PKP-BERDIKARI : Poros Perdagangan Indonesia Afrika Sejak Lama Dirintis NU

0
64
Sekjen PKPBerdikari Osmar Tanjung dan Ketum PBNU Said Agil Siradj (dokumen)

Setelah Menteri Perdagangan Enggar menyerukan poros perdagangan Indonesia Afrika. Kini komunitas profesional kembali memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika agar semakin berdampak luas terhadap urusan kemaslahatan umat dan kesejahteraan rakyat.

Osmar Tanjung selaku Sekjen PKPBERDIKARI, mengingatkan bahwa jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, Nahdlatul Ulama (NU) sudah lebih awal membangun hubungan dengan Afrika dan Timur-Tengah.

“Tentu, Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang sejak awal membangun hubungan dalam khazanah Islam. Banyak Ulama Indonesia yang belajar kepada Syech di Afrika. Begitu pula sebaliknya”,papar Osmar.

Pernyataan itu memang berkaitan dengan kedekatan Prof. KH. Said Aqil Siroj dengan Grand Syekh al-Azhar Mesir Ahmad Muhamed al-Tayeb. Dalam pertemuan Maret lalu, Kiai Said mengedepankan pembangunan Islam yang damai. Atau biasa dikenal dengan “Islam Nusantara” .

“Sebagai negara dengan mayoritas Islam Sunni, Indonesia disudutkan oleh kelompok Liberal dan Radikal. Dua kelompok ini terus berupaya menyudutkan penganut Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang mengutamakan moderat (tawasuth), keseimbangan (tawazun), dan toleransi (tasamuh)” imbuh Kiai Said.

Ketika kembali ditanya melalui via telefon. Osmar Tanjung yang masih di Mesir kembali memaparkan bahwa agenda di Mesir mengemban dua tugas sekaligus. Menjalankan perintah Presiden untuk tingkatkan eksport, terutama produksi dari Perusahaaan Negara (BUMN). Juga meneruskan amanah para Ulama Nahdlatul Ulama dengan Afrika, khususnya Mesir sebagai negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

“Nahdlatul Ulama selama ini sudah menjalin kerjasama dalam bidang Tarbiyah (Pendidikan, Keilmuan Islam). Sudah barang tentu kita bersama pemerintah mendorong kerjasama dalam bidang Al-Bai’ (Perdagangan). Sebagai tradisi memperkuat jalinan silahturahmi Indonesia-Afrika, tambah Osmar.

Secara politis, Pak Jokowi menggandeng Kiai Ma’ruf sebagai pendampingnya. Beliau (Kiai Ma’ruf) adalah representasi ulama yang ingin mengembangkan ekonomi modern berbasis Islam.

Itu menandakan hubungan ekonomi, Politik dan Budaya dengan negara Afrika dan Timur-Tengah akan semakin erat, tutup Osmar Tanjung, selaku Komisaris Independen PTPN IV.

Dalam keterangan yang terpisah, Abi Rekso selaku Deputi Kajian Said Aqil Siroj Institute. Dirinya mengakui bahwa selama ini Kiai Said adalah simbol Ulama yang paling diterima dari pemimpin-pemimpin di Afrika.

“Selama ini lembaga-lembaga Afrika dan Timur Tengah kerap membantu pembangunan pesantren dan beasiswa para Santri ke Al-Azhar. Bukan tidak mungkin kedepan hubungan perdagangan menjadi agenda prioritas” tambah Abi Rekso.

Abi Rekso juga mencontohkan sunah dakwah Rasullulah. Bahwa dakwah, silahturahmi dan perdagangan adalah bagian dari perjuangan pembangunan Islam yang Rahmah. Lebih-lebih, Presiden Jokowi telah meminang salah satu Ulama NU untuk membangun negri.