Rabu, 6 Juli 22

Survey LSI Deny JA Periode Januari 2018 : PDIP dan Golkar Pemenang, Hanura Terancam Keluar

Melalui rilis terbarunya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA meprediksi bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar akan memenangi Pemilu 2019 mendatang.  Survey LSI Deny JA Periode Januari 2018 tersebut juga memprediksi Hanura akan terlempar dari parlemen.

“Kedua partai tersebut (PDIP dan Partai Golkar) berpotensi besar memenangi pemilu. Saat ini, elektabilitas PDIP sebesar 22.2 %, lebih besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014 yaitu 18.95 %. Elektabilitas Partai Golkar sebesar 15.5 %, lebih besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014 yaitu sebesar 14.75 %. Elektabilitas partai lainnya rata-rata dibawah perolehan suaranya di pemilu 2014,” demikian salah satu kutipan rilis yang diterima Redaksi pada hari Rabu (24/1/2018).

Denny JA juga menyebutkan, untukk pertama kali, Golkar mampu meraih dukungan diatas perolehan suaranya di pemilu 2014. Pada sejumlah survei sebelumnya, elektabilitas partai Golkar justru mengalami penurunan. Terutama ketika kasus E KTP mencuat dan melibatkan Setya Novanto, mantan ketua umum Partai Golkar.

“Pasca pergantian kepemimpinan, elektabilitas partai Golkar mulai membaik dan menunjukan tren kenaikan. Pada survey bulan Agustus 2017, elektabilitas partai Golkar saat itu sebesar 11.6 %, di peringkat ketiga dibawah partai Gerindra. Pada Desember 2017, elektabilitas Golkar naik menjadi 13.8 %, dan Januari 2018 naik lagi menjadi 15.5 %,” imbuhnya.

Sementara itu, elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan. Pada survei LSI Agustus 2017, Denny JA mengungkapkan elektabilitas PDIP berada di angka 28.3 %. Naik cukup besar dari perolehan suaranya di pemilu 2014. Pada Desember 2017, elektabilitas PDIP justru mengalami penurunan yaitu di angka 22.7 %. Dan saat ini, Januari 2018, elektabilitas PDIP sebesar 22.2 %.

Alasan PDIP mengalami penurunan sedangkan Golkar mengalami kenaikan, menurut Denny adalah karena pemilih yang sebelumnya “lari” ke partai lain terutama PDIP, kembali ke “kandang” Golkar.

“Migrasi pemilih antara PDIP dan Golkar bisa terjadi karena kedua partai ini memiliki platform partai yang sama yaitu nasionalis, dan juga memiliki basis dukungan tradisional yang sama yaitu pemilih menengah bawah (wong cilik),” paparnya.

Alasan kedua adalah sosok Ketua Umum Golkar pengganti Setya Novanto yakni Airlangga Hartarto dianggap mampu memberi harapan baru bagi partai Golkar. Airlangga yang dikesankan bersih dan berintegritas juga dianggap mampu membangun kembali kredibilitas partai yang sebelumnya sempat terpuruk diterpa kasus mega korupsi e-KTP.

Alasan terahir adalah 3 (tiga) program pro rakyat yang dikampanyekan oleh partai Gokar dibawah kepemimpinan Airlangga Hartarto disukai luas oleh pemilih. Tiga Program pro rakyat tersebut rata-rata diatas 80 % tingkat kesukaan pemilih. Tiga program pro rakyat ini juga yang menarik kembali simpati pemilih wong cilik.

Sementara itu Partai Gerindra juga diprediksi mempunyai peluang untuk menjadi peringkat 2 atau bahkan menjadi pemenang pemilu apabila Prabowo Subianto sukses sebagai capres atau cawapres. Faktor figur dan ketokohan Prabowo masih kuat pengaruhnya mendongkrak suara partai tersebut.

Sedangkan PKB dan Partai Demokrat menurut SLI akan bersaing di posisi No.4. Survei menunjukan elektabilitas partai Demokrat saat ini sebesar 6.2 %. Sementara PKB sebesar 6.0%. Perbedaan elektabilitas kedua partai ini hanya dalam hitungan nol koma. Di sejumlah survei LSI sebelumnya juga menunjukan kedua partai ini bersaing dan saling salip dalam peringkat 4 dan 5.

“Manuver Muhaimin (PKB) dan AHY (Demokrat) sebagai capres/cawapres di pemilu 2019 nanti juga akan mempengaruhi elektabilitas kedua partai,” ungkapnya.

Sementara hasil survey SLI tersebut juga mengungkapkan bahwa 5 (lima) parpol yakni PPP, Nasdem, PAN, PKS dan Hanura masih dalam posisi belum aman untuk lolos Parliamentary threshold (PT). Dengan PT pada pemilu 2019 telah ditetapkan sebesar 4 %, lajunt Denny kelima partai tersebut saat ini mempunyai dukungan dibawah 4% kecuali NasDem yang mempunyai dukungan 4,2% di Parlemen.

“NasDem di survei ini, memperoleh dukungan sebesar 4.2 %. Namun karena margin error survei ini adalah 2.9 %, maka Nasdem juga tentunya belum aman dari batas minimal PT 4 %,” paparnya.

Dari 5 partai lama yang belum aman lolos PT, Hanura berada dalam kondisi yang lebih kritis. Dalam tiga survei terakhir LSI Denny JA, elektabilitas Hanura selalu dibawah 4 %, bahkan dibawah 2 %. Artinya partai Hanura terancam terlempar dari parlemen, dan masuk kategori partai gurem, karena memperoleh dukungan dibawah 2 %.

Survei nasional ini adalah survei nasional reguler LSI Denny JA. Responden sebanyak 1200 dipilih berdasarkan multi stage random sampling. Wawancara tatap muka dengan responden dilakukan serentak di 34 propinsi dari tanggal 7 sampai tanggal 14 Januari 2018.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait