Kamis, 7 Juli 22

Ini Puisi Gus Mus Yang Membuat Menteri Susi Pujiastuti Menangis

Selain dikenal sebagai Ulama, KH.Ahmad Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus, Pengasuh Pondok Pesantren Rudlatut Thalibin Rembang, juga dikenal sebagai seorang budayawan. Sebagian besar orang yang membaca puisi Gus Mus, merasa terhanyut dan turut masuk dalam narasi puisinya. Apalagi tatkala Gus Mus sendiri yang membacakan puisinya.

Seperti yang terjadi pada malam penganugerahan Yap Thiam Hien Award di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (24/1/2018) malam. Usai memberikan sambutan sebagai penerima Award yang merupakan penghargaan pejuang HAM dan Toleransi tersebut, Gus Mus menyanggupi pembawa acara untuk membacakan salah satu puisinya.

“Aku masih sangat hafal nyanyian itu
Nyanyian kesayangan dan hafalan kita bersama sejak kita di sekolah rakyat”

“Kita berebut lebih dulu menyanyikanya
Ketika anak-anak disuruh menyanyi di depan kelas satu-persatu”

“Aku masih ingat betapa kita gembira
Saat guru kita mengajak menyanyikan lagu itu bersama-sama”
“Sudah lama sekali pergaulan sudah tidak seakrab dulu
Masing-masing sudah terseret kepentingannya sendiri
Atau tersihir pesona dunia”
“Dan kau kini entah di mana
Tapi aku masih sangat hapal nyanyian itu, sayang”
“Hari ini ingin sekali aku menyanyikannya kembali bersamamu..”

Setelah itu, dengan suara bergetar Gus Mus menyanyikan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Semua yang hadir tetegun dan dan tanpa sadar turut menyanyikan lagu tersebut dengan suara lirih.

Usai menghanyutkan perasaan semua tamu diruangan itu dengan lagu yang dinyanyikanya, Gus Mus kembali melanjutkan untuk membaca puisinya.

“Aku merindukan rasa haru dan iba
Di tengah kobaran kebencian dan dendam
Serta maraknya rasa tega”
“Hingga kini ada saja yang mengubah
lirik lagu kesayangan kita itu
Dan menyanyikannya dengan nada sendu…”

Kemudian Gus Mus kembali menyanyikan lagu Indonesia Pusaka namun ia merubah lirik lagu tersebut.

“Indonesia tanah air mata
Bahagia menjadi nestapa
Indonesia kini tiba-tiba
Selalu dihina-hina bangsa
Di sana banyak orang lupa
Dibuai kepentingan dunia
Tempat bertarung merebut kuasa Sampai entah kapan akhirnya…”

Gus Mus menyanyikan bait-bait lagu tersebut dengan suara berat dan sesekali terisak. Lagi-lagi semua tamu undangan bagai terbius dan terdiam. Bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tak kuasa membendung isak tangisnya. Sesekali Menteri Susi tampak memgambil tisu untuk menyeka air matanya.

Setelah itu Gus Mus membaca bagian terahir dari puisinya.

“Sayang, di manakah kini kau
Mungkinkah kita bisa menyanyi bersama lagi lagu kesayangan kita itu
Dengan akrab seperti dulu…”

Sontak para tamu undangan memberi aplaus dan tak sedikit dari mereka yang dengan mata masih basah karena air mata berdiri sambik bertepuk tangan.
Banyak kalangan yang menyoroti peristiwa ketika Menteri Susi terisak meneteskan air mata. Terkait hal itu, sebagian besar netizen mengatakan bahwa air mata Susi Pujiastuti adalah ungakapan jujur dari hati Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut yang tak rela apabila negara Indonesia mengalami keterpurukan seperti kata salah satu netizen berikut ini.

“Segarang-garangnya Menteri Susi, beliau tetaplah anak bangsa yang tak rela jika Indonesia dalam keterpurukan. Air mata beliau adalah air nata Nasionalisme,” tulis akun @andisolihin77

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait