Jumat, 9 Desember 22

Untuk Memberdayakan Kaum Perempuan, Pemerintah Harus Bertindak Seperti Aktivis

Copenhagen, Denmark –  Strategi pelibatan perempuan secara langsung dalam perekonomian menunjukkan bahwa keuntungan investasinya jauh melebihi investasi kepada laki-laki, karena hasilnya digunakan bagi dirinya, keluarganya, komunitasnya bahkan untuk bangsanya.

Hal itu dikatakan mantan Menteri Keuangan Nigeria, Ngozi Okonjo-Iweala dalam panel bertopik “Girl’s and Women’s Lens on SDGs” Konferensi Women Deliver IV di Copenhagen, Denmark, Selasa (17/5/2016).

“Investasi di pembangunan tidak bersifat netral, pemerintah harus bertindak seperti aktivis untuk memberdayakan ekonomi perempuan dan gadis,” tegas Ngozi, yang disambut tepuk tangan meriah seluruh peserta.

Dalam panel tersebut Ngozi dan Vivian Onano yang mewakili pemimpin muda perempuan seperti mewakili perspektif lapangan. Sementara panelis lain, mantan PM New Zealand Helen Clark dan mantan PM Australia Julia Gillard, melengkapinya dengan perspektif konseptual.

Lanjut, Ngozi menceritakan tentang bagaimana strateginya memberi insentif berupa tambahan dana bagi menteri-menteri koleganya di Nigeria. Ngozi mendorong mereka agar mengimplementasikan pengarus-utamaan gender dalam program-program di kementerian mereka masing-masing.

“Ada lima menteri yang menjawab tantangan tersebut. Salah satunya adalah Menteri Pertanian yang membuat program voucher HP untuk menambah partisipasi perempuan di sektor pertanian,” ujarnya.

Delegasi Indonesia Eva K. Sundari bersama mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iweala di sela Konferensi Women Deliver IV, Copenhagen, Denmark, Selasa, 17 Mei 2016. (Foto: istimewa)
Delegasi Indonesia Eva K. Sundari bersama mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iweala di sela Konferensi Women Deliver IV, Copenhagen, Denmark, Selasa, 17 Mei 2016. (Foto: istimewa)

Menurut Ngozi, program itu dampaknya efektif,  yaitu berupa bertambahnya jumlah perempuan petani aktif yang mendapat pendampingan akses ke sejumlah bank.

Selain itu, Ngozi juga menginisiasi lomba entrepreneur khusus perempuan untuk membuat rencana bisnis. Program ini mendapat tanggapan dari 10 ribu perempuan sehingga mampu menciptakan pekerjaan pada lebih dari 10 ribu orang.

Dia menghentikan lomba sebelumnya yang didominasi pria, karena datanya menunjukkan bahwa  70% sektor UKMK dan setor informal melibatkan lebih banyak kaum perempuan.

Strategi yang disampaikan Ngozi didukung oleh panelis Vivian Onano dari Kenya. Onano merekomendasikan bahwa investasi kepada perempuan harus fokus pada kualitas (quality), keamanan (security), bimbingan (mentorship), dukungan (sponsorhip), dan jaringan (network).

Terkait, Julian Clark mengingatkan bahwa pemberdayaan perempuan di sektor pendidikan dan ekonomi merupakan kebutuhan, tapi hal itu tidak tercukupi. Hak seksual dan reproduksi yang tidak dijamin oleh negara akan menghilangkan semua investasi tersebut.

Menurutnya, maraknya perkosaan dan kemiskinan akut sehingga perempuan harus menjual diri mereka untuk mencukupi kebutuhan dasar, bahkan untuk biaya sanitasi dan biaya pendidikan seperti di  Negara-negara Afrika harus segera diakhiri.

“Hak seksual dan reproduksi inilah yang selalu diabaikan oleh banyak pemerintah,” tegas Clark.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait