Kamis, 30 Juni 22

Vaksin Palsu Terungkap, Kemenkes Rencanakan Vaksinasi Ulang

Terungkapnya peredaran vaksin palsu untuk anak yang telah berlangsung selama 13 tahun, telah mendorong Kementerian Kesehatan untuk melakukan vaksinasi ulang.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek bahkan bersikeras untukĀ  menggelar vaksin ulang. Vaksin palsu kemungkinan mengandung cairan infus yang dicampurkan dengan gentacimin (antibiotika), sehingga tidak membantu tubuh anak mendapatkan kekebalan.

“Oleh karena itu, tetap Kemenkes harus mengulangi pemberian imunisasi anak-anak yang terkena vaksin palsu ini,” kata Menkes dalam rapat kerja bersama Komisi IX dan lembaga-lembaga terkait di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (27/6/2016).

Terkait penyelidikan kasus khususnya untuk meneliti kandungan cairan vaksin palsu, Nila mengatakan Kemenkes akan meminta vaksin palsu yang disita Bareskrim Polri. Sementara, Tengku Bahdar Johan Hamid selaku Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan bahwa pihaknya telah meminta sampel kepada Polri.

“Kalau pun kami sudah minta sampel dari mereka, karena ini barang sitaan kami harus menunggu prosedur Kepolisian,” kata Bahdar.

Seperti diketahui, pengungkapan kasus vaksin palsu ini berawal dari temuan penyidik Subdirektorat Industri dan Perdagangan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri di tiga wilayah, yaitu Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

Lewat operasi penggeledahan, penyidik Polri berhasil mengamankan barang bukti berupa 195 saset hepatitis B, 221 botol vaksin polio, 55 vaksin anti-snake, dan sejumlah dokumen penjualan vaksin. Sejauh ini, Polisi telah menetapkan 15 orang tersangka.

Pelaku terancam dijerat Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar dan Pasal 62 juncto Pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait