Kamis, 6 Oktober 22

Surabaya, Tahu Telor Kliwon dan Rawon Pak Pangat

Saat melanjutkan perjalanan dari Yogyakarta, kami tiba pukul 2 dini hari, ini terlalu awal untuk check ini di hotel yang sudah kami pesan 2 hari sebelumnya. Terlalu awalnya ketibaan kami di Surabaya, karena kami memperhitungkan akanĀ  terjadi kemacetan arus mudik, ternyata perjalannya lancar sekali. Dengan mengemudi santai, kami hanya membutuhkan waktu hanya 9 jam dari Yogyakarta menuju Surabaya. Ini menjadi keberuntungan yang menyusahkan.

Untuk menunggu waktu check in, jalan keluarnya kami mencari kedai kopi yang buka 24 jam. Musim piala eropa, dan tepat ada pertandingan menarik (Perancis vs Islandia), akan membuat waktu menunggu menjadi tidak membosankan. Pilihan kami akhirnya coffee shop yang buka 24 jam di sebuah hotel yang sangat dikenal sebagai tempat nongkrong anak muda jaman dulu, yang ada di Jalan Panglima Sudirman. Sop jagung ayam panas menghangati perut, plus coffee late, capucino panas, dan teh panas menemani kami berempat sampai pertandingan bola selesai. Kemenangan Perancis 5-2 atas Islandia, membuat dini hari menjadi menyenangkan

Warung Kliwon dan Rawon Pangat

Setelah ceck in dan istirahat, siangnya kami mulai mencari makan siang. Setelah berputar-putar kami menemukan warung kliwon di daerah pojokan Ngagel Jaya Selatan, yang khusus menyajikan masakan Indonesia. Kami memilih, tahu telor (khas Surabaya), gandul, nasi lengko dan tahu gimbal (khas Jawa Tengah) untuk kami berlima. Tahu telor, yaitu tahu digoreng dengab telor ditambah tauge dan bumbu kacang dengan petis, sangat lezat. Kelezatannya membuat kami menambah 1 porsi lagi. Tahu gimbal rasanya juga enak, hampir sama dengan tahu telor. Perbedaanya: bumbu tahu gimbal tanpa petis, dengan ditambah rempeyek udang. Makan siang kami sangat terpuaskan dengan masakan khas Indonesia di warung kliwon.

Malamnya, kami mencari rawon untuk makan malam kami. Kami tentu tidak mencari rawon setan atau rawon lainnya yang sudah ada di Jakarta. Maka pilihan kami adalah rawon Pak Pangat, yang terletak di daerah Ketintang Baru Selatan 1. Dan rawon ini memang berbeda. Jika rawon lain dibuat dari potongan daging dimasak rawon (dengan bumbu khas kluwek), maka rawon Pak Pangat, dubuat dari empat yang disawir dan dimasak dengan kuah rawon. Rasanya enak, campuran antara rasa empal dengan kuah rawon. Hanya saja jika kuah rawonnya lebih sedikit pekat/hitam kluweknya, maka akan lebih enak lagi.

Harga 1 porsi nasi plus rawon hanya Rp.19 ribu, sehingga dengan minumnya (teh manis atau jeruk) hanya habis sekitar Rp 25 ribu saja per orang. Setelah menikmati makan malam kami keliling Surabaya melihat taman bungkul, kota tua, lalu kembali ke penginapan untuk persiapan melanjutkan perjalanan kembali.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait