Tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Mantan Tim SAR KM Peldatari Persilahkan Ratna Sarumpaet Menyelam

0
273
Kapal motor penyebrangan Danau Toba (SHAH)

Berbagai kecaman berdatangan kepada aktivis Ratna Sarumpaet yang menghardik Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan ditengah – tengah rapat membahas kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba. Ratna menghardik Luhut, saat upaya pengangkatan bangkai KM (Kapal Motor) Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, 18 Juni 2018 lalu, sedang dibahas.

Sahat Simatupang mantan anggota Tim Save And Rescue (SAR) turut berkomentar. Ia yang ikut terlibat pencarian Kapal Motor Peldatari yang tenggelam di sekitar Pelabuhan Tomok, Samosir tahun 1997 silam mengatakan, Danau Toba punya karakteristik unik yang sulit ditaklukkan oleh penyelam. Menurutnya, Selain kedalaman danau yang lebih dalam dari laut, tekanan udara dan suhu di danau yang sangat dingin membuat penyelam mengalami kesulitan.

“Itu yang terjadi saat kami berupaya mencari korban KM Peldatari yang tenggelam di sekitar Pelabuhan Tomok.” kata Sahat kepada wartawan, Selasa 3 Juli 2018.

Sahat mengenang saat bergabung dengan tim penyelam yang dipimpin Dr. Ezra Munte mantan Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Utara mencari korban KM Peldatari.” Pak Ezra Munthe jagoan menyelam. Dia memperoleh tanda kehormatan menyelam (diving) dari Angkatan Laut. Sepanjang pencarian KM Peldatari kami menemukan banyak keanehan Danau Toba.” ujar Sahat.

Hal aneh itu, sambung Sahat adalah tumbuhan mirip ganggang yang tumbuh lebat di dasar danau. “Tumbuhan itu sangat panjang dan meliuk – liuk didasar danau. Selain itu dasar danau yang dingin dan gelap menyulitkan pencarian.” ujar Sahat.

Sahat menceritakan pengalaman pencarian korban KM Peldatari yang sangat sulit. Untuk melihat posisi kapal dan posisi korban, penyelam,sambung Sahat, harus memakai senter bawah permukaan hallogen.

“Cahaya senter hallogen setara 1 juta cahaya lilin. Namun posisi kapal dan mayat sulit dijangkau cahaya. Dasar danau gelap dan air sangat keruh ketika itu,” ujar Sahat.

Sampai akhir penutupan pencarian KM Peldatari yang dilakukan Bupati Tapanuli Utara saat itu TMH Sinaga, ujar Sahat, diperkirakan ada 70 an korban yang terjebak di dalam kapal. “Rata – rata terjebak ditimpa tenda ( terpal) kapal,” ujar Sahat.

Sampai upacara penutupan pencarian dilakukan Bupati Tapanuli Utara TMH Sinaga karena saat itu Samosir belum jadi kabupaten, sambung Sahat, mayat penupang KM Peldatari tidak bisa diangkat dari dasar danau meski bermacam alat sudah dicoba. Kelebihan penumpang dan keselamatan berlayar yang kerap diabaikan nakhoda,ujar Sahat menjadi sumber masalah saat berlayar di Danau Toba.

“Saya mendapat informasi KM Sinar Bangun kelebihan penumpang dan sepeda motor yang dijerjerkan menutupi tangga sebagai akses penumpang naik turun ke lantai dua kapal. Peristiwa ini persis seperti peristiwa tenggelamnya KM Peldatari karena kelebihan penumpang dan tertutupnya salah satu tangga kapal karena penumpukan sepeda motor. Akhirya sekitar 100 meter menjelang Pelabuhan Tomok penumpang dilantai dua KM Peldatari beramai – ramai turun dari salah satu tangga menyebabkan kapal oleng dan tenggelam. Kemungkinan KM Sinar Bangun juga mengalami kondisi yang sama ditambah cuaca buruk.” ujar Sahat.

Karena faktor sulitnya morfologi bawah Danau Toba, Sahat menyarankan kepada Ratna Sarumpaet untuk menyelam di Danau Toba. “Agar Ratna Sarumpaet tahu tingkat kesulitan mencari korban kapal tenggelam di Danau Toba meski dengan alat canggih,” tutur Sahat.

Kepada Ratna Sarumpaet, ujar Sahat, disarankan jangan menambah gaduh suasana ditengah keluarga korban KM Sinar Bangun. “Kalau ingin dan ikhlas atas nama kemanusiaan membantu mencari korban KM Sinar Bangun, Insya Allah pasti ketemu. Tapi kalau niatnya lain, pasti tidak akan ketemu jalan keluarnya,” tutur Sahat yang juga Ketua Relawan Almisbat Sumatera Utara.