Kamis, 16 September 21

Sejarah Panjang Kebun Teh Puncak

Perkebunan Teh Gunung Mas Puncak yang merupakan salah satu perkebunan teh terluas di Jawa Barat. Informasi yang dihimpun, Perkebunan Teh ini berdiri pada tahun 1910, dan merupakan salah satu unit usaha PT. Perkebunan Nusantara VIII, hasil penggabungan perkebunan Gunung Mas dan Cikopo sejak tahun 1972.

Pada tahun 1910, perkebunan Gunung Mas dibuka maskapai Perancis dengan nama Gonoeng Mas Prancoise Nederlandise de Culture etde Commerce. Selanjutnya, pada tahun 1912 berdiri perusahaan Jerman yang bernama NV Culture My Tjikopo Zuid. Kemudian pada tahun 1949 karena Jerman kalah dalam perang dunia II, perusahaan ini diminta oleh pemerintah Belanda dan dikelola pusat perkebunan negara yang dulu disebut dengan GLB. Selanjutnya, pada tahun 1954 berganti pengelola perusahaan Belanda dengan nama “NV Tedeman Van Kerchem (TVK) yang berkantor pusat di bandung.

Baru pada tahun 1958 diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia yang kemudian dinasiolisasi ke dalam PPN Baru Kesatuan Jabar II. Ketika diadakan reorganisasi pada tahun 1963 lokasi ini dimasukan dalam PPN Antan VII dan kemudian pada tahun 1971 masuk PNP XII. Pada tahun yang sama, status PNP XII berubah lagi menjadi PT Perkebunan XII (persero).

Pada tanggal 11 Maret 1996 PT Perkebunan XII berubah nama lagi menjadi PT. Perkebunan Nusantara VII. Informasi yang dihimpun, sedikitnya terdapat 68 kebun aneka tanaman, termasuk teh yang dikelola pemerintah. Panjangnya sejarah keberadaan kebun teh di Puncak ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Menurut cerita orangtua, dulunya kebun teh berada dibawah pengelolaan orang-orang Belanda. Sebelumnya, di Puncak masih banyak hutan. Tapi, kemudian dibabat dan diganti dengan kebun teh. Konon, kabarnya tenaga kerja didatangkan dari luar daerah,” ujar penjaga tiket Gunung mas, Asep mengkisahkan pada indeksberita.com, Minggu (29/5/2016).

Seiring berkembangnya perkebunan, jalan serta permukiman dan perkantoran tumbuh subur. Keberadaan perkebunan teh di Puncak, belakangan juga menandai perubahan sosial masyarakat di kawasan tersebut.

Sejak ganti pengelolaan, dikabarkan saat itu juga menjamurnya vila di Puncak yang kepemilikannya didominasi kalangan berada warga luar Bogor. Perkebunan yang awalnya menjadi urat nadi kehidupan sekarang menjadi salah satu dari sekian banyak daya tarik wisata di kawasan ini. (eko)

Berita Terbaru
Berita Terkait