Jumat, 9 Desember 22

Tangkal Radikalisme dan Terorisme, Polmas Lebih Efektif

Jakarta – Pendekatan represif bukanlah cara paling efektif untuk menangani radikalisme dan terorisme. Melainkan dibutuhkan pendekatan yang membangun kerjasama atau sinergitas serta kemitraan yang erat dengan masyarakan, antara lain melalui pemolisian masyarakat (Polmas). Pendekatan ini dapat membangun kesadaran masyarakat betapa berbahayanya radikalisme dan terorisme.

Penilaian itu dikatakan Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Yopik Gani dalam diskusi bertajuk “Radikalisme dan Terorisme di Indonesia” yang digelar Ikatan Sarjana Katholik Indonesia (ISKA) di Jakarta, Sabtu (30/4).

“Polmas mengusung falsafah pemolisian yang memberdayakan dan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menangkal segala ancaman Kamtibmas,” katanya.
Yopik menambahkan, dalam Polmas masyarakat menjadi subjek dalam upaya-upaya penangkalan, pencegahan dan penanggulangan ancaman dan gangguan Kamtibmas. Sedangkan Polri sebatas katalisator yang membantu masyarakat memecahkan masalahnya. Dengan pendekatan Polmas penanggulangan radikalisme dan terorisme hadir di lingkungan masyarakat.

“Singkatnya, Polmas dapat membangun kesadaran setiap warga masyarakat menjadi polisi bagi dirinya sendiri dan lingkungannya,” ujarnya.

Sementara itu, Presidium Bidang Hukum Dan HAM ISKA, Hargo Mandirahardjo, mengatakan penanganan radikalisme dan terorisme harus menjadi prioritas bagi upaya penciptaan kondisi rasa aman bagi masyarakat. Terlepas apapun yang menjadi motif tindakan teror oleh berbagai kelompok di Indonesia, upaya penanganan harus dilakukan secara komprehensif dan integral.

“Upaya untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme merupakan tugas berat yang harus dipikul oleh negara, namun peran serta masyarakat sangat penting dalam upaya penanganan radikalisme dan terorisme tersebut,” ujar Hargo.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait