Kamis, 1 Desember 22
Beranda Featured SURAT SETENGAH TERBUKA UNTUK ARWAH SETIAWAN DI AKHERAT

SURAT SETENGAH TERBUKA UNTUK ARWAH SETIAWAN DI AKHERAT

SURAT SETENGAH TERBUKA UNTUK ARWAH SETIAWAN DI AKHERAT
Poster Diskusi Humor

Apa kabar Pak Arwah? Saya selalu teringat pak Arwah pernah menjawab, “Maaf dik  saya belum baca surat kabar”. Melalui surat setengah tertutup ini saya ingin mengabarkan, pada 11 Maret 2016, di dunia, tepatnya di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia Jakarta akan digelar acara mengenang Arwah Setiawan.

poster diskusi humorSungguh ini kabar gembira buat pak Arwah dan Lembaga Humor Indonesia (LHI). Sepanjang pengetahuan saya, meskipun pengetahuan saya tidak panjang, sejak bapak betul-betul menjadi arwah alias meninggal dunia pada 17 April 1995, baru kali ini ada peringatan serius dan meriah mengenang Arwah Setiawan.

Rupanya kredo “Humor itu serius”  yang pak Arwah canangkan pada tahun 1977  sampai sekarang  belum terbantahkan.  Jaya Suprana malah mengatakan “Humor itu sangat serius”  sementara Seno Gumira Ajidarma menggarisbawahi (bukan mengaristengahi), “Humor memang serius”. Mereka, para pegiat humor dari lintas organisasi dan usia bersatu padu mengenang gagasan pak Arwah yang lucu.  Kegiatan istimewa ini dilakukan setelah 39 tahun “Humor itu serius” dan 21 tahun usai pak Arwah wafat. Saya berharap pak Arwah senang dan gembira mendengar kabar dari dunia ini.

Pak Arwah yang dulu Ketua LHI dan kini (mungkin) Ketua LHA (Lembaga Humor Akherat). Saya teringat pada 31 Agustus – 5 September 1992, saat LHI dan Yayasan Pijar mengelar acara Pekan Humor Indonesia (PHI) di Taman Ismail Marzuku (TIM) Jakarta dengan berbagai acara lomba humor. Juga ada diskusi bertema “Suksesi dan Humor”, pembicara KH Abdurrahman Wahid dan Emha Ainun Nadjib dengan Rocky Gerung sebagai moderator. Menurut Gus Dur, tema “Suksesi dan Humor” itu rancu. “Suksesi itu sendiri humor. Jadi sebenarnya tema diskusi ini humor dan humor,” ujar Gus Dur sambil terkekeh.

Pak Arwah, tentu pak Arwah sudah mengetahui, siapa tahu sudah ketemu Gus Dur di akherat. Empat tahun setelah pak Awwah meninggal, Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Ini serius bukan bercanda. Gus Dur yang menulis kata pengantar buku “Mati Ketawa Cara Rusia” (1986) karya Z Dolgopolova, sering mengolok-olok presiden atau kepala negara antah berantah. Akhirnya ia menjadi presiden. Selama pemerintahannya Gus Dur sering menggunakan humor dalam berkomunikasi dengan elit maupun publik.

Tak hanya Gus Dur, presiden saat ini Joko Widodo juga suka humor. Ia sering menyelipkan canda pada saat berjumpa dengan warga. Jokowi bahkan mengundang pelawak dan komika ke Istana Negara ketika DPR mengadakan sidang MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan) membahas kasus papa minta saham Setya Novanto. Sudah barang tentu tujuan Jokowi mengundang rombongan pelawak dan komika ditafsirkan publik sebagai tandingan kelucuan antara Istana dan Senayan.

Cita-cita pak Arwah tentang dunia humor di tanah air sebagian sudah tercapai. Saat ini telah ada kesadaran menggali dan menampilkan hal-hal baru. Sehingga lawak tak sekadar sebagai ekspresi hiburan semata, tetapi ada tanggung jawab berkeseniannya. Esensi ini dilakukan betul, sehingga orang baru sadar bahwa lawak atau humor itu benar-benar serius. Kini  program acara humor di beberapa stasiun TV lumayan lucu dan bermutu. Stand up comedy kini sedang berjaya di layar kaca bahkan layar lebar. Dengan humor seperti ini sekarang berkurang  banyolan yang menghina kejelekan dan kekurangan orang atau berusaha lucu dengan terjatuh terpeleset kulit pisang (slapstick).

Selain di dunia nyata, di dunia maya pun humor kian naik pamor. Kini publik dimanjakan dengan perangkat teknologi canggih, dengan adanya media sosial dan munculnya meme. Setiap ada kejadian yang menarik publik, dari lokal, nasional maupun interlokal,  akan muncul meme di media sosial seperti facebook, twitter, path atau instagram. Begitulah, semua orang bisa menciptakan meme yang lucu dan kritis.

Pak Arwah yang dulu pegiat HIHI (Himpunan Insan Humor Indonesia) dan kini mungkin Ketua HAHA (Himpunan Arwah Humor Akherat).

Saya yakin pak Arwah kerasan di akherat, mungkin di alam sana sudah berjumpa dengan Gus Dur, Dono, Kasino, Basiyo, Teguh Srimulat, Gepeng, Asmuni, Basuki, Kris Biantoro, Bing Slamet, Benyamin dan lain-lain.

Namun pak Arwah, di tengah kemajuan humor di televisi kita, baru-baru ini ada yang membuat kalangan pegiat humor terpukul. Lewat surat nomor 203/K/KPI/02/16 yang ditujukan kepada “Seluruh Direktur Utama Lembaga Penyiaran” tertanggal 23 Februari, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).meminta lembaga penyiaran di tanah air untuk tidak menampilkan pria sebagai pembawa acara (host), talent, maupun pengisi acara lainnya, baik pemeran utama maupun pendukung, dengan tampilan sebagai berikut:

  1. Gaya berpakaian kewanitaan
  2. Riasan (make up) kewanitaan.
  3. Bahasa tubuh kewanitaan, termasuk namun tidak terbatas pada gaya berjalan, gaya duduk, gerakan tangan maupun perilaku lainnya.
  4. Gaya bicara kewanitaan
  5. Menampilkan pembenaran atau promosi seorang pria untuk berperilaku kewanitaan.
  6. Menampilkan sapaan terhadap pria dengan sebutan yang seharusnya diperuntukkan bagi wanita.
  7. Menampilkan istilah dan ungkapan khas yang sering dipergunakan kalangan pria kewanitaan.

didikntAdanya larangan penampilan pria sebagai wanita di layar kaca dari KPI, sungguh aturan yang berlebihan. Jika benar larangan itu diterapkan, maka maestro tari Didik Ninik Thowok, yang beberapa kali tampil dalam acara LHI, tak bisa tampil di TV. Padahal prestasi Didik Ninik Thowok mengharumkan nama bangsa di mancanegara melalui seni tari tak terhitung. Apakah KPI bisa konsisten? Bagaimana dengan penampilan Habib Riziek yang pakaiannya mirip daster apakah akan dilarang saat tampil di televisi?

Baiklah pak Arwah, itu saja surat setengah terbuka dari saya. Saya berharap  masyarakat Indonesia semakin menghargai humor tak sekadar tontonan tetapi juga  tuntunan. Saya juga berharap agar pemerintah tak tipis telinga saat mendapat kritik dari masyarakat.

 

Jakarta, 3 Maret 2016

Tri Agus S. Siswowiharjo

 

Catatan: Arwah Setiawan (1935-1995) adalah satu dari super sedikit pemerhati humor, yang atas nama kepeduliannya telah memperjuangkan berdirinya majalah humor Astaga (1973-1977), menulis kolom-kolom serius secara humoristis, dan mendirikan dan memimpin Lembaga Humor Indonrsia (LHI).