Senin, 3 Oktober 22

Sepakbola dan Kita

Setiap ada perhelatan akbar sepakbola, seperti sekarang ini, Piala Eropa bersamaan dengan Copa America Centenario 2016, saya selalu teringat lelucon tentang tiga Gus. Apa persamaan dan perbedaan antara Guus Hiddink, Gus Dur dan Gusmao. Persamaannya ketiganya gila sepakbola. Guus Hidink pelatih sepakbola asal Belanda, Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid adalah kolumnis yang piawai mengalisis peristiwa sepakbola, sementara Xanana Gusmao adalah mantan kiper kesebelasan Academica di Dili sebelun TNI menduduki negeri itu 1975. Lalu, apa perbedaan dari tiga Gus? Negara Guus Hiddink pernah menjajah negara Gus Dur, negara Gus Dur pernah menjajah negara Gusmao!

Membicarakan sepakbola tak melulu membahas soal bagaimana dua puluh dua pemain merebut satu bola dan memenangkan pertandingan. Tidak itu saja. Sepakbola adalah budaya, bahkan di Amerika Latin dianggap seperti agama. Gereja semakin sepi, sementara stadion kian penuh pengunjung. Menurut Gus Dur, sepakbola adalah kehidupan manusia. “Bukankah kita akan diperkaya dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia, oleh sesuatu yang terjadi di lapangan sepakbola? Sepakbola merupakan bagian kehidupan, atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepakbola?” (Gus Dur, Kompas, 18 Juli 1994)

Masih tentang Gus Dur, Dalam Journal TV yang menyiarkan pidato Gus Dur ketika dijamu Beatrix (Februari 2000), tidak ketinggalan ia mengeluarkan guraunya. Ketika itu Gus Dur mengatakan bahwa ia minta maaf kepada kesebelasan Ajax dan Feyenoord, karena selama ini dirinya mendukung PSV Eindoven.

Jawaban Gus Dur di atas sepertinya nyambung dengan humor yang beredar di masyarakat tentang sepakbola di Tanah Air. Kenapa kesebelasan nasional kita tak banyak berbicara di tingkat internasional, bahkan ASEAN? Semua orang Indonesia paham, itu ada akar sejarahnya, mengapa sepakbola negeri kita tidak maju, “Itu karena dulu kita dijajah VOC, coba kalau yang menjajah Ajax Amsterdam atau PSV Eindoven!”

Coba simak kisah di sebuah kafe di Dili Timor Leste saat acara nonton bareng sepakbola Piala Eropa. Ketika itu kesebelasan Belanda melawan Portugal. Dua orang, Timor Leste dan Indonesia ikut menonton. Mereka mendukung kesebelasan yang berbeda. Anehnya, orang Timor Leste mendukung kesebelasan Portugal, sementara orang Indonesia mendukung kesebelasan Belanda. “Masak kamu mendukung bekas penjajah,” kata orang Indonesia. “Lha, kamu juga mendukung bekas penjajah,” jawab orang Timor Leste.

Sepakbola memang tak lepas dari politik, dalam akhir pledoi atau pembelaan saya di sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (September 1995), saya menulis tentang Soeharto dan sepakbola: “Saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa saya bukanlah orang terakhir yang mengalami pemenjaraan Orde baru seperti sekarang ini. Masih akan ada lagi calon-calon penghina Soeharto. Hal itu akan terjadi, karena memang pada dasarnya Soeharto patut dihina. Untuk itu saya berpesan, agar anda latihan dulu. Anda boleh menghina Soeharto sepuas-puasnya dengan meneriakkan yel-yel : “Ganti Soeharto !” , “Soeharto Goblok !”, dll, tanpa kena jerat pasal 134 KUHP. Bagaimana caranya ? Tontonlah sepakbola antara Medan Jaya melawan manapun, di mana salah seorang pemainnya bernama Soeharto. Anda akan beruntung, membeli satu tiket bisa menonton bola, karate, bahkan bisa menghina Soeharto sepuas-puasnya.”

Saking eratnya hubungan antara sepakbola dan politik, PSSI pernah diberi sanksi oleh FIFA karena pemerintah dianggap terlalu campur tangan terhadap organisasi sepakbola tertinggi itu. Politik di negeri kita bahkan dianggap mirip permainan sepakbola, saling oper bola, tidak berani mengeksekusi sehingga tidak pernah membuat goal. PSSI ditengarai dikuasai oleh mafia yang berkolusi dengan sebuah partai politik, hasilnya perteteruan antar pengurus tak ada habisnya. Di Indonesia para pengurus PSSI yang berkonflik lebih terkenal dibanding pemain.

Tak heran masyarakat kemudian lebih suka menonton liga-liga internasional dibanding liga domestik. Mereka juga rajin membuat lelucon, misalnya: Tahukah Anda bedanya mesin rusak sama PSSI? Mesin rusak tahu kapan saatnya diganti. Juga simak satu lagi: Apa yang dilakukan suporter Indonesia setelah jadi juara Piala Dunia? Dia akan mematikan Playstation-nya.

Sambil menunggu saur selama bulan Ramadhan, kita kini disuguhi dua perhelatan akbar yaitu Piala Eropa dan Copa America 2016. Sejenak melupakan hiruk-pikuk PSSI yang ini sudah dicabut sanksinya oleh FIFA. Kita juga tak perlu berdebat mengapa PSSI kembali memilih pelatih Alfred Riedl untuk menukngi PSSI menghadapi Piala AFF 2016. Yang paling penting saat ini mari menikmati kehebatan Ronaldo dan Rooney di Piala Eropa dan Messi di Copa America.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait