Senin, 26 September 22

Presiden Minta Peredaran Vaksin Palsu Tidak Dianggap Remeh

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai kasus peredaran vaksin palsu yang disebut-sebut sudah berlangsung selama 13 tahun kejahatan luar biasa. Karena itu, Presiden Jokowi minta semua pihak terkait untuk tidak menganggap remeh persoalan ini.

“Jangan anggap remeh masalah ini,” tegas Presiden.

Untuk itu, kata Jokowi, dia telah memerintahkan Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek dan juga Kapolri Jenderal Badrodin Haiti untuk sangat serius mengusut dan menelusuri  kasus ini. Presiden bahkan meminta agar pelaku kejahatan ini dihukum berat.

“Ini sebuah kejahatan luar biasa. Kalau kita lihat generasi-generasi yang ada di sini, anak-anak, ini kalau tidak divaksin, itu jangka panjangnya akan sangat buruk bagi sumber daya manusia kita,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan di sela-sela buka puasa bersama dengan ribuan anak yatim dan penyandang disabilitas, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/6).

Presiden mengkhawatirkan bahaya jangka panjang akibat penggunaan vaksin palsu pada anak-anak yang dianggap sudah divaksin, tapi ternyata memakai produk palsu.

“Artinya belum. Akan seperti apa-apa anak kita nantinya? Ini sangat berbahaya sekali. Kejahatan luar biasa sekali,” ujarnya.

Meski belum ada laporan detil kasus, Jokowi sudah memerintahkan agar dilakukan penelusuran secara menyeluruh dan penindakan hokum terhadap pelakunya bisa menimbulkan efek jera.

“Saya harapkan ini nanti juga hukumannya betul-betul, (supaya) jangan terulang lagi, berikan hukum yang seberat-beratnya, baik pada yang memproduksi, baik pada yang mengedarkan, dan memasarkan, semuanya,” tegas Presiden Jokowi.

“Artinya menelusuri, menangkap itu artinya itu, baik oknum yang ada di pemerintahan, baik yang memproduksi, baik yang memasarkan, baik yang mengedarkan, semuanya,” tuturnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait