Minggu, 25 September 22

Satuan Anti-Teror selalu Aktual

Dalam operasi penyergapan Santoso (pimpinan teroris kelompok Poso) beberapa waktu lalu, ada fenomena menarik dimana yang “mendapatkan” Santoso adalah satuan dari Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), yaitu Yonif 509/ Raider yang bermarkas di Jember, Jawa Timur.

Publik sempat bertanya-tanya, lalu dimana posisi satuan anti teror Kopassus dalam Operasi Tinombala kali ini. Pertanyaan yang sama juga muncul saat terjadi teror bom di Sarinah Thamrin (Jakarta Pusat), pertengahan Januari lalu.

Strategis Terpilih

Perlu ada klarifikasi soal peran dan fungsi satuan anti-teror Kopassus ini, yang nama resminya Satuan Penanggulangan Teror 81 (Satgultor 81) Kopassus. Kata kunci Satgultor 81 adalah strategis terpilih, artinya yang menjadi sasaran penindakan Satgultor 81 adalah obyek atau kasus yang masuk kategori strategis terpilih. Peristiwa teror bom di Thamrin dan pengejaran kelompok Santoso, belum lagi masuk kategori strategis terpilih.

Apa yang dimaksud sebagai strategis terpilih, bisa dijelaskan dengan merujuk pada operasi atau simulasi yang pernah dilakukan Satgultor, seperti pembajakan pesawat terbang (ingat Operasi Woyla), pembebasan sandera pada obyek vital (kedutaan besar misalnya), pembajakan di gedung tinggi, dan seterusnya.

Kualifikasi personel Satgultor 81 secara umum lebih tinggi dari satuan sejenis (primus inter pares) dan paling lama didirikan (tahun 1981). Oleh karenanya personel Satgultor baru diturunkan, bila ancaman itu bersifat kompleks dengan skala kesulitan terbilang tinggi. Dan satu lagi yang harus diingat, palagan yang disediakan bagi Satgultor ada pada ruang yang terbatas (seperti pesawat terbang dan gedung), dan biasanya di perkotaan, bukan pertempuran konvensional di dataran luas atau rimba raya. Itu sebabnya model operasi penindakan dari Satgultor 81 (juga satuan anti-teror lainnya), memiliki istilah teknis Pertempuran Jarak Dekat (PJD, Close Quarters Battle)

Apa yang kita lihat dalam Operasi Tinombala, itu sudah lebih dari sekedar operasi anti-teror, sehingga kurang tepat pula bila personel Satgultor diturunkan. Operasi di Poso lebih tepat disebut sebagai operasi lawan gerilya (counter insurgency), dilihat dari segi jumlah personel yang diturunkan dan lamanya waktu operasi. Satgultor dilatih untuk bergerak dalam unit kecil, dengan durasi sangat cepat, bukan lagi dalam hitungan jam, tapi menit. Sementara operasi di Poso, jumlah personelnya yang diturunkan mencapai ribuan, palagannya luas dan berbulan-bulan di lokasi.

Operasi Lawan Gerilya

Satuan-satuan berkualifikasi Raider di bawah Kostrad atau Brimob Polri masih bisa melaksanakan operasi lawan gerilya, karena jumlah personelnya relatif besar. Seperti Densus 88 dan Brimob misalnya, di mana setiap Polda memiliki satuan tersebut. Terlebih Brimob, yang salah satu tugas pokoknya memang operasi lawan gerilya. Sementara “karakter” Satgultor bukan untuk operasi semacam itu. Bila Kopassus pada akhirnya mendapat tugas operasi lawan gerilya, bukan Satgultor yang dikirimkan, namun satuan lainnya seperti Grup 1 dan Grup 2 (kualifikasi para komando), atau Grup 3 (Sandi Yudha, operasi senyap).

Bagi negeri kita, begitu krusialnya ancaman teroris atau teror itu, satuan anti-teror juga dikembangkan di angkatan lain. Seperti Detasemen Jala Mangkara (Denjaka Korps Marinir), Komando Pasukan Katak TNI-AL, Detasemen Bravo 90 Paskhas TNI-AU, Satuan Gegana (Brimob Polri), dan Densus 88 (Polri).

Beberapa perwira yang pernah bertugas lama di satuan anti-teror sependapat, dalam mengukur tingkat keandalan sebuah satuan anti teror, jangan dilihat satuan itu berada di bawah marinir, polisi atau tentara. Namun dilihat bagaimana intensitas pelatihannya, perencanaan, peralatan, rasa percaya diri, dan responsif saat eksekusi di lapangan. Oleh karenanya mutlak adanya sinergi antar satuan anti-teror, baik di bawah TNI atau Polri.

Saat Ryamizard Ryacudu menjabat KSAD (2002-2004, kini Menhan), dia menjalankan program peningkatan kualifikasi satuan setingkat bataliyon (yonif), agar memperoleh kualifikasi Raider. Kini program itu terus berkembang. Salah satu penandanya, dalam setiap yonif raider terdapat unit anti-teror. Seingat saya yang merintis unit anti-teror ini adalah Yonif 323/Para Raider Kostrad (Banjar, Ciamis). Saat satuan ini ditetapkan berkualifikasi raider (2003), kebetulan yang menjadi Danyon adalah perwira yang berasal dari Kopassus (Letkol Inf Tri Yuniarto, Akmil 1989). Letkol Tri pernah bergabung dalam Den 81 saat masih berdinas di Kopassus.

Beberapa waktu sebelumnya, juga berdasarkan ide Ryamizard, saat masih menjabat Pangkostrad (2000-2002), dalam Kostrad dibentuk semacam satuan anti-teror pula, yang kemudian dikenal sebagai Tontaipur (peleton intai tempur). Namun sayang, selepas era Ryamizard, satuan Tontaipur kurang berkembang, dan program ini kemudian dilanjutkan pada satuan lain di bawah Kostrad, utamanya yang berkualifikasi raider seperti Yonif 509 yang sudah disebut di awal tulisan ini.

Arti penting sinergi dan koordinasi antar satuan kini semakin terasa, mengingat adanya “metamorfosa” dalam aksi teror: dari teroris (sekelompok manusia) menjadi ledakan bom (benda). Sebagaimana diketahui unit anti-teror di negeri kita, umumnya dilatih untuk menghadapi aksi teror sekelompok orang seperti pembajakan pesawat terbang atau penyanderaan di gedung bertingkat. Bila yang dihadapi adalah bom (termasuk bom bunuh diri), perlu ada metode dan kurikulum pelatihan tersendiri.

Aris Santoso, Analis TNI dan Polri.

 

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait