Senin, 3 Oktober 22

Sopir Bajaj dan Kejutan Reshuffle Kabinet

Anekdot: “Kemana Bajaj akan belok? Hanya Tuhan dan sopirnya yang tahu”

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ternyata punya bakat lain, yakni menghadirkan kejutan. Kejutan terakhirnya nampak dalam reshuffle atau perombakan kabinet yang diumumkannya pada Rabu, 27 Juli 2016 lalu.

Boleh (tidak) percaya, dalam penanggalan ‘spiritual’, hari itu pas weton-nya Jokowi. Tanggal itu juga punya makna historis istimewa, karena bertepatan dengan peringatan 20 tahun peristiwa “Kudatuli”, 27 Juli 1996. Saat itu, ratusan massa rekayasa rezim Orde Baru menyerbu kantor DPP PDI Perjuangan yang dikuasai sah pendukung Megawati Soekarnoputeri.

Namun, pemilihan tanggal itu mungkin perkara kebetulan belaka. Bukan kejutan yang sengaja dihadirkan Jokowi kepada kita. Apa yang boleh disebut jadi kejutan di sini, sejatinya terkait dengan nama menteri (tertentu) yang keluar-masuk di sejumlah kementerian, serta menteri yang bertahan.

Seperti diketahui, Jokowi telah mencopot 9 menteri dan menggeser posisi tiga menteri, plus satu kepala lembaga. Alasannya, kita tak tahu. Jokowi tak sepatah kata pun mengatakannya. Fatsun politik menahannya, dan itu bisa diterima. Alhasil, publik yang terkejut dan kepo akhirnya berspekulasi perihal keputusan itu, apakah karena alasan personal, profesional, atau “political”? Mestinya salah satu diantara ketiganya.

Dari senarai nama menteri yang terlempar setidaknya ada tiga nama (Ignasius Jonan, Rizal Ramli, dan Anies Baswedan) yang paling mengundang publik heran dan penasaran. Padahal, seperti tak ada yang kurang dalam kinerja mereka.

Maka spekulasi itu pun, misalnya, mengatakan pencopotan Jonan berkaitan dengan ketaksetujuannya atas proyek KA cepat Bandung-Jakarta, polemiknya dengan salah satu anggota Wantimpres, soal transportasi online, sampai yang teranyar yaitu kemacetan parah di “Brexit” saat mudik Lebaran.

Sementara itu, dicopotnya Rizal disebut-sebut lantaran dianggap terlalu sering “berulah”. Aksi ngepret Rizal telah membuat sejumlah kalangan tak nyaman. Kita mungkin ingat polemiknya dengan mantan Menteri ESDM Sudirman Said dalam proyek Blok Masela, juga dengan Jusuf Kalla terkait nomenklatur kementeriannya. Selain itu, Ia juga ngepret di proyek listrik 35 ribu watt, PT Freeport, Pelindo, dan belakangan Rizal berseteru dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok terkait reklamasi Pulau G di Teluk Jakarta. Apakah karena itu semua? Maaf, saya bukan sopir bajaj. Ahok pun menepisnya.

Yang pasti, Rizal telah divonis “gagal” menjaga kekompakan di pemerintahan. Menariknya, Ia baru mengetahui pencopotannya setelah mendadak dipanggil ke Istana Negara saat sedang sengit ‘menohok’ Ahok dalam acara bincang-bincang di sebuah TV swasta.

Alasan tadi mungkin betul, namun alasan sesungguhnya pasti tak melulu terkait itu. Jokowi pasti mafhum karakter Rizal saat Ia diminta dan didapuknya jadi menteri, Agustus 2015 lalu. Lagipula, kalau soal ‘berulah’ dan kegaduhan jadi pangkal sebab, lalu bagaimana dengan Anies Baswedan yang dikenal kalem dan tak banyak tingkah. Atribusi personalnya itu toh terbukti gagal menahan Anies untuk tak senasib dengan Rizal.

Maka, publik pun lantas mengaitkannya dengan kehadiran Menteri Keuangan yang baru, Sri Mulyani Indrawati. Dalam satu dan banyak hal, dua sosok ekonom kondang itu disebut diametral. Seberangan itu terlihat, misalnya, dalam kasus bail-out Bank Century 2009-2010 lalu. Karena itu, Jokowi mungkin tak mau ambil risiko membuat rapat kabinetnya jadi sebuah forum intellectual exercise jika menyandingkan keduanya. Apalagi, penguatan kinerja dan kekompakan terdengar jadi pesan ter-penting Jokowi saat mengumumkan perombakan kabinetnya. Jadi, apakah karena Ibu Ani ‘in’ maka Rizal Ramli harus ‘out’? Sopir bajaj mungkin lebih tahu. Saya tidak, sumpah!

Yang pasti, dari sejumlah nama menteri baru yang masuk kabinet, selain Alchandra Tahar yang juga “di-impor” dari Amerika, masuknya Sri Mulyani Indrawati memang jadi kejutan paling fenomenal. Namanya tak pernah sekalipun disebut-sebut atau pernah masuk versi “kabinet” yang beredar sejak isu perombakan ini bergulir pada November 2015 lalu. Maka, momen kembalinya ibarat penggenapan atas apa yang diucapkannya, I’ll be back, ketika Ia pamit ngelencer ke Amerika untuk menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, Juni 2010.

Dan responnya, memang ‘luar biasa’. Ketika namanya disebut Jokowi, tawa dan tepuk tangan seketika terdengar di Istana Negara. Sesaat kemudian, ‘Pasar’ mengganjarnya dengan indeks acuan yang seketika menguat dari kondisi sebelumnya yang, menguatirkan. Kecenderungan sesaat yang wajar tentu saja, mengingat atributnya yang dianggap “pro pasar”. Tapi siapa sih yang tak suka ‘menoleh’ pasar? Sejak Adam Smith hidup, entitas itu sudah dianggap sebagai determinan penting dalam percaturan ekonomi-politik, baik tingkat nasional maupun global.

Lalu ada apa dibalik penunjukkannya sebagai Menkeu? Normalnya, Ia dianggap mumpuni jadi troubleshooter di sektor ekonomi. Sektor yang selama ini dinilai jadi ‘titik lemah’ Jokowi karena sejumlah kondisi. Apakah hanya untuk itu atau ada agenda lain menuju pemilu 2019 seperti analisis prematur teman baik saya? Apa sih yang tak mungkin. Toh seperti kata negarawan Jerman, Otto von Bismarck: Politics is the art of the possible, the attainable…the art of the next best. Nah!

Terakhir, jika boleh disebut, kejutan ‘terbesar’ dari reshuffle kemarin datang dari daftar menteri petahana, terutama tetap dipertahankannya Rini Soemarno sebagai Menteri BUMN atau Badan Usaha Milik Negara. Kejutan ini bahkan jadi yang kedua kali lantaran sosok menteri sarat kontroversi ini juga selamat dari perombakan kabinet pertama pada Agustus 2015 lalu.

Padahal, pertama, menurut rapor kinerja rilisan mantan Menpan RB Yuddy Chrisnandi Januari 2016 lalu, kementerian BUMN ‘hanya’ berperingkat 47 di antara 77 kementerian dan lembaga negara lainnya. Ironisnya, Yuddy justru yang terlempar meski kementeriannya ada peringkat 6 dan Ia pun disebut representasi partai politik (Hanura). Artinya, signifikansi rapor ‘psoitioning’ itu terbukti tak penting-penting amat dalam pertimbangan presiden.

Jika dikaitkan dengan visi menjadikan BUMN sebagai backbone atau tulang punggung perekonomian negara, rendahnya kompetensi Rini Soemarno dan kinerja Kementerian BUMN selama hampir dua tahun ini memang nyata. Penilaian itu tak hanya dinyatakan oleh lembaga ekonomi kredibel sekelas INDEF, tapi bahkan datang dari lingkungan internal sendiri, seperti temuan hasil survey Federasi Serikat Pekerja (FSP) BUMN pada 2015 lalu.

Kedua, legitimasi politik-nya selaku Menteri BUMN juga rendah. Pada Desember 2015 lalu, Panitia Khusus (Pansus) Pelindo DPR memvonisnya telah melanggar ‘Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik” dalam proyek perpanjangan kontrak Jakarta International Container Terminal (JICT) kepada perusahaan Hongkong, PT Hutchinson Port Holdings. Sejak saat itu, hingga sekarang Rini dilarang ikut rapat-rapat di DPR. Seluruh fraksi parpol di Parlemen bahkan kompak merekomendasi presiden agar segera mencopotnya.

Di satu sisi, kondisi itu tentu jadi beban politik Jokowi terutama terkait koordinasi kerja antara pemerintah (Kementerian BUMN) dengan (Komisi VI) DPR. Entah sampai kapan Jokowi akan menugaskan Menkeu untuk mewakili Rini untuk rapat dengan DPR. Di sisi lain, kondisi tadi potensial menghambat pencapaian target dan visi Jokowi yang ingin agar BUMN punya daya saing kelas dunia. Presiden tentu bisa menilai sejauh mana pencapaian tersebut selama hampir dua tahun ini.

Rini, sementara ini, nampak seperti simalakama presiden. Ia mungkin berjasa dalam sukses Pilpres 2014 lalu. Hal yang konon disebut jadi alasan utama Jokowi untuk tak ngutak-atik posisinya. Padahal, kalau urusannya soal jasa, maka sungguh terlalu banyak pihak yang layak disebut. Dan hal itu tak selayaknya mengorbankan kepentingan ‘merah-putih’ yang jauh lebih besar.

Maka, sebagaimana presiden, seluruh masyarakat Indonesia pun punya keinginan yang sama untuk memiliki BUMN yang sehat dan sesuai dengan hakikat keberadaannya.Tapi, jujur harus dikatakan, kejutan yang kedua kali di sektor ini hanya sedikit sekali membawa harapan.

Jadi, kemana bajaj akan belok? Jangan tanya Tuhan, tanya sopirnya saja. Hati-hati salah belok.

 

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait