Kamis, 11 Agustus 22

Trumph dan Clinton Saling Serang dalam Debat Pertama

Kandidat Presiden Amerika Serikat dari dari Partai Demokrat Hillary Clinton dan pesaingnya dari Partai Republik Donald Trump untuk pertama kalinya saling berhadapan dalam debat calon presiden Amerika Serikat pertama, Senin (26/9), di Hofstra University, Long Island, New York.

Setelah saling sapa satu sama lain dengan satu salaman dan satu senyum, kedua kandidat langsung terlibat dalam debat tentang ekonomi, saling serang kebijakan luar negeri, dan berulang kali saling menyela.

Masing-masing menuduh yang lain melakukan pemutarbalikan dan kebohongan dan mendesak para pemirsa memeriksa fakta di situs web mereka.

Clinton mengkritik kebijakan pajak pebisnis New York itu dan Trump menuduh sang mantan menteri luar negeri “hanya bicara, tanpa tindakan.”

“Saya merasa saya akan disalahkan untuk semua hal,” kata Clinton, perempuan pertama yang memenangi nominasi calon presiden di partai politik utama Amerika Serikat.

“Mengapa tidak?” Trump membalas.

Saat debat dibuka, mereka menyampaikan visi mereka tentang ekonomi Amerika Serikat.

“Rencana yang dikeluarkan Donald akan menurunkan seluruh perekonomian kembali. Dan faktanya akan menjadi versi pemangkasan pajak paling ekstrem, paling besar, bagi orang-orang dalam persentase teratas yang pernah terjadi di negeri ini,” kata Clinton.

Trump, di lain pihak, mengkritik kebijakan perdagangan Clinton dan mengatakan dia akan menyetujui perjanjian dagang dengan negara-negara Asia meski menentangnya sebagai kandidat.

“Anda sepenuhnya mendukung itu, kemudian anda dengar apa yang saya katakan, dan bagaimana buruknya itu, dan anda mengatakan, ‘Baiklah, saya tidak bisa memenangi debat’, tapi anda tahu bahwa kalau anda menang, anda akan menyetujuinya,” kata Trump.

Clinton membantah kritik itu. “Donald, saya tahu anda hidup dengan realitas anda sendiri, tapi itu bukan fakta,” kata Clinton (68).

Seperti laporan Reuters, moderator Lester Holt harus berjuang mengendalikan para kandidat dalam diskusi tentang kebijakan perdagangan yang tiba-tiba berubah menjadi perang melawan ISIS karena Trump menuduh Clinton memberikan informasi kepada musuh dengan mengungkap rencananya mengalahkan kelompok itu dalam situsnya.

Debat pertama dari tiga debat yang direncanakan antar kedua clon itu sudah menarik perhatian di tingkat nasional maupun internasional enam pekan menjelang pemilihan presiden 8 November mendatang.

Jajak pendapat menunjukkan keduanya bersaing ketat dengan jajak pendapat Reuters/Ipsos terkini, menunjukkan Clinton unggul empat poin persentase dengan dukungan 41 persen pemilih.

Debat 90 menit yang dimulai pukul 21.00 itu bisa menggoyang pemilih yang belum membuat keputusan dan pemilih independen yang belum menetapkan pilihan, demikian juga dengan pemilih kedua partai yang sampai sekarang belum memutuskan.

Jajak pendapat kedua Reuters/Ipsos yang dirilis Senin (26/9) menunjukkan, separuh warga Amerika Serikat yang punya hak pilih akan mengandalkan debat untuk membantu mereka membuat pilihan.

Lebih dari 61 persen mengharapkan debat sipil dan tidak tertarik pada kepahitan yang terlihat selama kampanye, demikian menurut Reuters.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait