Minggu, 25 September 22

Survey LSI: 53.80 persen Warga Jakarta Setuju Ahok Maju Lewat Parpol

Sebanyak 53,80 persen responden berpendapat setuju jika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memilih jalur partai politik dalam pencalonan sebagai gubernur pada Pilkada DKI Jakarta, Februari 2017. Demikian salah satu temuan survey terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dipaparkan peneliti senior LSI, Adjie Alfaraby kepada pers di Jakarta, Selasa (28/6/2016).

Adjie mengatakan,  hanya sebesar 32,30 persen responden yang menyatakan tidak setuju jika Ahok maju melalui partai politik. Sementara 13,90 persen responden tidak menjawab atau tidak tahu.

“Responden yang mendukung Ahok lewat jalur partai merata di semua segmen pemilih, baik laki-laki, perempuan, pemilih pemuda maupun lansia,” ujarnya.

Survey juga menunjukkan, ada 3 alasan pencalonan Ahok lewat jalur partai lebih menguntungkan. Pertama, memudahkan Ahok mewujudkan pemerintahan yang kuat dengan dukungan mayoritas parlemen.

Kedua, Ahok terhindar dari kisruh lebih dalam menghadapi DPRD yang menyulitkan gubernur soal anggaran, perda dan pengawasan. Dan ketiga, Ahok bisa lebih fokus dengan aneka program inovatifnya karena didukung partai politik.

Adjie menambahkan, Ahok cukup mudah untuk maju lewat partai, karena ia saat ini didukung tiga parpol yaitu Golkar, NasDem, Hanura dengan total wakil sebanyak 24 kursi di DPRD DKI. Jumlah ini lebih dari cukup sebagai syarat pencalonan pilkada DKI yaitu 20 persen dari 106 kursi DPRD DKI, setara dengan 22 kursi.

“Untuk menguasai mayoritas DPRD DKI, Ahok membutuhkan minimal 50 persen +1, atau sama dengan 53 kursi. Jika kursi PDIP sebanyak 28 kursi ditambah 24 kursi (Golkar, Hanura NasDem) dan satu partai berbasis Islam (PAN atau PKB) memiliki enam kursi membentuk koalisi pro-Ahok, maka dukungan Ahok akan menguasai mayoritas DPRD DKI sebanyak 54 kursi.” katanya.

Oleh karena itu, kata Adjie, Ahok harus mendapatkan koalisi besar di DPRD DKI. Hal tersebut bisa diperoleh Ahok bila bersedia mengembangkan kepemimpinan yang akomodatif, walau tetap tegas dengan sikap antikorupsi.

“Saat ini semua pilihan kembali ke Ahok, apakah memilih melalui jalur independen atau partai politik. Jika melanjutkan memilih jalur independen dan terpilih, maka Ahok akan kembali mewarisi pemerintahan yang ‘terbelah’, yaitu eksekutif yang mendapatkan perlawanan mayoritas legislatif (DPRD),” kata Adjie.

Sementara itu, LSI juga menemukan bahwa elektabilitas Ahok (42,7%) masih tertinggi diantara kandidat lain seperti Yusril Ihza Mahendra (8,2), Tri Rismaharini (5,2), Sandiaga Uno (3,6), Djarot Saiful Hidayat (1,5), Sjafrie Sjamsoedin (1,2) dan lainnya (1,8), serta yang belum memutuskan (35,8 persen).

Survei LSI dilakukan 22-26 Juni 2016 menggunakan metodologi “multistage random sampling”,  dengan 440 responden se-Jakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui tatap muka, wawancara dan penyebaran kuesioner. Survey diklaim memiliki tingkat kesalahan sekitar 4,8 persen.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait