Senin, 27 Juni 22

Setara Institute: kebijakan negara jangan turut menumbuhkan intoleransi

Hendardi: Terorisme adalah puncak dari intoleransi

Jakarta – SETARA Institute mencatat telah terjadi 197 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan dengan 236 bentuk tindakan sepanjang tahun 2015. Jumlah ini meningkat dari tahun 2014 yang mencatat 134 peristiwa dengan 177 tindakan.

Demikian disampaikan Halili Hasan dalam konperensi pers Setara Institute tentang Laporan Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan 2015, Senin (18/1), diJakarta.

Halili melanjutkan, dari peristiwa sebanyak itu, 100 tindakan diantaranya dilakukan oleh negara dan 136 lainnya dilakukan oleh aktor non negara. Pada aktor negara, pemerintah daerah tercatat 31 kali melakukan tindakan pelanggaran, disusul Kepolisian dengan 16 tindakan. Sementara, tercatat 44 tindakan dilakukan oleh warga negara.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi mengingatkan bahwa intoleransi adalah awal mula dari terorisme dan terorisme adalah puncak dari intoleransi.

“Memelihara dan membiarkan intoleransi sesungguhnya sama dengan merawat dan memelihara bibit-bibit terorisme yang pelan tapi pasti akan kita panen buahnya,” ujarnya.

Bonar Tigor Naipospos: intoleransi dapat berwujud pasif dan aktif.

Peneliti Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan bahwa intoleransi dapat berwujud pasif dan aktif. Intoleransi pasif berarti memiliki pikiran yang tak toleran. “Sementara yang aktif termanifestasi dalam ucapan dan tindakan,” ujarnya.

Menurut Bonar, ada beberapa tahapan seseorang yang bertindak intoleran sampai ke tindakan teror. Setelah menjadi intoleran, seseorang potensial bergabung dengan kelompok ekstrem. Tahapan berikutnya adalah menjadi radikal dan melakukan teror.

“Dengan begitu pencegahan terorisme harus dimulai dengan mencegah tumbuhnya intoleransi di masyarakat termasuk dengan adanya kebijakan Negara yang mendukung upaya pemajuan toleransi,” ujar Bonar.

Ismail Hasani: Bahrun Naim contoh intoleransi pasif ke aktif

Bahrun Naim yang diduga aktor dibalik serangan teror di kawasan Thamrin pada Kamis (14/1) lalu, menurut Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani merupakan satu contoh individu yang memenuhi kriteria dan tahapan dari intoleransi pasif ke aktif itu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait