Selasa, 24 Mei 22

Surat Terbuka Kepada Pak Mantan

Saya memahami betul apa yang menjadi kerisauan bapak terhadap Presiden Jokowi. Saya juga tidak keberatan kalau ada yang menilai proyek-proyek infrastruktur Pak Jokowi kelewat ambisius, lebih besar pasak daripada tiang. Defisit anggaran terus melebar. Tapi setidaknya Pak Presiden Joko Widodo telah berusaha mengerjakan apa yang selama 10 tahun tidak bapak kerjakan.

Tol laut sebagai program kemaritiman Presiden Joko Widodo memang belum sempurna. Harga barang dan jasa antar pulau masih beragam. Sama-sama berlindung di bawah Negara Republik Indonesia, namun harga semen di Wamena masih jauh berbeda dengan harga semen di Pekalongan. Begitu pun dengan harga-harga kebutuhan pokok lainnya.

Tentu saja kesalahan itu tidak bisa kita timpakan ke Pak Habibie, Gus Dur dan Bu Megawati yang tidak pernah berkuasa penuh selama 5 tahun. Karena ketiga pemimpin itu mesti menghadapi dinamika politik konsolidasi demokrasi paska reformasi.

Pak Habibi belum bekerja sudah dituding sebagai penerus Pak Harto dengan buku “Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari” oleh anak-anak Pijar, termasuk saya dan Tri Agus Susanto Siswowihardjo tentunya.

Gus Dur yang berusaha menegakkan supremasi sipil mesti berhadapan dengan tentara gaya lama. Sikapnya yang pluralis tidak disukai oleh para politisi yang eksis menjual agama. Pernyataannya yang nyleneh, seperti misal DPR Taman Kanak-kanak, menyinggung banyak orang. Akhirnya, hanya mengenakan celana kolor, beliau melambaikan tangannya. Pamit dari Istana Kepresidenan.

Sedangkan Megawati mesti menghadapi krisis kas negara. Atas persetujuan DPR, Presiden ke-5 itu menjual “Indosat” dan membuat kebijakan “release and discharge” ke penerima BLBI. Tujuannya mengisi kas negara. Tapi kebijakan itu yang terus “kalian” bully.

Padahal, selama 3 tahun berkuasa Megawati sudah membangun Jalan Pantura menjadi 2 jalur. Dia juga yang memulai membangun jalan lintas selatan Pulau Jawa dan JembatanSuramadu. Tapi itu belum cukup untuk mengalahkan bapak yang mendapat simpati publik karena merasa didzolimi.

Begitu pula dengan Presiden Soekarno. Sepanjang kekuasaannya diwarnai gejolak. Dari gejolak revolusi fisik 1945-1949, gejolak konsolidasi Republik Indonesia (1950-1955), gejolak ideologi dan pemberontakan daerah (1955-1959), dan terakhir kali gejolak “Perang Dingin” Blok Liberal vs Blok Komunis yang membuatnya tersingkir dari kekuasaan.

Toh demikian Bung Karno sadar, kekayaan sumber daya alam mesti dikelola oleh sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Maka ribuan mahasiswa disekolahkan ke luar negeri. Sayang, begitu Soekarno tumbang ribuan mahasiswa asal Indonesia terkatung-katung di negeri orang. Mereka dicurigai menganut faham komunis oleh pemerintahan Soeharto, pengganti Soekarno.

Setelah itu SDA yang begitu melimpah dijadikan bancakan Soeharto dan kroni-kroninya. Hutan, tambang, migas, satu per satu jatuh ke pemilik konsesi. Industrialisasi hanya menyediakan jasa perakitan elektronik, sepatu, garmen dan lainnya. Wajar bila nilai tambah lebih banyak mengalir ke perusahaan asing dan segelintir calo-calo dalam negerinya.

Satu-satunya prestasi Soeharto mungkin Swasembada Pangan. Tapi itu kan produk “revolusi hijau” yang sebenarnya barang dagangan pabrik pestisida dan benih perusahaan multi-nasional. Akibatnya ikan-ikan sungai punah karena pestisida. Kita pun hingga sekarang tidak berdaulat atas pangan, karena pupuk dan benih dikuasai asing.

Pemuja Soeharto boleh saja gembar-gembor pembangunan. Tapi setelah SDA nyaris punah dijarah apa hasilnya? Faktanya kita masih bermasalah dengan pembangunan infrastruktur yang tidak merata. Tolok ukurnya adalah harga Indomie di Yahukimo jauh lebih mahal dari harga Indomie di Makassar atau di Cianjur.

Timpangnya pembangunan infrastruktur membuat Indonesia menjadi sorga bagi produk impor. Harga sapi dari NTT bisa lebih mahal dari harga sapi asal Australia. Jeruk asal Tiongkok dan Apel Washington membanjiri kios pedagang buah di Cililitan, sedangkan buah-buahan lokal dibiarkan membusuk di pohon.

Itulah fakta yang terjadi selama 71 tahun Indonesia Merdeka. Pertanyaannya, apa yang telah bapak kerjakan selama 10 tahun berkuasa? Revitalisasi pertanian dan perdesaan yang menjadi bahan kampanye bapak ternyata hanya, meminjam istilah WS Rendra, catatan yang ditulis di atas air.

Memang, anggaran pengentasan kemiskinan sepanjang kekuasaan bapak setiap tahunnya melonjak. Tapi angka kemiskinan tidak turun secara signifikan. Kenapa pula, mengutip data Bank Dunia yang dirilis Bung Faisal Basri, angka kesenjangan sosial melonjak sejak pemerintahan bapak?

Padahal bapak berkuasa saat harga komoditas, seperti CPO dan batubara, sedang booming. Tapi ironisnya listrik warga Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, daerah penghasil batubara, justru byar pet. Ironisnya pula, dalam situasi yang nyaris tidak ada pembangunan utang luar negeri malah melonjak pesat di era pemerintahan bapak.

Sekarang Presiden Jokowi sedang memulai proses pembangunan infrastruktur yang mestinya sudah bapak kerjakan sejak 12 tahun silam. Memang belum sempurna. Kerjanya pun masih salah-salah, terutama dalam hal administrasi negara sehingga Arcandra yang Warga Negara Amerika diangkat menjadi menteri.

Tapi karena bapak selalu mencela apa yang dikerjakan Pak Jokowi, maka saya pun jadi ingat lagu Pak Tua karya Elpamas tahun 1990. Lagu itu pun saya plesetkan sedikit dalam lirik berikut ini :

Kamu yang sudah mantan apa kabarmu
Katanya baru sembuh katanya sakit
Jantung ginjal dan encok sedikit sarap
Hati-hati Pak Mantan, istirahatlah: Diluar banyak angin

Kamu yang murah senyum memegang perut
Badanmu smakin tambun memandang langit
Hari menjelang magrib Pak Mantan ngantuk
Istri manis menunggu, istirahatlah: Diluar banyak angin

Pak Mantan, sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah
Pak Mantan, sudahlah
Pak Wi mampu untuk bekerja

Marlin Dinamikanto
Penyair Fesbuker

 

 

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait