Jumat, 9 Desember 22

Purnawirawan TNI Terbelah Sikapi Tragedi 1965

“Purnawirawan kan juga manusia, wajar dong kalau ada yang punya pendapat berbeda”

Jakarta – Pelaksanaan dan hasil Simposium nasional tentang Tragedi 1965 disikapi berbeda oleh para purnawiraan TNI.

Menurut Ketua Panitia Simposium “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain”, Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang wajar.

“Purnawirawan kan juga manusia, wajar dong kalau ada yang punya pendapat berbeda,” ujar Kiki di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Kiki menilai langkah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut B. Panjaitan yang tak ikut ke dalam gerbong purnawirawan di simposium melawan PKI, tidak murni berdasarkan inisiatif Luhut.

“Menurut saya Pak Luhut mungkin ada instruksi-instruksi dari yang lain, kemungkinan itu tidak berdiri sendiri,” ucap Kiki.

Namun, Kiki mengatakan hampir 100 persen purnawirawan TNI sepakat untuk menolak rekomendasi Simposium Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta.

“Saya pastikan hampir 100 persen purnawirawan TNI satu suara dengan kami, seperti Pak Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu,” tutur Kiki.

Sebelumnya, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, simposium yang digagas para purnawirawan TNI bukanlah sebuah upaya tandingan Simposium Tragedi 1965 sebelumnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait