Rabu, 6 Juli 22

WTT Tak Akan Ambil Ganti Rugi Proyek BBIK

Kulonprogo – Mereka yang mengaku WTT (Wahana Tri Tunggal) namun mengambil jatah ganti kerugian, maka mereka bukan WTT. Begitu dikatakan oleh Martono selaku ketua WTT, pihak yang selama ini menolak pembangunan Bandara Baru Internasional Kulonprogo (BBIK), saat ditemui di perkebunan semangkanya, pesisi Glagah, Temon (14/9).

Pada Indeks Berita, Martono menjelaskan bahwa WTT dengan anggota sebagian besar warga pesisir Glagah – Temon yang berjumlah lebih 250 orang, tetap menjunjung prinsipnya. Prinsip WTT yang dimaksud adalah menolak proyek pembangunan BBIK dengan konsekuensi tidak mengambil ganti kerugian, baik yang dilaksanakan di balai desa pada 14 September – 4 Oktober 2016, maupun yang dititipkan di Pengadilan Negeri Wates.

Meski bentuk ganti kerugian dari PT Angakasa Pura (AP) I dapat berupa deposito saldo rekening maupun serifikat lahan relokasi, Martono mengatakan, dua wujud ganti kerugian tersebut tidak akan menjamin kesejahteraan warga kedepannya.

“Warga pro pembangunan pun di ganti rugi sama mereka (PT AP I) belum tentu adil. Katakanlah ganti kerugian 600 juta, padahal harga tanah di luar (Temon) itu bisa sampai satu milyar dengan luasan meter persegi yang sama. Itu belum biaya pembangunan rumah. Atau yang direlokasi. Belum tentu luas tanah sekarang dan yang direlokasi bisa sama. Ga ada itu yang namanya ganti untung, yang namanya rugi ya rugi, bahkan nombok.” Ucap Martono.

Meski akan diganti rugi dan direlokasi, Martono pun meragukan mata pencaharian yang akan didapatkan warga proyek pembangunan BBIK. Ia mengatakan bahwa belum tentu masyarakat nantinya akan mendapatkan mata pencaharian yang sama dan mensejahterakan di tempat Temon.

“Disini kita bisa nanem semangka, cabe bahkan terkenal awet sampai tanah abang. Masih banyak komoditas lain yang bisa dikembangkan disini, ada yang tanam oyong, kacang, tergantung kapsitas warga. Kalo dipindahkan, belum tentu kita dapet lahan kaya gini”, tambahnya.

Martono menambahkan, bahwa hingga sampai dengan saat ini, pengorbanan yang sudah dialami oleh WTT terbilang besar. Tidak dalam bentuk rupiah, justeru psikologis. Ia mengungkapkan, ikatan pernikahan bahkan hingga tali silaturahmi dalam keluarga yang putus pun telah dialami oleh beberapa dari anggota WTT.

“Ada yang cerai, ada yang tidak menganggap saudara. Itu pernah terjadi. Dibilang lelah, ya pasti. Tapi kita jangan sampai berhenti, pengorbanan kita sudah besar. Jadi Isu dari kekuatan WTT itu melemah karena anggota berkurang, itu tidak. Justru kita makin kuat toh.” Pungkasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait