Senin, 15 Agustus 22

PPP : Demo 2 Desember Sebaiknya Dibatalkan

Rencana Aksi yang akan dilakukan pada tanggal 2 Desember, mendapat perhatian banyak pihak. Aksi dengan agenda menuntut tersangka kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) ditahan, menimbulkan pro dan kontra. Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang merupakan salah satu Partai Politik bernafaskan islam di Indonesia, memandang bahwa ketika kasus Ahok ini sudah sampai tingkat penyidikan, maka sebaiknya semua pihak dapat menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Hal ini diutarakan oleh Ketua Umum PPP Rommahurmuziy seusai pertemuanya dengan Presiden Joko widodo di Istana hari ini (22/11). Pria yang akrab dipanggil Romi ini mengatakan bahwa tugas mengawal proses hukum itu ada caranya, tanpa harus dengan melakukan aksi massa. Apalagi jika aksi tersebut berpotensi mengganggu ketertiban umum dan kenyamanan orang lain.

“Sebagai partai Islam tertua di Indonesia, dihuni oleh para kyai. Dan sejalan dengan musyawarah nasional ulama pekan lalu yang dibuka bapak Presiden, kami mengimbau agar aksi 2 Desember 2016 agar tidak dilaksanakan. Yang dibutuhkan saat ini adalah pengawalan intensif terhadap lembaga negara. Untuk itu tidak bisa dilakukan dengan aksi massa berikutnya.” ujarnya

Ia juga menambahkan bahwa Gerakan Nasional Pendukung Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI), adalah pihak yang ingin berdemo lagi. Padahal menurutnya, saat dirinya bertemu Ketua Umum MUI KH.Maruf Amin Jumat (18/11)
kemarin, Kyai Maruf menyampaikan tak perlu lagi ada demonstrasi lanjutan.

“Yang seharusnya kita lakukan dalam kasus Pak Ahok ini  adalah mendorong DPR untu melakukan tugasnya dengan baik. Karena lembaga itu adalah lembaga pengawas eksekutif yang mewakili aspirasi rakyat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kita meredam emosi umat, kemudian melakukan anger management. Karena anger management itu penting. Kedepannya sebagai sebuah bangsa, kita sama-sama memiliki masa lalu, memilik keharmonisan, dan hendaknya mari kita rawat kebhinekaan kita dengan sama sama mengembangkan paham agama yang toleran” imbuhnya.

Romi juga prihatin tentang adanya seruan untuk pihak-pihak tertentu yang mengajak orang lain untuk melakukan penarikan uang dari bank secara serentak (rush money). Menurutnya gerakan Rush Money adalah sebuah gerakan yang akan menyakiti perekonomian negara. Gerakan ini efeknya bukan hanya kepada pemilik uang, namun juga akan berimbas pada kesengsaraan rakyat.

“Kalau kita melakukan rush money, itu bukan kebangkrutan siapa-siapa, tapi kebangkrutan ekonomi kita, yang akan sangat mungkin saja bisa terjadi dan imbasnya siapa kalau bukan rakyat kecil” pungkasnya.

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait