Sabtu, 2 Juli 22

Terus Tunda Reshuffle Kebinet, Benarkah Jokowi Kena “Syndrome SBY?”

“Yang saya khawatirkan adalah apabila Jokowi terjebak dalam situasi syndrome SBY. Apa itu?

Mantan presiden dan presiden Indonesia saat ini mungkin “gerah” mendengar kata pengamat ini. Terkait reshuffle atau perombakan kabinet jilid dua yang hingga kini masih sebatas rumor dan spekulasi, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, mengkhawatirkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah kena “syndrome SBY “.

“Yang saya khawatirkan adalah apabila Jokowi terjebak dalam situasi syndrome SBY. Apa itu? Pengambilan keputusan yang ditunda, bolak balik. Jangan sampai Jokowi terjebak dalam situsi itu,” kata Syamsuddin dalam sebuah acara diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (23/7/2016).

Syamsuddin menambahkan, ketegasan putusan mengenai perombakan cabinet terkait dengan banyak hal. Yang paling menunggu tentu kondisi pasar yang berimbas pada stabilitas ekonomi nasional.

Penundaan, lanjut Syamsuddin, hanya akan menimbulkan ketidakpastian publik  yang pada akhirnya berdampak pada kondisi ekonomi dan politik.

Karena itu, Ia merasa aneh dengan sikap Jokowi yang terus menunda putusan mengenai perombakan kabinet jilid dua.

Ia menduga ada banyak pertimbangan politik yang menyebabkan Jokowi tak bisa segera mengambil keputusan. Termasuk diantaranya tekanan politik dari sejumlah parpol pendukung pemerintahan, termasuk parpol yang baru bergabung dengan koalisi pendukung pemerintah seperti Partai Amanat Nasional (PAN) dan Golkar.

Bahkan tekanan dari kalangan relawan dan publik pun menjadi pertimbangan Jokowi dalam merombak kabinet.

“Tapi keputusan harus tetap diambil. Tidak ada alasannya bagi Pak Jokowi untuk menunda pengambilan keputusan perombakan kabinet jilid dua,” ujar Syamsuddin.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin mengatakan, pernyataan Syamsuddin soal “Syndrome SBY”, tidak tepat.

Menurut Didi, berlarut-larutnya pengambilan keputusan perombakan kabinet saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat presiden RI lebih karena SBY ingin cermat dan melibatkan banyak pihak, sehingga agar pertimbangannya menjadi komprehensif dan tepat.

“Mengurus negara Indonesia, saya kira tidak bisa main-main. Tidak bisa kita tergesa-gesa,” tukas Didi.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait