama di Raja Ampat. “Pak, bukan bermaksud untuk tidak sopan tapi kalo cari kecebong bukan di situ tempatnya,” tulis @kaesangp.

Pada 23 Februari 2016, Jokowi, melalui akun Twitter, mengunggah foto sedang jongkok di pinggir kolam sambil memberi makan ikan. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, sarung bermotif kotak warna cokelat, dan memakai sandal. “Hiburan pagi memberi makan ikan di kolam dan sungai -Jkw,” tulis @Jokowi. Kemudian, pada hari yang sama, muncul unggahan dari akun Twitter @kaesangp yang me-retweet unggahan ayahnya. “Pak Jokowi, itu sarung saya,” tulisnya.

Banyak netizen yang ikut mengomentari unggahan Kaesang. Salah satunya akun @sasa_pipi. “Pinjem sebentar lah… Jangan pelit2 sama bapak.”  Beberapa menit kemudian, akun Twitter milik putra pertama Jokowi, Gibran, juga membalas cuitan Kaesang. “Sarung saya,” tulis @Chili_Pari.

Kaesang dan Gibran tampaknya kompak di media sosial. Mereka berdua, seperti ayahnya, juga sering dibully di medsos. Namun, bukannya membalas dengan menyewa pengacara atau melapor ke Bareskrim Polri, malah cekikikan dan penuh canda tawa membalas para pembully. Cuitan mereka penuh satire dan canda tawa saling

Mereka cerdas dalam membalas fitnahan  kepada Jokowi dan keluarga mereka. Alih-alih membalas dengan melaporkan pelaku malah ditawari makan siang dengan markobar martabak khas menu spesial milik Chilli Pari merk dagang Catering Gibran. “Yuk makan siang dulu. Ngeshare berita kebencian juga butuh asupan gizi loh.” Demikian cuitan @cilli_pari yang telah dicapture oleh seorang netizen Muhammad Jawy dan dijadikan stts facebooknya. “Bapaknya Koppig, anaknya juga lebih Koppig.

Dalam sebuah acara Mata Najwa di Metro TV Gibran ditanya mengapa ia membuka katering dan warung martabak. Apakah tak malu sebagai anak presiden. Dengan tegas Gibran mengatakan bahwa ia dan adiknya adalah orang biasa, “Yang presiden itu bapak saya.”

Dua tokoh yang juga aktif di medsos yaitu  Budiman Sudjatmiko dan Goenawan Mohammad mengomentari Kaesang dan Gibran. “Kalau era Bung Karno sudah ada Twitter, Mas Guntur pasti gak kalah konyolnya becandain bapaknya di TL. Cek bukunya, Bapakku, Kawanku, Guruku,” kata Budiman Sudjatmiko di akun pribadinya @budimandjatmiko. Sementara wartawan senior Tempo Goenawan Mohamad dengan akun ‏@gm_gm sambil me-retweet kicauan Budiman Sudjatmiko. “Ayah yang hangat, akrab, dan demokratis kepada anak-anaknya itu ayah yang memungkinkan generasi baru yang percaya diri.”

Bukan Era Tutut dan Tommy:

Jaman Kaesang dan Gibran tak seperti jaman Tutut Indra Rukmana dan Tommy Soeharto saat Presiden Soeharto berkuasa. Anak-anak Soeharto nyaris tak pernah kita dengar keakraban mereka bersama keluarga. Justru kita sering mendengar mereka rebutan proyek di berbagai departemen.

Masih ingatkah Anda lelucon yang pernah disampaikan KH Abdurrahman Wahid pada 1992 lalu? “Bedanya anak presiden dengan anak orang biasa. Kalau anak orang biasa menikah minta dibelikan TV. Kalau anak presiden menikah minta dibelikan stasiun TV,” ujar Gus Dur saat diskusi “Melihat Suksesi Melalui Lubang Humor” di Taman Ismail Marzuki (TIM).  TV dan anak presiden mengingatkan pada Tutut yang mendirikan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI).

Masyarakat yang meragukan profesionalisme perusahaan anak pertama Soeharto, membuat akronim Tutut menjadi “Tanpa Usaha Tapi Untung Terus”. Seringnya Tutut tampil di depan publik membuat masyarakat memlesetkan salah satu dari tiga kalimat bijak tentang pendidikan dari Ki Hahar Dewantara “”Tut wuri handayani”, menjadi “Tutut wira-wiri kudu dilayani”.

Bahkan lelucon di kalangan petani cengkeh, proyek mobil nasional TIMOR itu singkatan “Tommy Itu  Memang Orang Rakus”. Tommy dibenci para petani cengkeh di Sulawesi Utara karena sejak ada Badan Penyangga Perniagaan Cengkeh (BPPC) yang memonopoli cengkeh, maka nasib petani pun hancur. Bagi petani cengkeh, BPPC adalah Badan Penghancur Petani Cengkeh.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait