Selasa, 24 Mei 22

Surat Terbuka untuk Jessica…

Kasus Pembunuhan Mirna

Jessica…

Semoga saat membaca surat ini kamu dalam keadaan sehat. Jadi bisa menjalani pemeriksaan yang tengah dikebut oleh polisi. Tentu kamu sudah tahu, pertanyaan pertama penyidik adalah mengenai kesehatan. Jika kamu sedang tak enak badan, (biasanya) pemeriksaan akan ditunda.

Aku tak mengenal dirimu begitu juga sebaliknya. Aku menulis surat ini karena semata-mata pernah mengalami nasib seperti kamu saat ini. Aku sekadar ingin berbagi pengalaman. Sudah barang pasti aku tak akan menyinggung tentang kasusmu. Itu biarlah urusan polisi dan pengacaramu.

Sengaja aku memanggilmu Jessica. Bukan dengan inisial seperti yang sepantasnya dilakukan media ketika memberitkan kasus kriminal. Bukankah media wajib mengedepankan asas praduga tak bersalah? Kamu tahu gak sih, katanya awak media di Indonesia pada gak berani menyebut inisial nama kamu. Namamu Jessika Kumala Wongso, harusnya inisialnya JKW. Kamu tahu kan siapa JKW? He he he

Jessica…

Masa penahanan di Rutan Polda adalah masa yang paling tidak enak (memangnya ada rutan yang enak?). Pertama karena kamu baru pertama kali ditahan, jadi masih serba belum terbiasa. Kedua, di polda kamu sedang diperiksa secara marathon oleh penyidik polisi. Karena polisi hanya punya 20 hari untuk menahan kamu ( he he tapi bisa diperpanjang lho). Di Rutan Polda mungkin kamu tak akan mengalami masalah soal makanan. Tapi mungkin kamu akan kurang kena sinar matahari. Nah untuk yang satu ini berusahalah, kalau bisa, kamu cari kesempatan sedikit berjemur di pagi hari. Kesehatan dan kebugaran itu penting lho.

Sebaiknya kamu saat ini fokus pada pemeriksaan polisi. Jangan pikirkan yang lain. Anggap angin lalu tentang pemberitaan kamu di media massa. Apalagi di media sosial. Kamu pasti sudah tahu kan ada banyak meme tentang kamu. Ada gambar kamu lengkap dengan tulisan, “Ngopi yuk! Gw yang traktir!” Atau ada kutipan ucapanmu kepada Mirna yang diduga didapat dari WA kamu. Kamu pasti tahu orang Indonesia itu kreatif membuat plesetan dan joke. Ingat peristiwa bom di Thamrin? Setelah itu di media sosial heboh soal polisi yang ganteng-lah, sepatunya polisi-lah dan hal-hal yang gak penting lainnya.

Jessica…

Akan tiba saatnya kamu dipindah dari Rutan Polda ke Rutan Pondok Bambu. Di sana kamu akan bertemu Ratu Atut, Angelina Sondakh, Damayanti Wisnu Putranti, Dewi Yasin Limpo dan lain-lain. Jangan kaget dan tersinggung ya, biasanya saat pertama kali kamu dipindah, kamu akan diperiksa, digeledah habis oleh petugas rutan dan tamping. Tamping adalah napi yang bekerja membantu petugas rutan. Petugas dan tamping biasanya akan meledek penghuni baru sesuai kasusnya. Misalnya, saat Ratu Atut masuk, petugas dan tamping menggoda, “Cie.. cie..bagi bansosnya dong bu…” Lalu ketika Angelina Sondakh masuk, petugas dan tamping menggoda, “Cie..cie bagi apel Washingtonnya dong, apel Malang juga gak apa-apa…”. Nah aku tak tahu apakah mereka akan berani meledek kamu, “Cie..cie bagi sianidanya dong mbak…”

Di Rutan Pondok Bambu kamu akan bertemu perampok, koruptor, maling kelas teri, pembunuh, perampok, penipu, pengedar dan bandar narkoba, dan kriminal lainnya. Semua pasti ingin dekat denganmu. Maklum kamu penghuni baru dan kasusnya heboh. Mereka akan tanya ini dan itu soal kasus kamu. Di antara mereka tentu akan ada yang cocok menjadi teman curhat kamu. Oh ya, kamu juga bisa lho punya pembantu atau asisten dari sesama penghuni. Ia bisa kamu suruh apa saja kecuali membeli minuman di Kafe Olivier di Grand Indonesia.

Untuk sekadar kamu tahu, aku dipindah dari Rutan Polres Jakarta Pusat ke Rutan Salemba. Saat itu sekitar jam 18.00, awal 1995 (kamu umur berapa ya hehehe). Begitu masuk rutan, Kepala Rutan Salemba Pak Rozali menyambutku, “Lho kamu mau membesuk siapa? Teman-teman kamu kan sudah bebas semua?” Aku langsung menjawab, “Iya pak, sekarang giliran saya yang dibesuk.”   Karutan memang sudah mengenalku, maklum selama ini aku sering membesuk teman-teman yang dipenjara di rutan itu. Aku dan teman-temanku dipenjara karena kasusnya sepele, cuma menghina presiden. He he he.

Jessica..

Di rutan kamu akan mempunyai banyak waktu, sambil menunggu sidang atau selama sidang di pengadilan negeri. Pergunakanlah waktu untuk membaca dan menulis. Membaca apa saja, menulis apa saja. Jangan lupa rajin olahraga. Kamu pasti ingat mensana corpere sano yang artinya dalam penjara yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Banyaklah bergerak. Banyak aktifitas. Dan ingat, kurangi melamun.

Biasanya di rutan sering diadakan berbagai kegiatan seperti peringatan 17 Agustus atau Hari Dharma Bakti Kemenhuk HAM. Warga binaan, penghuni yang sudah berstatus napi, selalu dilibatkan dalam berbagai kegiatan baik sebagai panitia atau penugasan lainnya. Kamu jangan marah ya ada netizen di medsos yang membuat status Facebook seperti ini:

Suatu Hari di Rutan Pondok Bambu
Kepala rutan mengundang para tahanan terkait rencana peresmian gedung baru yang akan dihadiri antara lain Menkum dan HAM, Komisi III DPR, Polri, Jaksa, Ka BNN dan lain-lain. “Kira-kira apa yang bisa saudara bantu?” tanya karutan.
Ratu Atut: “Tenang saja, saya bagian dana. Juga ikut mengundang pejabat pemerintah.”
Angelina: Tenang saja, saya seksi acara. Saya akan undang artis ibukota kawan saya.”
Damayanti: “Tenang saja, saya bagian lobi. Kawan saya di DPR saya jamin datang”.
Karutan: “Kamu kok tenang saja. Kamu bisa bantu apa Jessica?”
Jessica: “Saya bagian konsumsi saja, yang bikin minuman. Saya jamin para undangan akan tenang….”

Jessica…

Pada akhirnya yang menentukan waktu lama atau sebentar adalah kamu sendiri. Lama atau sebentar itu relatif. Waktu yang sebentar jika digunakan untuk melamun akan terasa lama, Namun waktu panjang jika dimanfaatkan dengan berbagai kesibukan akan terasa pendek. Jadi beraktifitaslah yang sibuk. Membaca dan menulis mungkin aktivitas yang paling tepat kamu lakukan. Bukankah kamu pernah mahasiswa yang tak asing bergelut dengan buku?

Kalau aku sih dulu kesibukannya selain membaca dan menulis adalah menjadi pilatelis dadakan. Pasalnya saat itu aku mendapat surat dan kartu pos yang jumlahnya ribuan. Perangko dari mancanegara aku kumpulkan. Lalu aku menulis surat pembaca di koran. Barangsiapa mau perangko luar negeri silakan ambil di Rutan Salemba, gratis, hanya ditukar dengan kock bulutangkis. Maklum waktu itu aku hobi main bulutangkis. Jaman saya dulu surat dan kartu pos masih populer. Jaman kamu pasti sudah berbeda. Jaman SMS, WA, twitter, Facebook dan lain-lain.

Selain membaca dan menulis, kamu bisa menyumbangkan keahlian kamu dalam bahasa Inggris. Kamu kuliah di Australia pasti ngomong Inggris kamu jago. Nah, kamu bisa mengajar bahasa Inggris untuk para napi. Kegiatan ini sangat bermanfaat buat warga binaan, juga buat kamu sendiri. Kamu akan mendapat remisi yang lumayan. Dulu aku dan temanku malah belajar bahasa Inggris di Rutan Salemba. Seorang guru khusus didatangkan seminggu sekali. Aku juga membantu tahanan lain yang kesulitan menulis membuat eksepsi atau pledoi pribadi. Jangan bilang siapa-siapa ya, dulu aku juga pernah membantu menulis skripsi seorang pegawai rutan.

Jessica…

Dipenjara itu prinsipnya kamu tak boleh kemana-mana, tapi kamu bisa membawa apa saja dan bertemu siapa saja (tentu sesua aturan he he). Nah, aku sarankan paling utama perbanyak membawa buku. Jangan seperti napi Artalita Sari yang menyulap kamarnya seperti kamar hotel. Jangan pula seperti Fredy Budiman yang menjadikan penjara untuk terus menjalankan bisnis narkoba.

Itu saja yang bisa aku sampaikan. Tetaplah bersemangant menghadapi masa depan. Sebagai mantan warga binaan, aku percaya sebuah mitos – yang dipercaya orang bui – yang kira-kira bunyinya seperti ini: “Ketika kamu masuk penjara, umur kamu seolah berhenti. Berapa umur kamu saat masuk, maka saat keluar penjara, umur kamu tetap sama.”

Jakarta, 5 Februari 2016

 

Tri Agus S. Siswowiharjo
Mantan warga binaan di dua rutan dan tiga LP.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait