Rabu, 30 November 22

Protes Pencemaran Limbah B3 PT PRIA, Warga Lakardowo Aksi Jalan Kaki ke Kantor Gubernur

Merasa sudah enam tahun menjadi korban dugaan pencemaran limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan diabaikan oleh gubernurnya. Warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mendatangi kantor gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu, (26/4/2017). Kedatangan mereka dengan berjalan kaki menuju kantor gubernur,  ingin mengetuk hati Soekarwo, selaku gubernur Jawa Timur yang selama ini mereka nilai tak pernah ada sikap. Soekarwo diminta oleh warga segera bertindak, mempimpin langsung membongkar timbunan limbah B3 PT PRIA (Putra Restu Ibu Abadi).

“Selama ini Pakdhe Karwo diam. Tidak pernah berbuat apa-apa. Padahal, kami sudah berkali-kali mendatangi pendopo gubernuran ini. Serta pernah berkirim surat, namun tidak ada balasan “ kata Suntama, satu dari warga Desa Lakardowo saat ditemui sedang berjalan kaki.

Suntama yang datang bersama 350 warga lebih itu, bermula menumpang 10 truk dan 3 pikup. Perjalanan kurang lebih menempuh jarak 45 kilometer dari Desa Lakardowo ke Kota Surabaya itu, memulai berangkat dari rumah masing-masing pukul 07.30 wib. Warga lalu melakukan long mach, berjalan kaki dari Jalan Diponegoro menuju kantor gubernur Jawa Timur yang berjarak enam kilometer.

“Sebenarnya, kami tidak dari sini (Jalan Diponegoro) untuk jalan kaki ke pendopo gubernur. Kami akan mulai berjalan dari Taman Bungkul. Yang terlebih dahulu kami akan ziarah ke makam mbah Sunan Bungkul, “ ujar Suntamah.

Kendati terjadi demikian, Suntamah dan warga lain tak mempersoalkan. Ia bersama warga lain, tetap melanjutkan rencananya berjalan kaki. Tujuannya adalah untuk membuktikan kepada Gubernur Soekarwo, bahwa di desa mereka benar ada timbunan limbah B3 yang membuat mereka sengsara.

Di tengah cuaca panas Kota Surabaya, warga terlihat terus melakukan jalan kaki, setelah turun dari kendaraan mereka masing-masing di Jalan Diponegoro, pukul 9.00 wib. Warga desa yang rata-rata berpendidikan rendah itu, menyusuri sepanjang Jalan Diponegoro, sambil membunyikan kentongan dan bernyanyi-nyanyi. Aksi mereka pun tak luput menjadi perhatian pengguna jalan dan warga Kota Surabaya lainnya.

“Ini mungkin rekayasa polisi yang mengawal perjalanan kami dari rumah. Kita sebenarnya tak dikehendaki berjalan kaki. Sehingga diarahkan ke jalan ini untuk langsung menuju kantor gubernur. Tapi kita tetap memaksa turun, “ kata warga lain, Rumiati.

Jalan kaki yang melintasi  Jalan RA. Kartini, HOS Tjokroaminoto, tembus Raya Darmo, Urip Sumoharjo, Tunjungan, Bubutan hingga Tugu Pahlawan. Sepanjang jalan itu, mereka berorasi menuntut supaya timbunan limbah B3 yang membuat sumur mereka tercemari segera dibongkar.

“Sebenarnya, kami sudah capek ngurusi limbah ini. Tapi kayaknya pabrik, sengaja mengumbar limbah B3nya. Kami tetap bergerak, “ kata Ketua Penduduk Desa Lakardowo Bangkit atau yang lebih dikenal Pendowo Bangkit, Nurasim, saat sudah di depan kantor gubernur Jawa Timur, pukul 12.00 wib.

Masih kata Nurasim, sejak adanya pabrik PT PRIA  dan memunculkan masalah limbah B3 ini, kehidupan warga di kampungnya mulai tidak rukun. “Sepertinya sengaja pabrik membuat cara seperti itu. Untuk itu, kedatangan kami ke kantor gubernur dengan jalan kaki ini, mengetuk hati gubernur, supaya turun tangan. Menuntaskan masalah limbah B3 dan kami bisa hidup normal kembali, “ jelas Nurasim.

Sebagaimana pernah dilakukan warga Desa Lakardowo, bahwa mereka selama enam tahun, mulai tiga tahun terakhir ini sudah berupaya mendatangi berbagai instansi terkait. Melaporkan adanya dugaan pencemaran limbah B3 di lingkungan desa mereka.  Dari kepala desa, camat, bupati, DPRD Kabupaten dan Provinsi, bahkan DPR RI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Kami juga sudah melapor ke Komnas HAM dan Mabes Polri. Semua ada tanggapannya, tapi tidak ada tindak lanjutnya. Hanya gubernur ini saja yang tidak ada pernyataan sikapnya. Wakil gubernur Gus Ipul pernah berjanji mendatangi warga, tapi sekadar janji belaka, “ ucap Nurasim.

Aksi warga yang tidak begitu membuat repot aparat kepolisian yang berjaga-jaga ini. Sempat diwarnai histeris warga. Sebab warga mendengar informasi di dalam kantor gubernur terjadi pertemuan, antara Gubernur Soekarwo dengan Direktur PT PRIA, Luluk Wara Hidayati dan salah satu karyawan PT PRIA, Mujiono. Hal itu yang kemudian membuat warga berteriak-teriak sambil mengumpat. Alasan mereka, Mujiono yang sekarang menjadi karyawan PT PRIA. Dulunya adalah warga Desa Lakardowo yang terdepan mengajak warga untuk protes pabrik pengeola limbah B3 itu.

“Mujiono kowe bangsat. Metuo, kowe penghianat. Kowe menghianati ibumu, “ teriak salah satu warga, Sujiati yang mengatakan, Mujiono penghianat. Dia telah menghianati ibu kandungnya yang hingga kini, masih berpihak bersama warga memprotes keberadaan PT PRIA.

Selain orasi yang mereka lakukan, warga juga menggelar istigosah; doa bersama. Menurut Nurasim, istigosah dilakukan supaya pihak-pihak yang bertangung jawab dan berkepentingan kepada PT PRIA diberi kesadaran. “Meski tidak ada yang menemui. Kita mendoakan mereka, supaya sadar, bahwa kita ke sini butuh keadilan, “ kata Nurasim.

Sementara itu, Koordinator Advokasi warga Desa Lakardowo, Daru Setyo Rini mengatakan, sangat kecewa dengan sikap gubernur. Menurut Daru, Gubernur Soekarwo seolah tak mau tahu dengan nasib warganya ini. “Kalau gubernur ke Jakarta, kan punya wakil. Masak rakyat dibiarkan begitu saja, “ kata Daru.

Selanjutnya Daru juga menyampaikan, dampak dari pencemaran itu sebenarnya semakin parah pada dua tahun terakhir. Akibat dari dampak itu menyebabkan warga tidak dapat mengkonsumsi air sumur.

“Kenyataan ini mestinya gubernur turun. Dan segera menuntaskan masalah warga Lakardowo, “ tandas Daru, saat bersama bubarnya warga untuk kembali ke Desa Lakardowo, pukul 17.00 wib.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait