Kamis, 30 Juni 22

Proyeksi Ekonomi 2016: Optimistis dan Tetap Realistis

Banyak persoalan perekonomian kita di tahun lalu, tapi di 2016 ini kita tetap harus optimistis dan mengimbanginya dengan kerja keras. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 sampai bulan November hanya mencapai 4,73%. Sampai akhir tahun, sulit rasanya untuk kita yakini bahwa pertumbuhan ekonomi 2015 dapat mencapai 5,02% sama seperti pertumbuhan ekonomi di tahun 2014. Bahkan Faisal Basri dalam menjawab pertanyaan yang saya ajukan mengenai hal tersebut, memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015 hanya  mencapai 4,7% dan maksimal 4,8%.

Untuk pertumbuhan ekonomi di tahun 2016, para pemain pasar modal tingkat optimismenya pun tidak lebih dari apa yang diasumsikan dalam APBN 2016, yaitu sekitar 5,3%.
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan dari saya dan temen-temen di capital market berkisar antara 4.8 – 5.3%” demikian pernyataan Roy Maningkas, praktisi pasar modal sekaligus komisaris Krakatau Steel.

Indikator yang mendukung pertumbuhan ekonomi, seperti neraca perdagangan, cadangan devisa, inflasi, dan stabilitas nilai tukar, harus dijaga dengan benar. Inflasi tahun 2015 cukup terjaga dengan baik, besanya sedikit dibawah 4%. Besaran inflasi tersebut dengan pertumbuhan di tahun yang sama,  kondisinya jauh lebih baik dibanding dengan tahun 2014. Pada tahun 2014 pertumbuhan mencapai 5,02% tetapi inflasi mencapai 8,36%. Untuk tahun 2016 target pengendalian inflasi sebesar 4,7% akan dapat tercapai.

Proyeksi Pertumbuhan dan inflasi
Tabel Proyeksi Pertumbuhan dan inflasi

Peningkatan cadangan devisa yang sehat adalah peningkatan devisa yang kontribusi utamanya berasal dari peningkatan ekspor, sehingga neraca perdagangan semakin surplus. Kondisi ini juga akan secara langsung memberikan ketahanan pada stabilitas nilai tukar. Melihat posisi cadangan devisa kita di akhir tahun 2015 mencapai 6,9 bulan biaya impor dan pembayaran cicilan utang luar negeri, Faisal Basri optimis bahwa nilai tukar Rp. terhadap USD terjaga antara Rp.12,500-Rp.13,500, per USD. Prediksi tersebut juga memberikan syarat adanya peningkatan ekspor.

Kondisi makro yang terjaga, tentu harus disusul dengan pertumbuhan gerak sektor riil. Anggaran pembangunan harus segera terserap secara proporsional menurut bulan berjalan. Segala hal yang bersifat administratif, yang menghambat penetapan dan penyerapan anggaran tak boleh terjadi. Seperti perubahan organisasi birokrasi yang berakibat pada perubahan nomenklatur.
BUMN harus lebih produktif, bukan hanya dalam hal mengumpulkan laba, juga bagaimana menjadi agen pembangunan dimana sektor swasta belum berkembang. Regulasi diarahkan untuk merangsang investasi. Penerbitan obligasi untuk menarik, untuk mendorong kembali dana masyarakat kita yang di parkir di luar negeri. Perpanjangan pengampunan pajak jika perlu bisa dilakukan, untuk mendapat wajib pajak baru. Adalah 2 hal yang menjadi contoh kebijakan untuk merangsang investasi.

Hal lain dan tak kalah penting, presiden tidak perlu ragu untuk mengganti posisi mentrinya yang tidak cakap, yang menjadi beban politik buat presiden sendiri. Ini perlu untuk memunculkan stabilitas politik dan kepercayaan pasar. Terutama kementerian yang berkaitan dengan ekonomi.

Dengan langkah-langkah tersebut, maka pertumbuhan ekonomi yang diinginkan oleh APBN sebesar 5.3% akan dapat tercapai. Dan jika tingkat pertumbuhan itu dapat tercapai, pasti pertumbuhan akan lebih berkualitas. Karena niat Presiden untuk melakukan prioritas pembangunan di wilayah timur Indonesia, akan memperluas distribusi pembangunan, dan itu berarti akan mempersempit kesenjangan. Selamat tahun baru 2016, selamat bekerja keras dan pertahankan sikap optimistis dengan realistis.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait