Selasa, 24 Mei 22

Tembakau, Temanggung, dan Tertawa

Wacana kenaikan harga rokok per pak menjadi Rp 50.000, membuat heboh di media sosial, baik yang setuju maupun yang kontra. Masing-masing mengelar argumen dari yang ilmiah hasil kajian sampai sekadar guyonan. Mari kita membahas masalah rokok tanpa harus mengerutkan dahi.

Pada tahun 1970/80an petani tembakau di Lamuk, Tembarak, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah lebih makmur dari petani komoditas lainnya. Setiap musim panen atau mbakon, petani tembakau bertambah kaya. Saat itu sering terjadi petani membeli kulkas meski di rumahnya belum ada listrik. Kulkas akhirnya berfungsi menjadi lemari pakaian.

Setiap mbakon ekonomi di Temanggung sangat bergairah. Dana triliunan rupiah beredar dari tembakau. Dipastikan semua orang kecipratan rezeki tembakau apapun profesinya.  Toko otomotif, penjualannya naik tajam. Sering kejadian seorang petani dengan baju lusuh membawa tas kresek masuk sebuah dealer mobil. Penjaga dealer yang bukan asli Temanggung hampir mau mengusir petani yang tampak miskin itu. Namun bosnya mencegah. Tanpa tawar menawar, sebuah mobil keluaran terbaru, saat itu, pindah tangan, dibawa pulang petani tembakau yang membawa uang jutaan dalam kresek.

Cerita makmurnya petani tembakau Temanggung tampaknya sudah berakhir. Kemasyhuran tembakau Srintil kini sulit diulangi. Belum lagi merebaknya tembakau Temanggungan. Tembakau Temanggungan adalah tembakau luar Temanggung yang dibawa masuk Temanggung dan dicampur sebagian tembakau Temanggung lalu dijual mengaku tembakau Temanggung. Belum lagi masuknya tembakau impor dari China yang membuat harga tembakau lokal jatuh.

Ada cara gampang untuk melihat petani tembakau kini lebih sulit dibanding dulu. Lihat saja, dulu ketika petani panen, orang-orang pabrik rokok atau tengkulak berebut datang menghampiri dan membeli dengan harga tinggi. Kini begitu panen, petani harus menjual sendiri ke tengkulak atau perwakilan pabrik rokok. Dan harga ditentukan pembeli.

Temanggung tidak (belum) bisa dipisahkan dari tembakau. Setiap lima tahun sekali ada pilkada, sang calon bupati pasti merangkul dan berjanji akan memperjuangkan kepentingan petani tembakau. Bupati harus peduli dengan nasib petani tembakau. Jika tidak peduli tembakau, bisa repot. Begitu juga tokoh agama. Saat ada wacana MUI membuat fatwa haram merokok, di alun-alun Temanggung digelar aksi yang dihadiri ribuan petani tembakau. Seorang tokoh ulama lokal berorasi dengan lantang, “Saudara-saudara udud niku mboten (merokok itu tidak) haram,” katanya sambil sesekali mengisap rokok di podium.

Perlu diketahui, umumnya tokoh agama Temanggung dari kalangan NU. Semua tahu para kyai NU sangat akrab dengan rokok. Konon bedanya orang NU dengan Muhammadiyah (yang mendapat aliran dana kampanye antirokok dari Blumberg) dalam soal merokok ketika membaca tulisan NO Smoking.  NU dulu ditulis NO (Nahdhatul Oelama) sehingga membacanya: orang NU boleh merokok.

Pada aksi yang lain, saat menentang Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) berkaitan dengan tembakau sebagai zat adiktif, juga di tempat yang sama, dihadirkan beberapa orang yang sudah sepuh. “Mbah umur jenengan pinten (berapa)?” tanya pembawa acara. “Wolung puluh (delapan puluh),” jawab lelaki tua itu. “Tasih ses, ngudud (masih merokok) mbah?” tanya MC lagi. “Isih, lha iki gek ngudud,” jawabnya disambut tepuk tangan dan tawa meriah massa. Beberapa orang sepuh lain juga ditanya serupa.

Pada 2011, Prodi Ilmu Komunikasi STPMD “APMD” Yogyakarta, mengadakan lokakarya dengan menghadirkan sebelas bupati atau sekda kabupaten penghasil tembakau di Jateng dan DIY, membahas RPP. Ada satu sesi dengan tiga pembicara, seorang profesor pertanian dari IPB, Ketua Asosiasi Petani Tembakau (APTI) Jawa Tengah dan Sekda Temanggung dan saya sebagai moderator. Ada seorang peserta berbisik, “Ini yang di depan kok orang Temanggung semua ya, seperti kegiatan di Temanggung saja he he he.”

Kini sebagian petani tembakau mulai beralih ke tanaman kopi. Salah satunya adalah Mukidi. Ia anak petani tembakau asal Dusun Jambon, Kecamatan Bulu, lereng Gunung Sumbing, Temanggung. Mukidi mempunyai tiga kebun kecil mulai dari ketinggian 900 dpl hingga ketinggian 1457 dpl. Ia menghasilkan kopi arabika tanpa memakai pupuk kimia di lahannya, Namun ia juga menyediakan kopi robusta dari petani lain yang didampingi. Pada mulanya ia tak disukai para tetangga karena menanam kopi. Namun karena komoditas kopi sedang baik di pasar (kafe didirikan di mana-mana), Mukidi mulai menginspirasi para tetangga dan masyarakat sekitar. Ia bahkan pernah mendapat nominasi sebagai pemuda berprestasi oleh SCTV.

Kopi Mukidi jenis arabika konon rasanya unik. Ada rasa tembakau pada kopi ini saat diseruput, sehingga kopi Mukidi makin dicari. Rumah Kopi Mukidi, kini seperti laboratorium pertanian sekaligus wirausaha, karena banyak didatangi sesama petani, pengusaha kopi pemula sampai mahasiswa KKN. Para tetangga akhirnya mulai mengikuti jejak Mukidi. Namun Mukidi malah bingung, “Waduh jangan semua pindah ke kopi, nanti rasa tembakaunya jadi hilang he he he.”

Saya pertama mengenal rokok dengan mencoba rokok Tingwe (ngelinting dewe, melinting sendiri) milik ayah saya. Saat itu, akhir 1970an, di Temanggung, umumnya setiap rumah selalu sedia tembakau dan kertas lintingan, untuk dikonsumsi sendiri atau tamu. Tingwe terdiri dari tembakau dan cengkeh. Jika ingin rasa lain, setelah tembakau dan cengkeh digulung, kertasnya dileleti ampas kopi.

Setelah tingwe, di Jakarta saya berganti banyak merek dari Djarum Super, Filtra, Marlboro, Djisamsoe, sampai Djisamsoe Filter. Pada saat di sidang di Pengadilan Negeri di Jakarta Pusat, kasus penghinaan presiden, 1995, saya sering dihadiahi dua bungkus Djisamsoe oleh Kardiman, seorang intel Kramat V yang selama ini rajin menginteli aktifitas Pijar Indonesia. Pengalaman lain, beberapa kali merokok kretek di luar negeri selalu langsung mendapat reaksi: “Are you from Indonesia? I like kretek but too strong for me.”

Saya berhenti merokok pada 2002 begitu mempunyai anak pertama. Pada mulanya dilarang merokok di dalam rumah, takut bayinya batuk. Lalu dilarang menggendong bayi setelah merokokl karena mulutnya bau. Wah mau dekat dengan anak kok susah amat. Saat itu juga saya memutuskan berhenti merokok. Meskipun sudah tak merokok namun saya tak antirokok apalagi  antitembakau, salah satunya karena saya orang Temanggung. Bagi saya merokok itu hak setiap orang sementara hidup sehat itu pilihan.

Saya beruntung bisa berhenti merokok secara cepat tanpa efek samping. Ada seorang kawan dibantu dokter bisa berhenti merokok tetapi ada efek sampingannya. Kata dokter, “Coba setiap kamu akan merokok, rokok kamu masukkan ke pantat sebelum dinyalakan dan dihisap.” Sebulan kemudian ia bertemu dokter, “Bagaimana, kamu sudah berhenti merokok?” tanya dokter. “Betul dok, saya sudah berhenti merokok, tapi ada kebiasaan baru, memasukkan jari ke pantat dan mengisapnya….”

Naiknya harga rokok diperkirakan akan menciptakan tiga jenis perokok. Pertama, orang yang membawa rokok tanpa membawa korek api, ini namanya praktis. Kedua, orang yang selalu membawa korek api tanpa membawa rokok, ini namanya ekonomis. Dan terakhir, orang yang tak membawa rokok maupun korek api, tetapi mau merokok juga, ini namanya: ngemis!

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait