Selasa, 16 Agustus 22

Ray Rangkuti: Gagasan Kandidat Tak Jelas, Sentimen SARA Menguat

“Bagaimana kita menjelaskan keunggulan Agus Yudhoyono misalnya dibanding calon yang lain…padahal gagasan di antara mereka tidak jelas di masyarakat. Sebut saja apa sikap mereka tentang reklamasi, penggusuran, dan lain-lain”

Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan, dalam demokrasi memilih karena alasan apapun diperbolehkan dan tidak boleh dilarang. Tetapi, mengkampanyekan orang lain tidak boleh karena sentimen suku, agama, serta asal usulnya lainnya. Gagasan, menurut Ray, justru yang seharusnya jadi tolok ukur dan lebih penting dalam konteks berdemokrasi.

“Contohnya gini, saya memilih dia karena berasal dari Sumatra, oke, silahkan gak ada masalah tapi jangan sekali-kali katakan jangan pilih dia karena sukunya anu dan agamanya anu. Itulah dalam demokrasi disebut kampanye SARA,” ujar Ray di Jakarta, usai Konferensi Pers Koalisi Masyarakat Sipil di Hotel Century, Senayan, Jakarta, Senin (28/11).

Menurut Ray, kampanye SARA diperbolehkan, hanya saja hal tersebut bernilai negatif. Dirinya menyarankan lebih baik memilih tidak melihat pada latar belakang agama, tetapi, visi dan misinya.

“Mengkampanyekan tidak boleh dipilih karena alasan agama berbeda dan sukunya berbeda itu yang disebut kampanye SARA,” tambahnya.

Ray menambahkan, dalam dua bulan terakhir, masa kampanye pada pilkada DKI Jakarta sudah berjalan, namun, jual beli gagasan tak terlihat diantara masing-masing pasangan calon kandidat, tetapi, sentimen agamanya jauh lebih kuat dibandingkan jual gagasan antar kandidat.

“Bagaimana kita menjelaskan keunggulan Agus Yudhoyono misalnya dibanding calon yang lain. Kan itu menarik, padahal gagasan di antara mereka tidak jelas di masyarakat. Sebut saja apa sikap mereka tentang reklamasi, penggusuran dan lain-lain,” jelas Ray.

Oleh karena itu, Ray mengajak masyarakat untuk kembali pada tujuan pilkada dan pemilu, yaitu menawarkan gagasan agar masyarakat dapat memilih pemimpin yang terbaik untuk lima tahun ke depan.

“Kita semua bertanggung jawab termasuk media. Media harus kembali mengangkat isu-isu berkaitan perbedaan visi misi mereka,” ujar Ray.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait