Minggu, 26 Juni 22

Tentara Membunuh Wiji Thukul Sekali, Penulis Membunuhnya Berkali-kali

Wiji Thukul dinyatakan hilang sejak 1998. Ia bersama aktivis lndonesia lainnya mendapat penghargaan dari Associacao Dos Combatentes Da Brigada Negra (ACBN) Timor Leste. Namun ada wartawan senior lewat media sosial menulis soal Wiji Thukul dengan kejam.

Wiji Thukul dan beberapa aktivis Indonesia lainnya mendapat penghargaan dari ACBN yang diketuai mantan Perdana Menteri Xanana Gusmao. Fitri Nganthi Wani mewakili ayahnya menerima penghargaan dari Xanana Gusmao. Usai acara, sebuah akun Path seorang blogger bernama Ndorokakung mengutip pernyataan Xanana Gusmao dalam acara pemberian penghargaan itu.

Ndorokakung menulis, Wiji Thukul adalah orang Indonesia pemasok dan perakit bom yang dipakai oleh tentara Timor-Leste untuk melawan ABRI. Dia juga bilang bahwa Wiji Thukul datang membantu merakit bom ketika tentara Xanana kehabisan amunisi.
Maka gegerlah dunia media sosial bahkan media biasa. Mengapa wartawan senior itu bisa menulis dengan amat kejam? Mengapa kecepatan ia agungkan sehingga meninggalkan akurasi? Tak lama kemudian, protes berhamburan terutama di media sosial.

Wilson, sahabat Wiji Thukul yang juga menerima penghargaan di Dili menulis di Facebooknya dengat amat marah “Fitnah yg dilancarkan akun ndorokakung telah membuat keluarga wiji thukul sahabat saya menderita. Social media bisa melukai hingga ke hati. Kedua jempol anda menunjukan ukuran otak anda yg tak cukup untuk memasukan sebiji kacang kemanusiàn disana, karena otak ukuran dua jempol anda dipenuhi kotoran. Taik kau !”
Pernyataan keras Wilson sangat bisa dimengerti karena ia dekat dengan keluarga Wiji Thukul. Setiap ada acara atau kegiatan di Yogyakarta apalagi di Solo, Wilson selalu menyempatkan mengunjungi rumah Mbak Pon, istri Wiji Thukul di Solo. Sesekali Wilson memberi “pekerjaan” pesanan kaos sablonan yang dikerjakan Mbak Pon untuk menyambung hidup.

Pemimpin redaksi majalah Historia, Bonnie Triyana juga mengecam kecerobohan ndorokakung. Tulis Bonnie “Widji Thukul dibilang bisa merakit bom. Biar kata profesor yang cerita saya gak bakal langsung percaya pada dongeng seperti itu tanpa memverifikasinya terlebih dahulu. Apalagi kalau pernah baca riwayat hidup Thukul dan cerita penghilangannya, tentu tak sampai hati mempercayai berita murahan itu dan kemudian menyebarkannya. Urutan dongengnya aja udah gak masuk akal. Tapi dongeng terlanjur tersebar dan tak lama lagi gerombongan manusia dungu akan memamah-biaknya sebagai alat serangan kepada siapapun yang bergerak-berbareng seiring pemikiran Thukul semasa hidupnya. Hadeuh….”

Selain Wilson dan Bonnie, Made Supriatma, penulis yang tinggal di Amerika Serikat juga menyatakan berat untuk menerima pernyataan ndorokakung. Made tak mengerti apakah Wicak (ndorokakung) kenal secara pribadi dengan Wiji Thukul. Kalau kenal, atau minimal pernah ketemu, mustahil rasanya punya pandangan seperti ini. “Wiji Thukul itu berjuang lewat kata-kata. Sulit untuk aku membayangkan dia jadi gerilyawan pemasok dan perakit bom. Sama sulitnya untuk mencerna apakah ini kesalahan yang disengaja atau tidak. Ini sungguh bikin marah dan sedih secara bersamaan,” tambah Made.

Kemarahan publik makin lengkap ketika
kemudian secara resmi Nuno Corvello dari ACBN menegaskan, Xanana Gusmao tidak pernah mengatakan bahwa penyair Wiji Thukul yang merakit bom, atau pintar merakit bom. Selain itu, Xanana juga tidak pernah bilang Thukul mati terbunuh di perbatasan oleh anggota ABRI. Menurut penuturan dia, Wiji Thukul pernah membuat puisi yang didedikasikan kepada perjuangan rakyat Timor Leste. Thukul pun ikut terlibat aktif dalam demonstrasi menuntut proses demokratisasi di Timor Leste.

Sampai di sini kontroversi terjawab. Siapa sesungguhnya yang melakukan kesalahan. Di harian Kompas (19/3) diberitakan Wicaksono pemilik akun ndorokakung, meminta maaf kepada semua pihak terutama Wiji Thukul. Ia menyayangkan peredaran berita yang tak lengkap sehingga membuat salah paham banyak orang.

Apakah kontroversi berakhir? Rupanya belum. Wartawan majalah Tempo Mardiyah Chamim membuat status di Facebooknya dengan judul Maaf. Ia membelejeti ketidaktulusan ndorokakung tentang kata maafnya. Mardiyah Chamim menulis:

Poin 1, permintaan maaf, sudah dia lakukan tetapi hanya untuk ketidaknyamanan yang dia timbulkan. Tidak ada permintaan maaf untuk pokok persoalan, bahwa dia menyebarkan informasi secara sembrono tanpa cek dan ricek apa pun. Ini terkait dengan poin berikutnya.

Poin 2, tidak ada pengakuan bahwa dia salah. Wicak menyalahkan orang yang memotret status Path dan menyebarluaskannya. Bahkan, dalam salah satu penjelasannya, Wicak bilang bahwa yang men-skrin syut status Path-nya bisa dibilang berutang pada Wicak. Saya sungguh tidak paham logika di balik pernyataan ini.

Path, kita tahu, adalah media sosial. Wicak pun bukan orang yang tidak paham sosmed, hampir tiap hari dia bercuit tentang polwan cantik atau meledek sana-sini. Jadi, mustahil Wicak yang fasih soal sosmed tidak paham dampak yang bisa timbul begitu kita membagikan info via sosmed, meskipun Path sifatnya lebih tertutup dibanding FB dan Twitter.

Lagipula, skrin syut Path tersebut dibutuhkan untuk verifikasi ke pihak-pihak yang terkait. Jadi, orang yang screen capture Path Wicak sama sekali tidak bisa disalahkan.

Poin 3. Apakah Wicak bertanya kepada keluarga Wiji Thukul, apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki keadaan? Saya kok belum membaca ada langkah seperti itu, bukan begitu mas Wahyu Susilo? Dan, sebetulnya bukan hanya kepada keluarga Thukul, tetapi juga kepada publik.

Itulah kontroversi seputar kecerobohan ndorokakung terhadap Wiji Thukul. Media sosial memang membutuhkan kecepatan, namun meniadakan akurasi – cek and recek – sesungguhnya merupakan bencana. Tentara, bisa jadi membunuh Wiji Thukul hanya sekali. Namun penulis, seperti Wicaksono alias ndorokakung, bisa membunuh Wiji Thukul berkali-kali!

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait