Rabu, 29 Juni 22

Relawan Dari Nunukan Turun Langsung, Santuni Korban Bencana di Sulteng

Sulitnya akses tranportasi dan susahnya medan akibat bencana gempa 7,4 skala richter, dan gelombang tsunami di Palu, membuat para relawan sulit untuk melakukan proses evakuasi para korban.  Hal ini juga dialami para relawan dari Nunukan Provinsi Kaltara. sampai saat ini masih mengalami kesusahan.

Para relawan dari Kabupaten Nunukan tersebut tergabung dalam Forum Komunikasi Peduli Bencana (FKPB) dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Mereka terpaksa berjalan kaki dari satu titik ke titik lainya guna memberikan bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian dan sejumlah uang kepada para korban yang mereka temukan.

“Seperti saat ini, kami berada di lokasi bekas pemukiman yang terndam lumpur. Dan memang kalau melihat pemandangan seperti ini, suatu hal yang mustahil jika masih ada orang yang mampu bertahan hidup di dalamnya,” ujar Ayub , salah seorang Relawan di Petobo melalui pesan singkatnya kepada redaksi, Jumat (12/10/2018).

Foto indeksberita
Foto indeksberita

Pernyataan Ayub tersebut senada dengan penjelasan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho beberapa hari lalu yang mengungkapkan bahwa sekitar 180 hektar dari 1.040 hektar pemukiman di Petobo terdampak likuifaksi dan sedikitnya 2.050 bangunan rumah terendam lumpur di kawasan tersebut.

Di Pertobo tersebut, para Relawan bertemu dengan beberapa korban yang masih mencari keluarganya yang hingga saat ini belum dapat diketemukan. Ketua FKPB Andi Mutamir ketika dikonfirmasi perihal ini membenarkan bahwa ia menginstruksikan anggotanya agar turun langsung ke lokasi bencana agar bantuan benar-benar sampai ke pihak yang membutuhkan.

“Dari donasi masyarakat Nunukan yang kita kumpulkan, kita memang bertekat menyalurkanya secara langsung dan tetap bersinergi dengan pihak Pemerintah. Tujuanya disamping bantuan benar-benar sampai yang lebih penting adalah memberikan info valid kepada pemerintah tentang lokasi atau daerah mana saja yang saat ini masih belum tersentuh bantuan,” tutur Andi.

Dengan diasilitasi PT PELNI, Para Relawan tersebut berangkat dari Nunukan pada Selasa (9/10/2018) dan akan tetap berada di Sulteng sesuai perkembangan. Andi Mutamir mengungkapkan bahwa selama ini informasi ke masyarakat hanya tentang gempa dan tsunami saja, padahal ada bencana likuifaksi atau naiknya lumpur yang menelan hingga ribuan rumah.

Foto: lokasi terkini Pemukiman di Petobo yang terendam lumpur akibat likuifaksi (Indeksberita.com)
Foto: lokasi terkini Pemukiman di Petobo yang terendam lumpur akibat likuifaksi (Indeksberita.com)

“Selama ini sebagian masyarakat hanya mengetahui hanya gempa dan tsunami. Padahal ada ribuan rumah saudara-saudara kita yang terendam lumpur. Maka kami dari FKPB akan tetap bergerak dengan perkembangan di lapangan dan pada keputusan Pemerintah tentang waktu tanggap darurat di Sulteng,” papar Andi.

Terkait tanggap darurat sendiri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)) mengumumkan bahwa Gubernur Sulawesi Tengah memutuskan masa tanggap darurat gempa dan tsunami Palu akan diperpanjang hingga 14 hari ke depan, dari tanggal 13 Oktober hingga 26 Oktober 2019. Sedangkan pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban hanya akan sampai pada hari Jumat (12/10/2018) karena pertimbangan kondisi jenazah yang telah rusak apabila diketemukan.

Tercatat, hingga Kamis (11/10/2018) jumlah korban meninggal mencapai 2.073 jiwa dengan rincian di Palu ada 1.663 jiwa, Donggala 171 jiwa, Sigi 223 jiwa, Parigi Moutong 15 jiwa dan 1 orang korban jiwa di Pasangkayu. Selain korban meninggal, BNBP mengumumkan 10.679 orang terluka dan 680 dilaporkan keluarganya belum ditemukan terutama di Petobo dan Balaroa.

Akibat gempa ,tsunami dan likuifaksi yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) lalu, sebanyak 67.310 unit rumah rusak yang tersebar di Kota Palu sebanyak 65.733 unit, Kabupaten Sigi 879 unit, dan di Kabupaten Donggala 680 unit. Musibah tersebut juga menyebabkan sedikitnya 87 ribu jiwa kehillangan tempat tinggal dan 18.353 jiwa terpaksa mengungsi kebeberapa daerah seperti Makassar, Balikpapan, Jakarta dan beberapa orang mengungsi ke Nunukan.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait