Kamis, 1 Desember 22

Review Buku “Legenda Seorang Komando” Biografi Kolonel Inf Agus Hernoto – Pelaku Operasi Khusus

Berdekatan dengan hari jadi Kopassus pada April lalu, telah terbit biografi salah seorang anggota Baret Merah yang namanya cukup terkenal, yaitu Kol Inf (Purn) Agus Hernoto. Biografi yang diterbitkan Kompas tersebut, memang sengaja diterbitkan, sebagai bagian dari peringatan hari jadi Kopassus. Demikian yang dikatakan oleh penulisnya, Bob Hernoto, yang kebetulan adalah putera dari Kolonel Agus Hernoto.

Mungkin publik kurang mengenal siapa Agus Hernoto, itu karena sebagian aktivitasnya berada di lingkungan intelijen. Biografi seorang intelijen layak disimak, karena diharapkan bisa mengungkap beberapa kasus atau peristiwa yang selama ini belum terungkap. Rentang perjalanan Agus sebagai bagian dari kesatuan Komando (Baret Merah) dan saat bertugas sebagai aparat intel, terbilang panjang, mulai pertengahan tahun 1950-an, ketika terjadi Peristiwa Kranji, operasi penyusupan di Papua dalam Operasi Trikora, hingga saat menjadi bagian Opsus (Operasi Khusus) di bawah pimpinan Ali Moertopo.

Bersahabat dengan Benny

Dalam kehidupan ini, kehadiran teman atau sahabat sangat berpengaruh, demikian juga dengan yang dialami Agus Hernoto. Sehingga ada pameo yang mengakatan: kita jangan salah dalam memilih teman. Persahabatannya dengan Benny Moerdani sangat berpengaruh pada jalan hidup Agus Hernoto. Keduanya pertama kali bertemu pada tahun 1950-an di Batujajar, yang saat itu merupakan Markas Komando sekaligus pusat pendidikan bagi calon anggota pasukan Komando. Unsur operasional Kopassus baru pindah ke Cijantung (Jakarta Timur), pada tahun 1960-an, sementara Batujajar sampai sekarang tetap sebagai pusat pendidikan. Benny dan Agus sempat dilatih langsung oleh Mayor Idjon Djanbi, pendiri dan komandan pertama pasukan Komando.

Begitu dekatnya hubungan itu, Benny sampai membela habis-habisan Agus Hernoto, ketika Agus akan dikeluarkan dari RPKAD (nama terdahulu Kopassus). Komandan RPKAD saat itu Kolonel Mung Parhadimulyo, mengeluarkan kebijakan, bahwa bagi anggota RPKAD yang invalid, akan dipindahkan pada satuan lain. Kaki Agus Hernoto memang invalid, karena tertembak pasukan Belanda, saat Operasi Trikora di tahun 1962.

Karena kasus ini, posisi Benny sebagai Komandan Bataliyon di RPKAD harus dilepaskan, dan dimutasi ke Kostrad. Nasib mempertemukan mereka kembali dalam Opsus (Operasi Khusus) di bawah kendali Ali Moertopo. Potensi dan bakat Agus sebagai perwira intelijen, rupanya diketahui Ali Moertopo. Begitulah, dalam Opsus inilah Agus kembali berkumpul dengan teman-teman lamanya sejak di Batujajar dulu, seperti Benny Moerdani dan Aloysius Sugijanto.

Opsus sendiri, sebagaimana kita tahu, meskipun merupakan satgas (satuan tugas) intelijen, namun lebih banyak bergerak di ranah politik, bukan di medan tempur. Kiprah Opsus sudah banyak kita ketahui, terutama di masa awal Orde Baru. Beberapa kegiatan Opsus yang menonjol antara lain: menggalang opini publik untuk mendukung Soeharto sebagai presiden, membesarkan Golkar, “menggembosi” PNI (Partai Nasional Indonesia), Peristiwa Malari, normalisasi hubungan dengan Malaysia, rencana invansi ke Timor Leste, dan seterusnya.

Opsus memiliki markas (tertutup) di kawasan Jalan Raden Saleh, nah Agus Hernoto merupakan kepala kantor, merangkap penanggungjawab logistik, utamanya dana operasi. Dari buku ini dijelaskan, dana operasional Opsus berasal dari berbagai sumber, dan jumlahnya bisa sangat fantastis. Oleh karenanya perlu orang yang berintegritas untuk memegang dana tersebut, dan Agus Hernoto tampaknya orang yang tepat. Itu bisa dilihat dari kehidupan pribadi Agus Hernoto, memang terbilang sejahtera, namun tidak berlebihan sebagaimana pejabat era sekarang.

Kepercayaan Penguasa

Berkarier dalam dinas intelijen dapat digambarkan sebagi berikut: bila berhasil dalam tugas, namanya tidak dikenal, namun bila gagal, semua pihak akan menyalahkannya. Ini mengingatkan kita pada kasus kerusuhan skala besar, kasus terorisme, konflik horizontal, dan seterusnya. Aparat intelijen acapkali dianggap kurang mampu mendeteksi kemungkinan terjadinya kasus seperti itu.

Namun mengapa masih banyak perwira yang berminat dinas di bidang intelijen ? Salah satu jawabannya adalah soal privilege, yakni sebagai pihak yang paling dekat dengan kekuasaan, yang skalanya mulai tingkat daerah atau satuan kecil, hingga nasional. Dalam TNI misalnya, aparat intel memiliki posisi kunci, dan umumnya diisi oleh perwira yang benar-benar dipercaya pimpinan.

Posisi aparat intelijen yang strategis seperti itu, tidak berlebihan kiranya kalau dikatakan bahwa sang pemimpin “menitipkan” sebagian nyawanya kepada aparat intelijen. Biografi ini menggambarkan dengan indah, bagaimana loyalitas Agus Hernoto pada lembaga, tugas pimpinan, dan kolega-koleganya di Opsus. 

 

Aris Santoso, sejak lama dikenal sebagai pengamat militer, khususnya TNI AD. Kini bekerja sebagai editor buku paruh waktu.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait