Rabu, 29 Juni 22

Salah Satu Gagasan NU Adalah Kehidupan Tanpa Kebencian

Sebagai organisasi organisasi Islam terbesar di Indonesia dan terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai tanggung jawab terhadap tatanan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan juga bernegara. Itu lah yang mendorong gagasan NU untuk menjaga kerukunan dalam berbangsa dan bernegara.

Hal tersebut diutarakan Rais ‘Aam PBNU KH.Ma’ruf Amin saat meresmikan NU Economic and Trade Office (NETO) atau Kantor Dagang dan Ekonomi NU di Taipei, Taiwan,Senin (22/1/2018).

Apalagi menurut Kyai Ma’ruf, Indonesia terdiri dari ribuan suku bangsa, enam agama yang berkembang dan sedikitnya ada 70 organisasi islam. Maka perlu dibangun toleransi dan semangat kebersamaan satu dengan yang lain.

“Tanggung jawab yang kami (Naddlatul Ulama) pikul adalah bagaimana menjaga bangsa kami yang majemuk. Untuk itu NU mencanangkan 3 prinsip untuk mewujudkan kebersamaan tersebut, yaitu ukhuwah Islmiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathoniyah,” paparnya.

Kyai Ma’ruf menjelaskan ketiga konsep yang digagas oleh KH Achmad Siddiq Jember tersebut. Ukuhwah islamiah menurutnya adalah persaudaraan dalam tubuh umat Islam supaya ada prinsip toleransi di antara umat Islam. Sehingga akan tercipta perdamaian antar sesama Muslim maupunlintas organisasi islam.

“Di Indonesia ada 70 organisasi yang tetap utuh sampai sekarang. Itu terjadi karena adanya ukuhwah islamiyah yang dicanangkan NU,” ujar Kyai Ma’ruf.

Dan tentang ukuhwah wathoniyah, lanjut Kyai Ma’ruf adalah persaudaraan antar suku bangsa, etnis, dan ras sehingga terwujud perdamaian. Karena itu, menurutnya, meski bangsa Indonesia penuh dengan kemajemukan hingga saat ini hubungan baik tersebut tetap utuh.

Sedangkan ukhuwah basyariyah menurut Kyai Ma’ruf adalah persaudaraan seluruh bangsa di dunia. Walaupun berbeda agama, negara dan etnis,menurutnya, persaudaraan harus tetap terjalin dalam pergaulan antar bangsa dan antar manusia di muka bumi.

Dalam ukuhwah basyariah tersebut, Kyai Ma’ruf juga menegaskan akan terbangun perilaku yang saling mencintai dan menyayangi walau berbeda latar belakang.

“Tidak ada permusuhan dan tidak ada kebencian, semua bangsa di dunia ini saling mencintai dan menyayangi,” tegas pria yang juga menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia tersebut.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait