Senin, 26 September 22

Rizal Ramli Sambangi Kawasan TIM

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyambangi Pusat Dokumentasi Sastra H.B Yasin di Kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (26/8). Kedatangan Rizal untuk melihat arsip dokumentasi kasastraan Indonesia, sekaligus berdiskusi dengan sejarawan J.J. Rijal.

Saat pertemuan itu, J.J Rijal mengeluhkan kurangnya perhatian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak masa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, kepada Yayasan PDS H.B Jassin baik dari dana ataupun maupun kondisi perpustakannya.

“Tahun ini nggak dikasih dana. Zaman Fauzi Bowo kita aksi besar-besaran karena cuma dikasih Rp50 juta. Kita sampai aksi ngumpulin koin. Sampai Pak Foke datang dan berjanji akan memberikan perhatian lebih. Dan memang. Pa Jokowi waktu selama dua tahun dikasih Rp 1, 1 miliar setelah pa Jokowi turun turun juga. Jadi yang sekarang ada perubahan secara struktural, nggak ada dana sama sekali. Ini juga AC- nya rusak pak,” kata Rijal.

Rizal Ramli pun mengaku prihatin dengan gedung yang berisikan kumpulan penyair dan sastrawan serta seniman tanah air. Menurutnya, pusat kebudayaan seperti PDS HB Jassin harus dirawat.

“Saya sedih sekali datang ke sini. Ini dokumentasinya dari tahun 1800-an jaman Belanda,” katanya.

Dirinya pun memuji kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang telah menjaga pusat sastra tersebut.

“Itu menarik sekali pada saat Jakarta belum punya uang, tapi Pak Ali memahami bahwa ke depan Jakarta itu merupakan pusat kebudayaan. Kalau nggak ada budaya maka kota itu nggak ada roh nya. Sayang sekali setelah itu tidak ada perhatian lanjut,” papar Rizal.

Rizal pun menuding pemerintah provinsi DKI Jakarya saat ini kurang memperhatikan pusat kebudayaan tidak seperti Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

“Nah yang punya visi ke depan dari dulu cuma Bang Ali. Selain membangun jalan, bangunan, tapi juga membangun pusat-pusat kebudayaan. Padahal saat itu nggak punya uang,” kata Rizal.

Oleh karena itu, dirinya berharap pemimpin mendatang bisa memperhatikan pusat kebudayaan, dan tidak hanya soal pembangunan.

“Pemimpin harus punya visi ke depan soal budaya. Jangan hanya mementingkan pembangunan lain-lain saja,” ungkapnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait