Sabtu, 10 Desember 22

SARINAH, SOEKARNO DAN OBAMA

Teror Bom Sarinah

Sarinah, nama pusat perbelanjaan modern pertama di Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016 menjadi sasaran aksi teror. Pada serangan itu sekitar tujuh orang tewas, lima dari terduga teroris, satu WNI dan satu warga Kanada. Mengapa teroris memilih Sarinah sebagai sasaran aksi teror?

Keinginan Soekarno memiliki sebuah pusat perbelanjaan yang baik bagi rakyat  dengan menyediakan barang-barang murah namun bermutu bagus terwujud pada 15 Agustus 1966. Sarinah yang mulai dibangun sejak 1963, diresmikan oleh Soekarno telat satu tahun, karena sebelumnya direncana peresmiannya pada Hari Ibu, 22 Desember 1965. Situasi panas perpolitikan Indonesia kala itu tak memungkinkan.

Sarinah dibangun Bung Karno atas kecintaannya pada sosok perempuan yang mengasuhnya sejak kecil dan mengajarkannya tentang cinta kasih bernama Sarinah. Mbok Sarinah, begitu panggilan Soekarno pada perempuan yang membantu ibu bapaknya mengasuhnya sejak kecil.  Seperti diceritakan dalam biografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams, “Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak menikah, dia kami anggap sebagai anggota keluarga.  Dia tidur dengan kami, tinggal bersama kami, memakan apa yang kami makan, tetapi dia tidak mendapat gaji sepeserpun.”

Soekarno mengaku Sarinahlah yang mengenalkan kasih sayang. Sarinah pula yang mengajari mencintai rakyat. Rakyat Kecil. Selagi Sarinah  memasak di gubuk kecil dekat rumah, Soekarno kecil duduk di sampingnya dan dia memberi nasihat.  “Karno,  di atas segalanya engkau harus mencintai ibumu. Tapi berikutnya engkau harus mencintai rakyat kecil. Engkau harus mencintai umat manusia,” ujar pengasuh proklamator itu.

Gedung Sarinah telah menjadi ikon Jakarta sejak akhir Orde Lama. Tak hanya menyimpan kenangan bagi Presiden Soekarno, gedung tertinggi pertama di Ibukota ini juga diingat jelas dalam nostalgia Presiden AS Barack Obama. Saat Obama berkunjung ke Universitas Indonesia, yang merupakan bagian rangkaian kunjungan kenegaraannya ke Jakarta pada 2010 lalu. Dalam pidatonya, Obama sedikit mengenang masa kecil lewat gedung Sarinah.

“Ini luar biasa bisa berada di sini. Satu-satunya hal yang ada di Jakarta ketika saya pertama kali pindah ke Jakarta adalah Sarinah,” kenang Obama. Ia menambahkan, saat ini Jakarta terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya. Kota ini kini penuh terisi dengan bangunan yang menjulang tinggi. “Ini berbeda pada 1967 dan 1968. Hotel Indonesia menjadi salah satu gedung yang tertinggi. Selain itu, ada juga satu department store besar yang disebut Sarinah,” tambah Obama.

Saat ramah tamah pada jamuan makan malam di Istana Merdeka, Obama mengatakan: “Saya mengingat emm…..Sarinah. Dulu itu bangunan tertinggi, sekarang yang terendah.”  Ucapan tersebut langsung mengundang tawa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan seluruh hadirin yang memenuhi Istana Merdeka.

Brian McNair dalam bukunya Introduction to Political Communication (1999), menyebutkan bahwa  teror adalah sebuah bentuk komunikasi politik, yang dilakukan di luar prosedur konstitusional. Teroris mencari publisitas untuk membawa tujuan psikologis mereka. Mereka menggunakan kekerasan untuk menghasilan berbagai efek psikologis seperti demoralisasi, menunjukkan kekuatan gerakan, mendapatkan simpati publik dan menciptakan ketakutan dan chaos. Untuk mencapai tujuan ini, para teroris harus mempublikasikan aksi mereka.

Melalui pemberitaan mengenai aksi terorisme, kelompok teroris melakukan komunikasi dengan pemerintah di negara tempat mereka melakukan aksi terorisme dan bahkan pemerintah luar negeri. Dengan demikian, sebenarnya kelompok teroris berusaha menciptakan agenda media dengan harapan ada perhatian dari publik terhadap aksi mereka.

Aksi teroris menyerang Sarinah sungguh sarat pesan politik. Selain gedung itu dekat dengan pusat pemerintahan, Istana Negara, juga merupakan pusat bisnis di jantung Jakarta. Kawasan Jalan MH. Thamrin adalah jalan utama di Ibukota. Para penyerang yang diduga dilakukan oleh kelompok yang berafiliasi ke ISIS ingin menyampaikan pesan bahwa ISIS kini eksis di Indonesia.

Boleh jadi pemilihan sasaran serangan yaitu Sarinah dan kafe Starbuck adalah tepat. Sarinah mewakili kepentingan Indonesia, sementara Starbuck mewakili kepentingan Amerika Serikat. Bisa diduga saat Obama dilapori oleh para pembatunya ada serangan di Sarinah, Jakarta, Obama akan langsung teringat gedung itu.

Meski teroris tepat memilih sasaran seperti serangan teroris di Paris dan Istanbul, namun mereka gagal mendapatkan efek yang diinginkan di Jakarta. Serangan teroris mudah dilumpuhkan di kawasan Sarinah. Hal ini terjadi selain aparat keamanan yang cepat bertindak, juga dukungan politik Presiden Joko Widodo yang tegas, “Negara tak boleh kalah dengan teroris dan rakyat tak perlu takut.” Dan tentu saja dukungan masyarakat Jakarta dan rakyat Indonesia yang saling menyemangati untuk tidak takut dan tetap melawan terorisme.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait