Kamis, 1 Desember 22

Usai Meninjau Proses Pencairan Program Keluarga Harapan, Mensos Ziarah ke Makam Sunan Bonang

Disela-sela kunjungan kerja di Jawa Timur, Menteri Sosial/ Mensos berziarah ke makam Sunan Bonang, Kabupaten Tuban. Kegiatan ziarah Mensos Khofifah Indar Parawansa ini, dilakukan usai meninjau proses pencairan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Pendopo Kabupaten Tuban, Senin (22/5) yang berlokasi sekitar 500 meter dari komplek makam, berdekatan dengan alun-alun dan Masjid Jami’ Tuban.

“Komplek makam Sunan Bonang ini merupakan salah satu destinasi unggulan untuk wisata religi di Jawa Timur. Semua fasilitas dan pelayanan tersedia. Mulai dari kios-kios suvenir, area pejalan kaki yang lebar dan teduh, area parkir yang memadai, tempat istirahat, tempat makan, tempat salat semuanya nyaman dan bersih, semua ditata dengan sangat baik,” puji Mensos.

Di sepanjang jalan menuju makam, terdapat lorong panjang yg di pinggirnya berderet kios-kios suvenir. Pedagang dan pengunjung berebut bersalaman dan berfoto bersama sang menteri. Satu per satu permintaan dilayani, Khofifah juga menyempatkan diri berbincang dengan mereka.

Khofifah memasuki kompleks makam salah satu Wali Sembilan sekitar pukul 16.40 WIB. Perempuan nomor satu di Kementerian Sosial ini diterima oleh ketua Yayasan Sunan Bonang KH A Mundzir dan mendapat hadiah buku sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Setelah itu, selama beberapa saat Mensos memanjatkan doa dalam makam yang merupakan peninggalan Islam Nusantara itu.

Pesan Keberagaman

Usai melakukan ziarah, kepada wartawan Mensos mengatakan Sunan Bonang adalah sosok yang patut diteladani atas upaya beliau  membangun harmoni antar umat beragama. Hal ini antara lain tampak dari adanya sejumlah tempat ibadah di sekitar alun-alun Tuban yang hingga saat ini masih berdiri tegak dan digunakan untuk beribadah. Bangunan masjid, klenteng, pura dan gereja yang membentuk seperti kompleks tersebut telah dibangun sejak jaman Sunan Bonang.

“Sunan Bonang merangkul orang-orang selain muslim tinggal yang tempat yang sama dan hidup dalam toleransi, rukun, serta damai. Ini yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sekarang. Ajaran beliau masih sangat relevan mengenai toleransi dan keberagaman. Kita memang berbeda-beda, tapi tetap satu Indonesia,” papar Mensos.

Bukti toleransi dan keberagaman  keberadaan tersebut tampak dalam Prasasti Kalpataru yang merupakan rangkuman dari buah pemikiran Sang Wali.

Pada prasasti setinggi 180 cm tersebut terukir empat tempat ibadah untuk agama berbeda-beda yakni masjid mewakili agama Islam, candi mewakili agama Hindu, Klenteng mewakili Tridharma (Budha, Tao dan Konghucu) serta wihara mewakili agama Budha. Satu lagi, terdapat arca megalitik atau kebudayaan mewakili pemujaan leluhur.

“Melalui prasasti tersebut kita bisa memaknai sebagai adanya ajaran dan kepercayaan yang berbeda-beda tidak membuat mereka terpecah-belah. Melalui sikap toleransi dalam masyarakat berbeda-beda agama itulah kenapa Islam dapat menyebar secara luas,” tambahnya.

Sunan Bonang dan Tombo Ati

Seperti diketahui Sunan Bonang merupakan putra Sunan Ampel buah perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putri dari Arya Teja, salah seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban.

Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 M dan wafat pada tahun 1525 M. Sunan Bonang dan Sunan Ampel merupakan dua dari Wali Sembilan.

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tombo Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang hingga kini sering dinyanyikan dan tak asing bagi umat Islam.

Tembang Tombo Ati bermakna penyembuh jiwa, menceritakan ada lima hal yang bisa dilakukan jika hati ingin tenang. Yaitu membaca Al Qur’an dan maknanya, menjalankan sholat malam, berkawan dengan orang sholeh, perut yang lapar (puasa) dan dzikir malam.

Sunan Bonang juga menggubah  sekaligus  menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut).

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam.  Sunan Bonang menguasai ilmu fiqih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, dan juga arsitektur.

“Salah satu warisan budaya yang dibawa oleh Sunan Bonang adalah prasasti Kalpataru yg menunjukkan kearifan lokal. Dimana pada saat itu berbagai agama Samawi dan kepercayaan lokal bisa hidup berdampingan secara harmonis. Hari ini kita perlu terus ingatkan toleransi dan keberagaman serta Tombo Ati,” tutup Mensos.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait