Kamis, 6 Oktober 22

Satpol PP Batal Bongkar Bangli Puncak, Benarkah Disuap?

BOGOR – Rencana pembongkaran bangunan liar pada Senin (5/9/2016) mendatang di sepanjang jalur Cisarua, Puncak, sepertinya batal dilakukan. Padahal, sebelumnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor sesumbar akan membongkar 500 bangli, termasuk sejumlah bangunan milik pengusaha Arab yang disinyalir tidak berizin dan melanggar Garis Sempadan Jalan (GSJ) atau Daerah Milik Jalan (Damija).

“Beberapa hari sebelumnya, saya mendapat kabar, sejumlah pedagang di Tugu Utara, Cisarua, Puncak berkumpul di warung sate Puncak dan berniat patungan. Masing-masing akan merelakan pemberian uang senilai Rp2 juta hingga Rp3 juta. Yang jadi soal, hal ini sulit dibuktikan. Dugaan saya, uang tersebut akan diberikan sebagai suap,” tukas salah seorang pedagang di sepanjang jalur Cisarua yang minta namanya dirahasiakan karena takut diintimidasi preman setempat, Sabtu (3/9/2016).

Kepada indeksberita.com, pria bertubuh tambun berusia 41 tahun pemilik bangunan yang terlebih dahulu dibongkar Satpol PP itu mengatakan, pihaknya berani bertaruh jika Satpol PP Kabupaten Bogor akan membongkar bangunan Warung Kaleng yang didominasi pengusaha Arab hingga Tugu Utara, Puncak.

“Satpol PP itu cuma membongkar bangunan milik warga yang tidak berduit. Tapi, buat mereka yang berduit dan berani setor, tidak bakal dibongkar. Sebelum pembongkaran pertama dulu, beberapa bangunan di Warung Kaleng milik pengusaha Arab yang melanggar karena berada tepat dipinggir jalan disegel. Anehnya, pada pembongkaran pertama, malah tidak dibongkar. Nah, kalau Satpol PP menyebut akan dibongkar, lihat saja nanti, pasti tidak akan terjadi,” tukasnya.

Terpisah, kabar pembatalan pembongkaran tersebut ternyata dibenarkan Ketua Tim Pembongkaran Bangunan Liar di Kawasan Puncak, Dace Supriyadi. Saat ditemui awak media, ia menuturkan, pembatalan pembongkaran sekitar 500 lapak PKL, disebabkan Pemkab Bogor khawatir angka kemiskinan makin melonjak.

“Untuk sementara ini, pembongkaran kita batalkan dulu, sambil menunggu tempat relokasi untuk penampungan para PKL,” singkatnya.

Sebagai informasi, sebelumnya Senin (22/8/2016), 200 bangunan pedagang oleh-oleh di sepanjang Jalan Raya Puncak, mulai dari simpang Taman Safari Indonesia hingga Ciburial dibongkar Satpol PP dengan menggunakan alat berat. Ironisnya, dari pantauan media online ini, bangunan milik pengusaha Arab di Warung Kaleng, tepi jalan Cisuara, Puncak yang pernah ditempel peringatan tidak dibongkar. Sementara, bangunan yang berada disebelahnya terlihat hancur dibongkar. Pedagang pun menduga operasi pembongkaran yang dituding tebang pilih tersebut lantaran ada permainan uang. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait