Jumat, 2 Desember 22

Sergab, Revolusi Pangan Ala Mentan

Jakarta- Menyikapi merosotnya harga gabah disaat panen raya, Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman  bekerja keras untuk menyerap gabah petani di semua daerah dengan membentuk dan mengerahkan Tim Serap Gabah (Sergab). Ini menandakan, Mentan Amran tidak hanya sukses menaikan produksi pangan, tetapi juga sukses menangani hilirisasi dan tata niaga pangan, sehingga addedvalue atau nilai tambah bagi petani meningkat.

“Jangan sampai kejadian pahit panen raya padi Maret hingga April 2015 terulang lagi. Petani menjerit harga gabah jatuh, Bulog tidak berdaya menyerapnya.  Kini memasuki awal panen raya, harga gabah sudah anjlok,” ujar Suwandi, Kepala Pusat Data dan Informasi Kementan.

Program Sergab petani oleh Bulog tersebut dicanangkan Mentan Amran Sulaiman pada 12 Maret 2015 di Sukabumi. Tujuannya bukan sekedar membeli gabah petani, tetapi merubah secara mendasar struktur pasar pangan yang ada selama ini.

Suwandi menjelaskan realisasi Sergab pada 16 April 2016 sebesar 1.064.302 ton gabah kering panen (gkp) atau setara dengan 490.034 ton beras. Sergab ini jauh lebih tinggi dibandingkan minggu II atau 17 April 2015 yang hanya sebesar 145.136 ton gkp atau setara 73.729 ton beras.

Data Kementan menyebutkan panen raya padi pada Maret hingga Mei 2016 diharapkan menghasilkan produksi 30.9 juta ton gkg setara dengan 19.5 juta ton beras. Produksi ini naik lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2015.

Sementara kebutuhan konsumsi beras nasional selama tiga bulan hanya 7.98 juta ton. “Artinya karena besarnya produksi padi tahun ini, diperoleh surplus beras sebesar 11,52 juta ton,” sebut Suwandi.

Terkait harga gabah, BPS merilis harga gabah kering panen di tingkat petani pada Maret 2016 turun 9,76 persen dibandingkan Februari 2016. Namun harga beras di penggilingan periode yang sama hanya turun 1,84 persen, di pedagang grosir hanya turun 0,44 persen dan beras di pedagang eceran hanya turun 0,56 persen.

“Keberhasilan sergab dan menstabilkan harga ini merupakan bukti konkret Mentan melakukan revolusi mental di sektor pertanian” tegas Suwandi.

Menurut Suwandi, Mentan telah melakukan revolusi mental bagi pegawai Kementan melalui, pertama, lelang jabatan secara professional dan transparan. Kedua, mendidik disiplin bekerja full time perhari dan terjun langsung di lapangan. Ketiga, merancang dan mengerjakan program secara terukur. Keempat, mengawal program secara harian atau mingguan dan kelima, menerapkan pola reward and punishment secara ketat dan berbagai kebijakan lainnya.

“Dampaknya adalah luas tanam peningkat dan produksi hampir seluruh komoditas meningkat pada tahun 2015,” ungkap Suwandi.

Kini, lanjut Suwandi, Mentan pun berhasil melakukan “revolusi mental di bidang pangan” pada institusi Bulog. Yakni merubah pola kerja konvensional diganti dengan cara kerja yang baru, yaitu, pertama, merubah kebiasaan Bulog membeli beras yang hanya menguntungkan middle-man menjadi membeli gabahlangsung ke petani.

Kedua, merubah dari biasa bermitra hanya ke pedagang atau penggilingan menjadi bermitra petani dan seluruh stakeholder. Ketiga, merubah cara kerja pasif yaitu beras diantar pedagang langsung ke gudang Bulog menjadi menjemput bola turun langsung ke sawah membeli gabah.

“Keempat, mengajarkan praktek bisnis yang profesional dan menguntungkan sekaligus melindungi yang lemah,” terang Suwandi.

Revolusi mental melalui Program Sergab ini diyakini berdampak ekonomi lebih luas, memperpendek rantai pasok semula 7 hingga 9 level menjadi 3 hingga 4 level saja, memberikan perlindungan harga dan profit bagi petani, konsumen memperoleh harga murah Rp7.500 hingga 8.000/kg, merubah struktur dan prilaku pasar pangan, serta mewujudkan keseimbangan manfaat dinikmati antara produksen, pedagang dan konsumen.

Setelah berakhirnya Tim Sergab menjalankan tugas ad-hoc mengatasi panen raya sampai akhir Mei 2016, otomatis tugas dilanjutkan Bulog dengan mencermati cara bisnis yang pro-aktif turun ke lapangan dan membenahi infrastruktur pengering, pengolahan dan gudang untuk mengelola padi, jagung dan kedelai sesuai penugasan dari pemerintah.

“Dengan demikian, Bulog betul-betul mampu menjalankan tugas sebagai stabilisator harga dan pengelola stok pangan pemerintah,” tutur Suwandi.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait