Senin, 3 Oktober 22

Sepatu dan Nasionalisme

Apa sumbangan sepatu dalam sejarah manusia? Ada beberapa cerita atau dongeng yang berkaitan dengan sepatu. Sebut saja cerita Kucing Bersepatu Lars dan Cinderella yang bisa menikah dengan sang pangeran ‘gara-gara’ sepatu kacanya.

Tulisan hendak menjelaskan bahwa ada hubungan antara sepatu dan politik, antara sepatu dan nasionalisme.

Dalam kisah Cinderella, sebenarnya tokohnya adalah sepatu. Upik Abu tak bisa dan tak pernah memikat pangeran jika ia tak mengenakan sepatu kaca. Sepatu kaca itu membuat ia cantik dan memesona. Pangeran dalam dongeng itu memilih perempuan yang telapak kakinya bisa pas dengan sepatu kaca tersebut.

Sepatu kaca adalah pemeran utama, dan Cinderella tak lebih sebagai tokoh pembantu. Pada film “Dead Poets Soeciety”, guru dan siswa di situ hanya pemeran pembantu. Tokoh utama film itu adalah puisi.

Di Perancis, sepatu yang sedang trend hanya bisa dimiliki kaum borjuasi. Rakyat jelata hanya mempunyai sepasang sepatu untuk bekerja. Sebaliknya, Marie Antoinette, Ratu Perancis yang akhirnya dipancung dengan guilotine tahun 1793, konon punya satu pelayan yang khusus mengurus 500 pasang sepatunya.

Sementara, tak jauh dari Indonesia, saat rakyat Filipina berhasil menggulingkan diktaktor Ferdinand Marcos pada 1986 melalui Revolusi EDSA – nama jalan Edmundo dos Santos Avenue -, di Istana Malacanang, Manila, ditemukan 3.000 pasang sepatu koleksi Imelda Marcos.

Di Inggris, salah satu politisi yang menyebut sepatu sebagai bagian penting pembentukan citra adalah mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Mantan pemimpin Partai Buruh ini menyebut tanpa sepatu, ia tak akan pernah menduduki jabatan sebagai perdana menteri.

Tony Blair mengatakan, dengan sepatu yang pas ia makin percaya diri saat mengikuti fit and proper test. “Tiga pertanyaan saya jawab tanpa salah. Saya tahu ini aneh, tapi saya rasa ini semua berkat sepatu saya,” ujar Anthony Charles Lynton Blair yang memimpin Partai Buruh selama 13 tahun ini.

Karena itu, pantas Blair jika ia menyebut bahwa kesuksesan seorang pria bisa dilihat dari sepatu yang dikenakan. Tak heran, ia juga pernah mengomentari bahwa sepatu murah yang diproduksi oleh suatu negara menandakan lemahnya ekonomi sebuah negara.

National Geographic edisi September 2006 menulis tidak saja keunikan bentuk sepatu dari masa ke masa, melainkan ide dan filosofi sepatu itu sendiri. “Every Shoe Tells a Story”, begitu judul artikel Cathy Newman, “Setiap Sepatu Menuturkan Kisah”. Sepasang sepatu boot yang kuat, tulis Maxim Gorky, “Akan lebih banyak membantu kejayaan sosialisme daripada… mata berwarna hitam.” Tentu saja Gorky tidak sedang membual. Rusia, kita tahu, adalah negeri yang berdekatan dengan kutub utara, situasi yang membuat negeri Gorbachev dan Putin itu jauh lebih akrab dengan salju daripada sinar matahari. Dalam film “Dokter Zhivago”, salju bertebaran di mana-mana. Lantas, timbul pertanyaan, bisakah Revolusi Oktober 1917 terjadi tanpa sepatu boot yang kokoh? Jawabannya tentu tidak!

Sejarah perang-perang besar pada abad 20 juga bisa dibaca sebagai sejarah sepatu. Di atas topangan sepatu boot yang perkasa, tentara NAZI menyerbu Polandia dan merebut Paris. Dari sisi yang tak pernah dibicarakan orang, Biltzkrieg pastilah mengikutsertakan ratusan ribu pasang sepatu boot. Juga para serdadu Amerika Serikat yang dikirim ke Vietnam dan Irak.

Sepasang sepatu serdadu di medan perang mungkin bisa mengisahkan mayat-mayat yang mereka singkirkan dari jalanan dengan menggunakan boot-boot mereka.

Indro Tjahjono, aktivis mahasiswa ITB 1978 diadili karena sikap kritisnya terhadap pemerintah militeristis Soeharto. Dalam pledoinya berjudul “Indonesia di bawah Sepatu Lars” Indro membedah militerisme di negeri ini, yang dimulai setelah Soeharto mengambil kekuasaan dari Soekarno. Namun, pada 2009, Indro bergabung dengan Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat bukan Hati Nurani Tentara) pimpinan Wiranto. Tak heran jika banyak kawan Indro meledeknya. “Dulu di bawah sepatu lars, sekarang di dalam sepatu lars…tapi berAC”.

Pada 1989, mahasiswa ITB menolak kedatangan Mendagri Rudini di ITB. Para mahsiswa membakar ban bekas di kampus. Aksi itu menimbulkan kemarahan pemerintah. Beberapa mahasiswa ditangkap militer.

Merespon kejadian itu, aktivis Pers Mahasiswa Didaktika dan mahasiswa IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) lainnya mengadakan aksi mimbar bebas di kampus Rawamangun. Ini adalah aksi besar pertama di dalam kampus di Jakarta yang dihadiri sekitar 3.000 mahasiswa se Jakarta. Pada penutupan aksi itu dibakar patung sepatu lars raksasa dari kertas setinggi 2,5 meter yang melambangkan arogansi militer di Indonesia.

Di Bagdad, Muntazer al-Zaidi barangkali tak akan menjadi terkenal dan menghebohkan dunia jika ia bertanya atau mengemukakan pernyataan seperti wartawan biasa kepada Presiden Amerika Serikat George W. Bush, saat konperensi pers pada 14 Desember 2008. Namun karena sepasang sepatu Zaidi dibuka dan dilemparkan ke Bush, maka gemparlah dunia. Bisa jadi, seperti kisah Cinderalla, pemeran utama kehebohan itu adalah sepatu itu sendiri, dan Zaidi adalah pemeran pembantu!

Jusuf Kalla, saat menjadi Wapres SBY, mengatakan, sepatu adalah lambang nasionalisme, karena itu kita harus menunjukkan nasionalisme melalui kecintaan terhadap sepatu lokal, dan memakainya. Mendukung industri sepatu nasional dengan memakai sepatu domestik adalah wujud nasionalisme nyata saat ini. Pendek kata, bersepatu (lokal) kita teguh bercerai kita runtuh. Sepatu dengan merek JK buatan Cibaduyut kini telah dipakai secara nasional.

Di Jogja, seorang memakai sepatu merek New Balance, produksi perusahaan sepatu asal Amerika Serikat yang berdiri sejak 1906, menginjak kepala seorang mahasiswa asal Papua, Obby Kogoya. Kita tak tahu persis sepatu dan kaki siapa yang menginjak Kogoya. Apakah polisi atau anggota ormas yang mengaku nasionalis itu (tetapi tak memakai sepatu nasional seperti saran JK). Aktivis buruh Wahyu Susilo dalam status Facebooknya menulis “Telah beredar sepatu terbaru merek NEOFASIS.. COCOK untuk menindas dan membungkam mereka yang menuntut MERDEKA”.

Jika Muntazer al-Zaidi melempar sepatu ke Bush karena alasan nasionalisme. Bisa jadi, pemakai sepatu NB yang menginjak Kogoya juga karena alasan sama: nasionalisme. Namun yang tak terpikirkan oleh si penginjak Kogoya dan mungkin polisi yang mengepung Asrama Mahasiswa Papua di jalan Kusuma Negara Jogja, lewat sepatu itu nasionalisme rakyat Papua makin mengental sebagai sebuah bangsa.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait