Jumat, 30 September 22

RPJB: Ahok Perlu Belajar dari Rakyat, Ayo Masuk ke Kampung-Kampung

Relawan Penggerak Jakarta Baru (RPJB) menilai wajar keputusan PDI Perjuangan mengusung pasangan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta dalam Pilkada Jakarta 2017.

Menurut Ketua Relawan Penggerak Jakarta Baru, Pitono Adhi, sebagai partai dengan mayoritas kursi di DPRD DKI, tentu PDI Perjuangan menginginkan cagub dan cawagub terbaik bagi warga Jakarta dan juga bagi partai, serta berpeluang besar untuk menang.

Lebih lanjut Pitono menyatakan, langkah mencalonkan Ahok-Djarot itu pun menjadikan warga Jakarta punya harapan bagi terwujudnya kualitas kehidupan yang lebih baik.

“Agar Ahok mampu memenuhi harapan itu, calon petahana ini perlu memperbaiki pola kepemimpinannya. Ahok harus bisa melayani seluruh lapisan warga Jakarta khususnya mereka yang miskin dan terpinggirkan,” kata Pitono Adhi di Jakarta, Rabu (21/9).

Pitono juga menambahkan bahwa kualifikasi Ahok sebagai pemimpin yang tegas, berani serta tak kenal kompromi melawan korupsi, kolusi dan nepotisme tak perlu diragukan lagi. Namun bila Ahok ingin terpilih lagi jadi Gubernur Jakarta, Ahok harus belajar sabar dan mau mendengarkan keluh-kesah rakyat Jakarta.

“Ahok juga harus mengedepankan dialog sebagai cara utama menyelesaikan masalah. Itulah prinsip yang dicontohkan sekaligus dipraktekkan oleh Jokowi selama menjadi Gubernur Jakarta hasil Pilkada 2012 lalu,” ujarnya.

Infrastruktur Non Fisik Warisan Jokowi

Dalam catatan RPJB, setelah tampuk kepemimpinan Jakarta dilanjutkan oleh Ahok sejak 2014, cara-cara dialog sebagai warisan penting Jokowi ini justru diabaikan Ahok. Pitono tak menyangkal bahwa pembangunan transportasi publik, taman kota, RPTRA serta fasilitas umum lainnya berkembang pesat di bawah kepemimpinan Ahok.

Pitono juga mengapresiasi kinerja pasukan oranye bentukan Ahok yang selalu rajin bekerja di kampung-kampung sehingga sungai, saluran air dan jalan jadi semakin terawat. Juga kondisi Sungai Ciliwung dan sungai-sungai lain di Jakarta yang semakin sehat dan enak dipandang mata karena terjaga kebersihannya. Selain itu, Pitono juga tak membantah bahwa pengaduan warga melalui pesan singkat langsung ke Ahok ditanggapi dengan cepat dan baik.

Namun, Pitono mengingatkan bahwa sejak Jakarta dipimpin Ahok menggantikan Jokowi, rakyat Jakarta kehilangan peristiwa-peristiwa dialogis yang selalu dikedepankan Jokowi ketika menanggapi permasalahan yang dihadapi warganya.

“Tahun pertama Jokowi memimpin ibukota misalnya, menjelang HUT Kota Jakarta waktu itu Jokowi menggelar acara rembug warga di silang Monas. Malam itu adalah malam bersejarah bagi warga Jakarta. Jokowi tengah membangun ‘infrastruktur non fisik’ yang penting bagi perubahan wajah kota Jakarta, yakni model dialog pemimpin dengan warga yang dilayaninya. Tapi Ahok tak merawat warisan itu hingga saat ini,” urainya.

Masih menurut catatan RPJB, dialog juga menjadi salah satu cara penting Jokowi dalam meyakinkan warga yang tadinya tinggal di area waduk Pluit untuk mau beranjak dari situ. Jokowi dengan sabar juga mendengarkan mereka yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu dan pelan-pelan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka masih punya kesempatan hidup lebih baik bila mereka mau pindah dari kolong jembatan.

“Tak perlu diperdebatkan kiranya bahwa sejauh ini Ahok belum optimal melakukan praktek yang menghargai rasa kemanusiaan itu,” tegas Pitono.

Belajar dari Rakyat

Pitono berharap bila Ahok mau mengedepankan dialog, bukan karena ia mau meniru Jokowi. Tapi karena pola dialog adalah salah satu prinsip kepemimpinan Jakarta Baru yang dulu diusung Jokowi-Ahok. Dan menurut Pitono, rakyat Jakarta akan kembali memilih Ahok-Djarot bila Ia mampu menunjukkan bahwa akan melanjutkan agenda Jakarta Baru dengan segala prinsip yang melandasinya.

Dialog itu, sambung Pitono, bukan sekadar seremoni, Ahok hanya perlu belajar langsung dari rakyat Jakarta.

“Ahok perlu rajin keluar masuk kampung-kampung Jakarta dan merasakan sungguh denyut kehidupan warga,” lanjut Pitono.

“Bagi RPJB, Pilkada Jakarta 2017 adalah kesempatan emas untuk menuntaskan agenda Jakarta Baru. Kami melihat pasangan Ahok-Djarot memiliki potensi besar untuk memenuhi agenda tersebut. Kami minta agar terutama Ahok tidak mengecewakan harapan rakyat yang telah diamanatkan melalui rekomendasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan terhadap pasangan Ahok-Djarot,” pungkasnya.

Relawan Penggerak Jakarta Baru adalah organisasi yang dibentuk oleh warga Jakarta tahun 2012 lalu untuk mendukung pasangan Jokowi-Ahok menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta melalui Pilkada di tahun itu. Organisasi ini terus beraktifitas dan menjadi bagian dari kelompok relawan pendukung Jokowi untuk maju menjadi Presiden RI pada 2014 lalu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait