Jumat, 12 Agustus 22

Sering Dikuntit Preman PT PRIA, Anggota DPR Disangka Preman oleh Pendamping Warga

Mojokerto – Di sela-sela kunjungan anggota Komisi VII Bidang Lingkungan Hidup DPR RI dan perjabat Direktorat Jendral Penegak Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Kamis (24/11/2016), ada sosok yang disinyalir preman, sedang memantau jalannya kunjungan tersebut.

Sosok tersebut, sangat berbeda tampilannya dengan warga desa setempat; asing, sinis, bertubuh kekar dan mengenakan kaos. Selain itu, sosok preman tadi juga mencabuti spanduk warga yang bertulisakan perlawanan terhadap PT Pria Restu Ibu Abadi (PRIA) yang mengelola Limbah B3.

Kendati demikian, warga tak terpancing  dan tetap tenang atas provokasi para preman tersebut. Sebab, mereka tak ingin dialog dengan anggota Komisi VII yang digelar di Balai Dusun Kedung Palang itu gagal. Bahkan seorang warga, Utomo, sempat terdengar menegur salah seorang anak muda yang ingin meladeni ulah para preman tersebut.

“Hi aja, ben ae. Mengko malah ngerusak acara (hai jangan, biarkan saja. Nanti malah bisa menggagalkan acara),“ hardik Utomo.

Keberadaan preman bukan hanya dirasakan oleh warga, tetapi juga oleh anggota Komisi VII, Mat Nasir. Hal itu terdengar dalam ungkapan Nasir saat berkunjung ke pabrik pengelola limbah B3 PT PRIA, setelah melakukan dialog dengan warga dan membongkar limbah batubara yang dijadikan material urug lantai, di salah satu rumah warga. Keberadaan preman itu pun disampaikan Nasir di depan jajaran direksi PT PRIA, Direktur Utama PT PRIA Tulus Widodo, dan Manajer Pengembangan Bisnis PT PRIA, Christine Dwi Arini serta karyawan lainnya.

Nasir mengaku gerah, sejak kedatangannya bersama rombongan pukul 11.15 WIB selalu dikuntit pria berbadan besar. Ia mengungkapkan sempat takut. “Kami sempat takut lho? Baru kali ini saya kunjungan ada preman yang mengawal,” ucap Nasir tanpa menunjukan raut gurau.

Nasir pun menyampaikan, bahwa dia pernah berkunjung ke perusahaan berskala besar, dan tidak ada preman yang dilibatkan dalam pengamanan pabrik.

“Kami pernah ke Chevron dan Freeport, tidak ada premannya,” ucap Nasir seraya memberikan saran kepada pihak PT PRIA, agar tidak perlu menggunakan jasa pengamanan yang berlebihan, apalagi melibatkan preman.

Rasa gerah juga dialami anggota Hary Purnomo, anggota Komisi VII DPR lainnya. Bernada seloroh ia mengatakan: “Itu preman peliharaan sini ya?,” Harry yang dikenal tegas ini juga mempertanyakan poster-poster dukungan pada PT PRIA yang dibawa ratusan karyawan yang berbaris di dalam areal pabrik.

“Apa maksudnya tulisan-tulisan (poster) itu?,” kata Harry.  Ia lalu mengingatkan manajemen perusahaan agar tidak ada pengkondisian demi citra baik perusahaan yang sedang bermasalah.

Menjawab pertanyaan anggota dewan, Direktur Utama PT PRIA,  Tulus Widodo sempat berpura-pura seakan tak tahu menahu mengenai preman penjaga pabrik.

“Kami enggak tahu,” kata Tulus sambil menunjukkan gelengan kepala. Setelah silang sengkelit pembicaraan dengan anggota Komisi VII, ia pun akhirnya mengakui dan menurutnya itu hal biasa. “Biasalah untuk pengawalan” ucap Tulus.

Sekadar diketahui, keberadaan preman juga sempat menghalang para jurnalis yang sedang meliput. Begitu sampai di pintu gerbang pabrik bersama rombongan Komisi VII dan pejabat KLHK, para jurnalis sempat dihalangi sejumlah preman dan satpam pabrik yang menjaga pintu gerbang. Setelah beberapa lama kemudian baru diizinkan mengikuti kegiatan di dalam areal pabrik.

Keberadaan para preman PT PRIA yang sering mengganggu ini, sudah berlangsung sejak lama. Saking seringnya, situasi ini sempat pernah mengaburkan ingatan peneliti dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Riska Darmawanti.

Saat itu Riska sedang mendampingi warga ke DPR, dia melihat anggota Fraksi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu. Meski mengaku belum pernah bertatap langsung, bagi Riska wajah Adian tak asing, karena mantan aktivis kampus itu beberapa tahun terakhir menghiasi media massa. Entah mengapa, pada saat itu Riska menyangka, pria yang mengenakan kemeja putih dan berkacamata itu adalah salah satu anggota preman.

“Siapa ya dia, perasaan pernah tahu. Saya kira preman PT PRIA, Eh…ternyata Adian Napitupulu,“ cerita Riska.

Riska pun bercerita bahwa pada saat itu dia juga sempat menpertanyakan sosok Adian pada saat itu, “Bapak siapa?“

“Saya anggota DPR, mana yang lain?,“ ucap Riska menirukan jawaban Adian.

Penelusuran indeksberita.com, di situs resmi DPR RI; dpr.go.id, Adian tercantum sebagai anggota Komisi VII dengan nama lengkap, Adian Yunus Yusak Napitupulu, SH dengan nomor anggota 156 dari Daerah Pemilihan Jawa Barat. Namun dia tidak tercantum dalam daftar nama ke 13 anggota DPR RI yang tengah berkunjung di desa yang sudah 5 tahun menghadapi persoalan limbah B3.

Sebagaimana tercantum dalam daftar nama kunjungan tersebut terdapat, Syaikul Islam Ali dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), bertindak sebagai ketua tim. Selanjutnya, terdaftar sebagai anggota tim adalah: Nazarudin Kiemas, Tony Wardoyo, dan Dony Maryadi Oekun dari Fraksi PDI Perjuangan. Ada pula Eni Maulani Saragih dan Bambang Atmanto Wiyogo, keduanya dari Fraksi Partai Golkar. Lalu ada Harry Purnomo dan Bambang Haryadi dari Fraksi Gerindra. Ada pula Mat Nasir, Totok Daryanto, dan Hadi Zainal Abidin, yang masing-masing dari Fraksi Demokrat, Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), dan Fraksi PKB. Dan dua lagi anggota, Ari Yusnita dan M. Farid Al Fauzi dari Fraksi Nasdem dan Fraksi Hanura.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait