Kamis, 29 September 22

Rode 610 Cagar Budaya Rumah Gerakan Mahasiswa

Sebuah rumah yg legendaris sebagai basis gerakan mahasiswa pro demokrasi di Jalan Sultan Agung Gang Rode No 610 Yogyakarta akan segera ditetapkan jadi cagar budaya. Hal ini disampaikan oleh Dr Hilmar Farid sejarahwan dan juga Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Nasional RI di acara 30 tahun RODE Rumah Perjuangan.

“Rumah Rode yg sampai kini masih menjadi basis aktivis gerakan mahasiswa tetap tidak berubah dari fisik bangunan, ruangan dan fungsinya sebagai tempat diskusi dan belajar politik para aktivis dari aktivis mahasiswa di Yogyakarta dan kota besar lainnya,” ujar Hilmar Farid yang akrab dipanggil Fay, dari rilis yang diterima redaksi malam ini (19/11).

Sementara itu Eko Sulistyo Deputi IV Kantor Staff Presiden RI mengatakan keberadaan rumah Rode ini satu-satunya yang ada di Indonesia. Aktivitas mahasiswa dan Rumah yg menyatu dalam sebuah dinamika politik selama sudah 30 tahun lamanya melakukan regenerasi.

“Tidak ada di tempat lain ada rumah dan aktivisnya yang menyatu sebagai suatu komunitas yang bertahan sampai saat ini. Saya dulu dari Solo selalu mampir ke rumah ini kalo ada konsolidasi gerakan melawan rezim Orde Baru,” ujar Eko yg dulu aktivis mahasiswa UNS Surakarta.

Sedangkan bagi Budiman Sudjatmiko rumah Rode mempunyai kenangan tersendiri dan jadi bagian sejarah hidupnya. “Saya belajar politik di Rumah Rode sejak SMA dan awal masuk kampus UGM. Rode menjadi tempat baca buku, diskusi, rapat aksi demonstrasi sampai melakukan advokasi buruh dan petani. Saya belajar nilai kolektif kebersamaan dan tidak hanya memikirkan hidupnya sendiri melainkan harus berjuang bersama rakyat ya di Rode ini,” demikian tandas Politisi anggota DPR RI PDIP ini.

Mantan Ketua KPK, Busyro Muqodas mempunyai penilaian sendiri terhadap rumah Rode. Menurut Busyro, penghuni Rode sebagian besar adalah mahasiswa UII yang selalu kritis dan cenderung ugal-ugalan.

“Tapi saya salut nilai akademik intelektual mereka di atas rata-rata mahasiswa lainnya. Saya beberapa kali diundang untuk mengisi diskusi di Rumah Rode, mereka menyukai tema Islam yang cenderung kekirian karena mementingkan pembelaan pada kaum tertindas seperti buruh petani dan korban pelanggaran HAM,” ujar Busro yg kini aktif kembali mengajar di Kampus FH UII.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait