Rabu, 30 November 22

Surat Terbuka Untuk Basuki Tjahaja Purnama

Pak Ahok yang saya hormati,

Semoga saat membaca surat ini Pak Ahok dalam keadaan sehat. Kesehatan adalah utama saat kita menghadapi masalah hukum. Apalagi sedang ditahan. Namun lebih dari itu kebugaran mental jauh lebih penting. Saya  tak mengenal Pak Ahok begitu juga sebaliknya. Saya  sebenarnya sudah lama ingin menulis surat untuk Pak Ahok, eh kebetulan ada gerakan menulis surat untuk Pak Ahok. Selain itu, juga karena saya pernah mengalami nasib seperti Pak Ahok. Saya  sekadar ingin berbagi pengalaman.  Dari sekian perbedaan antara saya, yang seorang dosen di Jogja, dengan Pak Ahok, ada satu persamaan yaitu sama-sama alumni Cipinang. Meskipun Pak Ahok hanya beberapa jam di LP Cipinang. Saya pernah di sana sekitar tiga bulan pada 1996, karena dituduh menghina presiden.

Masa awal penahanan di Rutan Brimob adalah masa yang kurang  enak (memangnya ada rutan yang enak?). Pertama karena Pak Ahok baru pertama kali ditahan, jadi masih serba belum terbiasa. Kedua, mungkin Pak Ahok tak akan mengalami masalah soal makanan. Tapi mungkin Pak Ahok  akan kurang leluasa bergerak. Nah untuk yang satu ini berusahalah, kalau bisa, cari kesempatan berolahraga dan sedikit berjemur di pagi hari. Kesehatan dan kebugaran itu sangat penting lho.

Pak Ahok yang tetap tegar,

Di rutan tentu Pak Ahok akan mempunyai banyak waktu, sambil menunggu  banding atau kasasi. Pergunakanlah waktu untuk membaca dan menulis. Membaca apa saja, menulis apa saja. Jangan lupa rajin olahraga. Pak Ahok pasti ingat mensana corpere sanoyang artinya dalam penjara yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Banyaklah bergerak. Banyak aktifitas. Dan ingat, kurangi melamun. Pilihlah olahraga lari pagi, tapi jangan lari dari kenyataan.

Ada yang mengatakan jika Pak Ahok menulis buku, maka bukunya pasti bestseller. Saya setuju dengan pendapat itu. Pak Ahok  punya jutaan penggemar di dalam dan di luar negeri. Arswendo Atmowiloto mengeluarkan beberapa buku yang ditulis di LP Cipinang. Pramudya Ananta Toer menulis empat novel terkenalnya di Pulau Buru. Aktivis Budiman Sujatmiko dan Wilson juga menulis catatan-catatan selama di dalam tahanan dan akhirnya jadi buku. Dan banyak lagi contoh buku yang ditulis dari penjara.

Pak Ahok yang tabah dan konsisten,

Salah satu kunci bertahan di dalam tahanan adalah selalu gembira dan berpikir positif. Untuk selalu gembira ya jangan sering sedih dan baper. Misalnya jangan baper jika sedang nonton TV, terutama saat presenter mengatakan,  “Jangan kemana-mana setelah pesan-pesan berikut ini…” Memangnya mau kemana he he he. Sekadar pengalaman saya dulu, orang yang datang mau menghibur saya (dengan membesuk) malah terhibur oleh yang dibesuk. Saya yakin Pak Ahok bisa. Bukankah Pak Ahok sering melakukan stand up comedy? Jangan-jangan keluar dari tahanan Pak Ahok akan membuat buku “Mati Ketawa Cara Penjara” atau “Mati Ketawa Cara Ahok”

Pada akhirnya yang menentukan waktu lama atau sebentar adalah kita sendiri. Lama atau sebentar itu relatif. Waktu yang sebentar jika digunakan untuk melamun akan terasa lama, Namun waktu panjang jika dimanfaatkan dengan berbagai kesibukan akan terasa pendek. Jadi beraktifitaslah yang sibuk. Membaca dan menulis mungkin aktivitas yang paling tepat Pak Ahok lakukan.

Kalau dulu saya kesibukannya selain membaca dan menulis adalah menjadi filatelis dadakan. Pasalnya saat itu saya mendapat surat dan kartu pos yang jumlahnya ribuan. Perangko dari mancanegara saya kumpulkan. Lalu saya menulis surat pembaca di koran. Barangsiapa mau perangko luar negeri silakan ambil di Rutan Salemba, gratis, hanya ditukar dengan suttlecock bulutangkis. Maklum waktu itu saya  hobi main bulutangkis. Zaman saya dulu surat dan kartu pos masih populer. Zaman sekarang  pasti sudah berbeda. Zaman SMS, WA, twitter, Facebook dan lain-lain. Tapi ide dari kalangan pendukung Pak Ahok untuk mengirim surat ke Pak Ahok sungguh ide yang bagus. Dulu saya mendapat surat dari seluruh dunia mencapai 6,000 pucuk surat. Saya yakin Pak Ahok akan dapat lebih dari saya, wong karangan bunga di Balaikota Jakarta saja jumlahnya ribuan.

Pak Ahok,

Dipenjara itu prinsipnya seseorang  tak boleh kemana-mana, tapi seseorang  bisa membawa apa saja dan bertemu siapa saja (tentu sesuai aturan he he). Nah, saya  sarankan paling utama perbanyak membawa buku. Jangan seperti napi Artalita Sari yang  menyulap kamarnya seperti kamar hotel. Jangan pula seperti Fredy Budiman yang menjadikan penjara untuk terus menjalankan bisnis narkoba.

Saya mengagumi ketegaran Pak Ahok menghadapi peradilan yang sangat melelahkan. Tak sekali pun Pak Ahok absen menghadiri sidang. Tak ada alasan sakit lah, sibuk lah dan alasan lainnya. Tentu Pak Ahok tak seperti orang yang disebut ulama besar tapi kecil nyalinya itu. Berkoar-koar agar Pak Ahok ditahan eh dirinya melarikan diri atau sembunyi di luar negeri. Modusnya sakit, lalu umrah, terus sakit saat umrah.

Dalam hal ini Pak Ahok jauh lebih bertanggungjawab dan gentleman dibanding orang yang tak mau menghadapi pemeriksaan polisi. Tapi tentu tak apple to banana membandingkan Pak Ahok dengannya. Yang mengaku ulama besar itu bahkan jika dibandingkan dengan Ariel  pun kalah. Jelas lebih berani dan bertanggungjawab vokalis grup band Noah itu.

Pak Ahok,

Itu saja yang bisa saya sampaikan. Tetaplah bersemangat menghadapi masa depan. Karier politik Pak Ahok tidak habis, malah kian cemerlang. Aksi karangan bunga, aksi ribuan lilin di puluhan kota di Indonesia dan mancanegara membuktikan Pak Ahok banyak pendukungnya. Mereka ingin Indonesia tetap damai bebas dari virus intoleransi yang menggerus Indonesia yang beragam.

Sebagai mantan penghuni penjara, saya percaya sebuah mitos – yang dipercaya orang bui – yang kira-kira bunyinya seperti ini: “Ketika seseorang masuk penjara, umurnya seolah berhenti. Berapa umur seseorang saat masuk, maka saat keluar penjara, umurnya tetap sama.”  Jadi, “beristirahatlah” sejenak, nanti tugas mulia negara akan menjemput Pak Ahok.

Terima Kasih.

Yogyakarta, 22 Mei 2017

 

Tri Agus S Siswowiharjo

 

Penulis Tri Agus S Siswowiharjo biasa dipanggil TASS, penulus tetap di indeksberita.com, yang juga pencinta humor

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait
  1. Anda cukup dewasa membuat tulisan tentang Ahok. Ciri-cirinya, bila anda melakukan “find-and-replace” kata AHOK dengan nama orang lain, katakanlah orang yang disangka teroris (terlepas mereka difitnah atau tidak), tulisan anda tetap produktif untuk pembaca.

    Sayang sekali, fanatisme memang membutakan.
    Emosi menghilangkan kedewasaan.
    Memuji seseorang dengan cara menghina, membandingkan dan menjelekkan orang lain membuat persepsi saya berubah.

    Tapi saya maklum, sulit mencari tulisan yang idealis, dan tidak fanatik buta terhadap seorang sehingga tindakan pelanggaran hukum orang itu dianggap sebagai petty larceny.
    Impunity, tidak boleh ada di bumi NKRI.
    (kalau anda berani melawan emosi anda, coba lakukan investigasi amatir soal kronologi kasus besar sumber waras, itu bisa membuat orang merinding membacanya, betapa clear bukti-2 tetapi betapa buta dan lumpuhnya penegak hukum melawan pencitraan yang dilakukan ahok. Itu baru 1 kasus bung, tapi saya tidak yakin anda tertarik untuk menegakkan kebenaran. Anda lebih suka pencitraan bukan?)

    Yah, saya tidak pernah menulis mendukung si ini si itu, mencaci si ini si itu, saya cuma seorang alumnus sebuah universitas negeri di ibukota yang amat kecewa dengan perpecahan di NKRI, hanya karena blind fanatism terhadap seorang yang bergelimang pencitraan sehingga membutakan sebagian orang dari kejujuran dan kebenaran.

    Semoga masyarakat Indonesia dapat mengambil pelajaran berharga dari kasus termahal di dunia ini, dan tetap bersatu melawan perpecahan.

    Move on.
    Keep your integrity.
    NKRI? Harga mati untuk dipertahankan.

    Aswin
    FEUI90