Rabu, 30 November 22

Slamet Rahardjo : Film Indonesia Wajib Memuliakan Harkat Kemanusiaan

Niat untuk membuat organisasi perfilman di Indonesia semakin berdaya dan bertenaga, terus digalakkan oleh PARFI 56, dibawah kepemimpinan aktris Marcella Zalianty, yang dilantik sejak 24 Oktober tahun 2016 lalu. Salah satu yang terbaru dihelat oleh organisasi profesi para artis film tersebut adalah kegiatan FGD – Focus Group Discussion, dengan tema utama:  “Membangun Pekerja Seni Peran yang berintegritas, sejahtera, dan Mandiri”, di Jakarta (10/05). Dalam acara tersebut salah satu pembicaranya adalah Slamet Rahardjo Djarot.

“Masa depan Indonesia yang lebih beradab dan berbudaya, dapat dilihat dari karya-karya film oleh para pekera seni dengan mind set yang sama, berakar pada filosofi dan budaya bangsa Indonesia,” papar Slamet Rahardjo Djarot, aktor legenda hidup, kelahiran Serang, 21 Januari 1949, dalam acara yang diikuti oleh para pengurus PARFI 56, pekerja seni, lembaga swadaya masyarakat, para profesional dan wartawan yang konsern pada peningkatan mutu perfilman di tanah air.

Marcella Zalianty Ketua Parfi, dalam acara FGD dengan pembicara Slamet RajardjoMarcella Zalianty Ketua Parfi, dalam acara FGD dengan pembicara Slamet Rajardjo

Lebih jauh Slamet Rahardjo, peraih Piala Citra tahun 1975 (Ranjang Pengantin) dan 1983 (Dibalik Kelambu) sebagai ‘Pemeran Pria Terbaik’ ini, menegaskan bahwa “Karya film wajib memuliakan harkat kemanusian. Jika tidak, maka kerja para insan film di tanah air, sia-sia belaka,” ujarnya.

“Urusan wacana biarkan mereka yang di Senayan (anggota DPR, red) melakukannya. Sebaliknya, tugas dari para insan film untuk mewujudkan wacana tentang bangsa yang bermartabat itu dalam setiap karya film,” terang Slamet Rahardjo, tokoh dalam tayangan Sentilan Sentilun bersama Butet Kertaredjasa, di MetroTV.

Slamet, Peraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik tahun 1985 (Kembang Kertas) dan 1987 (Kodrat), mengakui bahwa seharusnya setiap karya film berbasis pada data-data statistik dan data-data empiris di lapangan, khususnya data demografi penonton film serta data data yang berkaitan dengan kehidupan kultural bangsa Indonesia.

“Integritas para pekerja film, sangat tergantung pada nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat sebagai akar kulturalnya. Tanpa pijakan ini, maka hanya akan melahirkan karya yang berorientasi pada materi bukan pada kemanusian,” simpul Slamet Rahardjo, yang mengawali karirnya dalam seniboeran sejak 1968 dengam bergabung di ‘Bengkel Teater’ bersama mendiang Sutradara Teguh Karya.

Fakta film Indonesia yang bisa dilihat hari ini, bahwa secara kuantitatif, hampir setiap tahun lahir karya film dari berbagai genre, utamanya komedi dan drama percintaan. Bagaimana dengan kualitasnya?

”Masih butuh peningkatan kualitas karya film, yang dibarwngi dengan memperbaiki kinerja serta meningkatkan jaminan kesejahteraan para insan film. Karena itu kami menghelat acara FGD ini, untuk mengumpulkan berbagai informasi dari beragam kalanga. Termasuk konfirmasi data faktual serta maping persoalan dan kendala dilapangan,” urai Marcella, yang mengaku kesulitan membagi waktu antara mengelola organisasi dan mengembangkan karir keaktrisannya.

FGD PARFI dwngan Tema :Membangun Pekerja Seni Peran yang berintegritas, sejahtera, dan MandiriFGD PARFI dengan Tema :Membangun Pekerja Seni Peran yang berintegritas, sejahtera, dan Mandiri

Berdasarkan latar belakang itulah, maka kemudian PARFI 56, menghelat studi strategis mellaui Focus Grouo Discussion tersebut, untuk melihat posisi strategis para insan film dalam beragaman persoalab kebangsaan dan ke-Indonesiaan.

”PARFI 56 akan merumuskan dengan tepat mengenai posisi tawar dan daya saing para pekerja seni dengan pemerintah dan masyarakat,” imbuh Marcella, yang juga menjelaskannsoal rencana kerjasama dengan BPJS, untuk menjaga jaminan kesejahteraan bagi para insan film dimasa tuanya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait