Kamis, 6 Oktober 22
Beranda Featured Radovan Karadzic, Penjahat Perang Balkan Divonis 40 Tahun

Radovan Karadzic, Penjahat Perang Balkan Divonis 40 Tahun

0
Radovan Karadzic, Penjahat Perang Balkan Divonis 40 Tahun

Den Haag – Mantan pemimpin Serbia di Bosnia, Radovan Karadzic, dijatuhi hukuman selama 40 tahun penjara oleh hakim pengadilan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), di Den Haag, Belanda, Kamis (24/3/2016). Karadzic dinyatakan bersalah dan dan bertanggung jawab atas peristiwa pembunuhan massal di kota Srebenica pada1995 lalu.

Pembantaian massal itu, dianggap merupakan yang terburuk setelah pembantaian Yahudi oleh Nazi pada Perang Dunia Kedua.

Karadzic (70 tahun), dinyatakan bersalah dalam 10 dari 11 dakwaan yang diajukan jaksa penuntut kejahatan perang di Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia yang dibentuk PBB di Den Haag, Belanda. Atas putusan itu, pengacara Karadzic mengatakan klien-nya akan mengajukan banding.

“Terdakwa adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuasaan dan wewenang untuk mencegah pembunuhan terhadap penduduk laki-laki muslim Bosnia,” ujar hakim O-Gon Kwok sebagaimana dikutip dari Reuters.

“Alih-alih mencegah, dia justru memerintahkan pemindahan mereka ke suatu tempat untuk dibunuh,” tambah Kwok, menggambarkan 8.000 peristiwa pembunuhan di Srebenica itu.

Karadzic adalah salah satu sosok yang diperhitungkan dan dianggap punya peran penting dalam peristiwa pembunuhan massal (genosida) di sejumlah kota di Bosnia selama masa perang pada tahun 1990an.

Panel tiga hakim menyatakan, Karadzic “ada di puncak kekuasaan”. Dia adalah Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Serbia Bosnia, saat kejahatan itu dilakukan oleh pasukannya.

Hakim lebih lanjut menyatakan, pengepungan Sarajevo selama 44 bulan tidak akan terjadi tanpa dukungan Karadzic, dimana dia melakukan kejahatan kemanusiaan berupa pembersihan etnis muslim dari Bosnia dan Kroasia, serta menghilangkan kaum laki-laki muslim Bosnia di Kota Srebenica.

Penasihat hukum Karadzic, Peter Robinson mengatakan klien-nya “kecewa atas putusan itu, heran dengan alasannya, dan akan mengajukan banding.”

Dilaporkan, wajah Karadzic terlihat pucat, tegang, dan meringis, saat hakim menggambarkan peristiwa pengepungan Sarajevo.

Di dalam ruang sidang, keluarga korban nampak khidmat ketika hakim memaparkan pembunuhan massal itu. Sebagian dari mereka bahkan terlihat menangis, ketika hakim menggambarkan bagaimana ketika kaum laki-laki dewasa maupun anak-anak dipisahkan dan direnggut dari keluarga mereka.

Di luar sidang, Hatidza Mehmedovic, yang kehilangan seluruh keluarganya di Srebenica, menyatakan marah atas putusan itu dan seharusnya ada hukuman yang cukup keras lagi.

“Sementara dia tinggal di penjara enak, aku tetap tinggal di Srebenica, dimana idiologinya masih hidup,” ujar Hatidza.

“Aku sudah tidak punya saudara, tidak punya suami,” tambahnya.

Karadzic ditahan pada 2008 setelah 11 tahun dalam pelarian, menyusul berakhirnya Perang Balkan yang menewaskan 100.000 orang dimana sebagian besar diantaranya berasal dari etnis Bosnia.

Kepala jaksa penuntut, Serge Brammertz, mengatakan harapannya agar putusan (terhadap Karadzic) tersebut akan membuat politisi di wilayah (ex Yugoslavia) itu menjadi lebih enggan menyebut penjahat perang sebagai pahlawan.

“Tidak ada kepahlawanan dalam perkosaan dan pelecehan seksual di kamp-kamp tahanan,” katanya.

“Tidak ada kepahlawanan dalam eksekusi 7.000 orang tahanan. Tidak ada kepahlawanan, ketika petembak jitu membunuh anak-anak yang sedang menikmati permainan,” tegas Serge.

Satu-satunya pejabat senior yang diajukan ke depan pengadilan adalah Presiden Slobodan Milosevic, namun ia tewas di tahanan satu dekade lalu sebelum vonis kepadanya dijatuhkan.

Sementara, Ratko Mladic, Jenderal Serbia Bosnia, merupakan tersangka terakhir yang ditahan atas kasus pembantaian di Srebenica. Saat ini, Mladic sedang menunggu keputusan di dalam sel tahanan PBB. (REUTERS)