Rabu, 30 November 22

Wayang Orang Sriwedari Pentas Wayang Klasik untuk Anak Muda Indonesia

Wayang Orang Sriwedari Surakarta, sukses menggelar pentas wayang klasik-kontemporer bertajuk “Mintaraga” dihadapan penonton yang sebagian besar anak muda, di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini, Jakarta (25/04).

“Sekitar sembilan puluh persen anggota kami adalah anak muda yang berusia dua puluh tahunan, dengan harapan agar filsafat Wayang bisa sampai ke dunia anak muda,” ungkap FX Hadi Rudyatmo, Walikota Solo, sekaligus Pembina Wayang Orang Sriwedari Surakarta, usai pertunjukan di Theater Kautaman berkapasitas 1000 kursi.

IMG-20170426-WA0155
Foto Budi Ace (Indeksberita) : FX Hadi Rudyatmo di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta

Rudi juga mengungkapkan dukungan pemerintah  lagar Wayang Orang Sriwedari juga menjadi ikon dunia, sebagaimana Wayang mendapat pengakuan dan penghargaan di Badan Dunia PBB-UNESCO.

Ada 3 bentuk kegiatan utama yang dihelat oleh organisasi Sena Wangi dalam rangka melestarikan filsafat wayang dan sosialisasi pesan-pesan budi pekerti yang selalu menghiasi setiap kisah perwayangan, yakni: Sarasehan Filsafat Wayang dan Pancasila, Pameran Perlengkapan Wayang dan Buku-Buku Perwayangan serta Pertunjukan Wayang ‘Mintaraga’.

“Kami menyadari bahwa anak muda sekarang sebagian besar tidak lagi mengenal kisah pewayangan dengan baik. Oleh karena itu, setelah kegiatan ini, kami akan merumuskan hal-hal yang disukai anak muda u tuk diadaptasi kedalam berbagai kisah pewayangan agar lebih menarik bagi kaum muda,” cetus Suparmin Sunjoyo, Ketua Umum Sena Wangi, disela-sela Sarasehan.

Suparmin menambahkan, diantara yang perlu ditambahkan dalam pertunjukan wayang agar disukai kaum muda misalnya: menggunakan sisipan bahasa Indonesia, durasi pertunjukan yang lebih singkat dan padat, serta memilih tema-tema budi oekerti dengan kemasan kisah percintaan yang disukai kaum muda.

Drs Suparmin
Foto Budi ACE (Indeksberita) : Drs Suparmin Sunjoyo Ketua Umum Sena Wangi, Seknas Pewayangan Indonesia

Senada dengan itu, Produser Eny Sulistyowati mengemukakan soal pentingnya memperhatikan durasi pertunjukan agar penetrasi ke anai muda jadi lebih mudah.

“Kami menyadari masyarakat sekarang tidak bisa berlama-lama untuk menikmati pertunjukan wayang. Untuk itu kami menghadirkan pementasan yang singkat, menarik tapi tidak meninggalkan benang merah,” tandas Eny, Pimpinan Triadhika Production yang memproduseri pertunjukan wayang tersebut.

Menurutnya formula yang tepat untuk membuat kaum muda bisa menyukai wayang, selain soal durasi dan tema, jauh lebih penting adalah melibatkan mereka secara langsung dalam pementasan wayang, baik sebagai panitia maupun sebagai pemeran dalam beragam tokoh tokoh perwayangan.

“Dengan begitu mereka semakin bersemangat menjaga wayang sebagai budaya adiluhung ini, tanpa harus menggunakan istilah Wayang Gaul, dengan sendirinya mereka akan berada dalam atmosfer tradisi keluhuran budi pekerti ini,” pungkas Eny.

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari berdurasi 120 menit ini, juga didukung seniman Wayang profesional lainnya, diantaranya, Wasi Bantolo (berperan sebagai Kiratarupa), dan Heru Purwanto (Batara Guru).

Lakon ‘Mintaraga’ mengisahkan perjalanan Arjuna ketika menjadi pertapa bernama Ciptoning (Mintaraga). Dalam pertapaan, Arjuna banyak menghadapi berbagai ujian dan cobaan oleh Dewa. Hal ini untuk menguji seberapa besar keteguhan hatinya.

IMG-20170426-WA0154
Foto Budi ACE (indeksberita) : Pentas Wayang Orang Sriwedari di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta (26;/4/2017)

Lakon Mintaraga memberi tafsir bahwa ketika seseorang mencapai tingkatan tertinggi kembali dipertanyakan, apakah pencapaian tersebut telah sesuai dengan kodratnya sebagai manusia, dalam arti sebagai titah yang harus mengemban tugas kemanusiaan secara utuh. Hidup selaras, serasi dan seimbang terhadap sesama manusia.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait