Sabtu, 3 Desember 22

Tanggap Darurat Banjir Bandang Subang 7 Hari, 6 Tewas dan 388 Mengungsi

Subang – Penanganan darurat banjir bandang di Subang terus dilakukan hingga 7 hari ke depan atau sampai 29 Mei 2016. Fokus utama selama masa tanggap darurat adalah penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, dan perbaikan darurat dari dampak banjir bandang.

Data terakhir korban banjir bandang yang menerjang Kampung Sukamukti, Desa Sukakerti, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat pada Minggu (22-5-2016), telah menyebabkan 6 orang tewas, 5 orang luka berat, 2 orang luka ringan, dan 103 KK (388 jiwa) mengungsi.

Ke-6 orang yang tewas itu adalah Parni (50 tahun), Eni (45), Nabilah (7), Musa (55), Mae (17) dan Rizal (10). Lima orang korban luka berat adalah Amen (55 tahun), Raza (14 bulan), Makmur (47), dan 2 orang masih pendataan. Sedangkan dua orang luka ringan adalah Angga (1) dan seorang dalam pendataan.

Belum terbentuknya BPBD Kabupaten Subang menyebabkan penanganan darurat dilakukan Satlak PB Kabupaten Subang yang tidak memiliki fungsi koordinasi, komando dan pelaksana seperti yang dimiliki oleh BPBD.

Untuk penanganan darurat, BPBD Provinsi Jawa Barat dibantu oleh TNI, POLRI, Basarnas, TAGANA, PMI dan warga melakukan proses evakuasi dan pencarian korban hilang.

BPBD Provinsi Jawa Barat bersama Basarnas, Satlak PB Kab. Subang, TNI, Polri, Tagana, Relawan, PMI, dan Masyarakat melakukan evakuasi korban selamat ke Balai Desa dan korban luka dibawa ke puskesmas terdekat. Korban meninggal dunia sudah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

BPBD Prov. Jabar telah memberikan bantuan sandang dan pangan bagi korban berupa tambahan gizi 120 paket, lauk pauk 120 paket, makanan siap siap saji 120 paket,  air mineral 10 dus, selimut 50 lembar.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menghimbau masyarakat untuk waspada karena potensi hujan ekstrem masih tinggi. Banjir dan longsor masih mengancam banyak wilayah. Apalagi tahun ini diperkirakan La Nina menguat sehingga diperkirakan akan terjadi musim kemarau basah.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait