Jumat, 9 Desember 22

Semangat Kartini yang Melemah atau Salah Kaprah?

“Ibu kita dan puteri sejati” itu bernama Raden Adjeng Kartini. Dia terlahir sebagai anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri dari keluarga Priyayi, di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879. Sejak 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan hari lahirnya itu sebagai Hari Kartini melalui Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964. Keppres itu juga menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Belakangan, peringatan Hari Kartini juga dimaknai sebagai hari emansispasi perempuan. Kartini menjadi simbol persamaan hak perempuan Indonesia, bahwa Perempuan Indonesia memiliki persamaan kedudukan dengan laki-laki.

Namun, sebagian kalangan khususnya aktivis Feminis Indonesia sering mempertanyakan keabsahannya sebagai seorang Pahlawan. Apakah seseorang, yang bahkan tidak kuasa untuk menghindari paksaan kepada dirinya termasuk untuk menerima pernikahannya yang dipaksakan, dapat menjadi seorang Pahlawan? Apakah kemudian dia pantas disebut simbol perjuangan kesetaraan gender? Namun, tulisan ini tidak akan membahas kontroversi kepahlawanan Kartini, melainkan fenomena yang terjadi setiap menjelang peringatan Hari Kartini tersebut.

Sejatinya, memperingati hari kelahiran Kartini adalah memperingati semangatnya. Dalam banyak hal, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Sehingga muncul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi. Ia begitu gelisah akan nasib bangsanya saat itu, terutama melihat kaum Perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah, terjajah, buta huruf, miskin, dan tak berkesempatan mengenyam pendidikan yang layak yang setara dengan kaum laki-laki.

Bahkan, kaum Perempuan di era Kartini tak memiliki hak untuk berpendapat dan diperlakukan tak adil. Kaum Perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi atau punya kemampuan baca-tulis, karena peran dan tugasnya hanya berada di wilayah domestik, rumah tangga. Sebatas dapur, sumur, dan kasur.

Kegelisahan Kartini mengenai keadaan dirinya dan nasib Perempuan kala itu ia ungkapkan dalam puluhan suratnya kepada beberapa temannya di Eropa, termasuk Rosa Abendanon. Pasca kematiannya, surat-surat itu lantas dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Dari surat-suratnya, nampak besar keinginan Kartini untuk mendapatkan pendidikan yang layak agar bisa membantu kaumnya. Kartini juga menaruh perhatian pada soal emansipasi Perempuan. Dia melihat perjuangan Perempuan untuk memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan sosial dan politik yang lebih luas.

Saat ini, kondisinya telah jauh berbeda dengan masa Kartini. Kaum Perempuan sudah memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang. Meski demikian, upaya pengarus-utamaan gender masih harus terus diperjuangkan. Dengan segala kesempatan yang begitu terbuka, Perempuan masa kini harus selalu siap bersaing dan bergerak dengan cepat.

Maka, kembali ke peringatan Hari Kartini, hal yang seharusnya bernafaskan semangat perjuangannya, namun semangat itu kini seperti kabur atau menjadi semangat yang salah kaprah.

Semangat yang Salah Kaprah?

Salah Kaprah atau karena ketidakpahaman sejarah membuat peringatan Hari Kartini meleset jauh dari koridornya. Sebagai seorang ibu yang memiliki tiga orang anak yang masih sekolah, saya juga menikmati kesalah-kaprahan itu. Tiap jelang peringatan Hari Kartini kesibuka para ibu bertambah karena harus berburu baju daerah. kebanyakan sekolah terutama tingkat taman kanak-kanak dan sekolah dasar di seluruh Indonesia seakan seragam memperingatinya dengan lomba fashion show pakaian daerah. Bahkan saya pernah juara lomba itu untuk kategori keserasian Ibu dan anak.

Selain itu, ada juga yang merayakannya dengan karnaval parade baju-baju daerah, lucunya ada juga yang mengadakan lomba Kartini cilik dengan berkebaya ala Kartini. Kesalah-kaprahan itu terus berulang terjadi tiap tahun.

Pertanyaannya, apakah hubungan antara pakaian daerah dengan Hari Kartini? Dalam benak saya, yang terlintas positif mungkin hal itu dapat menanamkan cinta tanah air Indonesia yang beragam budaya kepada anak-anak.Tapi lomba itu sendiri tidak pernah disertai dengan ilustrasi cinta tanah air, melainkan lebih mengutamakan kepada fashionnya, dimana anak-anak yang masih polos diperintahkan berjalan di catwalk dengan berbagai gaya.

Bahkan saya sering dibuat melongo ketika melihat anak-anak Usia TK didandani bak orang dewasa plus sapuan make up yang tebal di wajahnya, serta lenggak-lenggok seperti model professional. Demikian pula dengan kategori penilaiannya yang mirip seperti pemilihan model professional semisal keserasian berpakaian dan aksesoris, keserasian dandanan dan gaya, keluwesan berjalan dan sebagainya.

Oh My God, ini peringatan hari Kartini atau Peringatan Hari Peragawati? Lebih heboh lagi ketika Ibu-ibu orangtua/wali siswa ikut berkebaya dengan aneka warna dan berpaduan suara menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini”. Lalu dimana semangat Kartini-nya?

Kesalah-kaprahan yang berulang terjadi dan diamini secra berjamaah ini akhirnya dianggap sebagai sebuah tradisi. Sedikit melihat sejarah, tradisi ini berawal dari kembalinya domestifikasi Gerakan Perempuan di era Orde Baru. oleh Sejumlah organisasi perempuan seperti Dharma Wanita dan PKK saat itu lebih mengutamakan kegiatan yang berhubungan dengan semangat emansipasi kepada gerakan domestik perempuan dalam rumah tangga. Akhirnya semangat dan ruh emansipasi itu melemah.

Akibat ketidakpahaman sejarah, peringatan Hari Kartini yang seharusnya diisi dan dimaknai untuk emansipasi dan kesetaraan gender, maknanya bergeser menjadi sebuah tradisi lomba fashion show pakaian daerah.

Tradisi ini sebaiknya harus segera diakhiri dan kita ubah dengan mulai menanamkan kembali semangat Kartini. Semangat ingin merdeka, semangat ingin lebih maju dan pintar, semangat ingin mengubah nasib bangsa dan kaumnya.

Semangat Kartini itu harus terus bergelora dalam jiwa-jiwa polos anak-anak kita. Bukan semangat berpakaian kebaya seperti Kartini, melainkan semangat untuk terus memperoleh kemerdekaan. Kemerdekaan memperoleh kehidupan yang layak, kemerdekaan untuk mendapatkan pendidikan, perlindungan, kemerdekaan menyatakan pendapatnya, kemerdekaan untuk didengarkan, dan kemerdekaan untuk bertumbuh kembang menjadi seperti yang mereka cita-citakan.

Akhirnya, seperti Kata Soekarno: “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Maka, memperingati kepahlawanan tidak tepat jika diisi dengan kegiatan seremonial yang bahkan tidak ada kaitan dengan nilai perjuangannya. Memperingati kepahlawanan seharusnya meresapi nilai-nilai perjuangannya, mempelajari makna dan tujuan perjuangannya.

Selamat Hari Kartini, 21 April 2016
Penulis adalah Ketua Umum Gen Taskin, Aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak, Aktivis 98

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait