Jumat, 1 Juli 22

Pesona Pura Jagatkartya di Kaki Gunung Salak

Indah, demikian kesan awal saat berkunjung ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartya yang berada di kaki Gunung Salak atau tepatnya di Warung Loa, Tamansari, Kabupaten Bogor. Arti dari nama ‘Parahyangan Agung Jagatkarta’ adalah alam dewata suci sempurna. Nama Parahyangan diambil karena letaknya di wilayah Parahyangan.

Lingkungannya yang menyuguhkan iklim pegunungan yang berpadu dengan keelokan hijau alam semakin menyempurnakan pesona pura yang terbesar kedua setelah Pura Besakih, Bali. Setiap akhir pekan, pura ini selalui ramai pengunjung. Tidak hanya penganut agama Hindu, tapi juga wisatawan.

Informasi yang diperoleh indeksberita.com, Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya berdiri sejak 1995 dengan luas 2,5 hektar. Berjarak lebih kurang 14kilometer dari pusat Kota Bogor, di lokasi tersebut dipercaya sebagai pusat Kerajaan Pajajaran dan tempat menghilangnya Prabu Siliwangi.

Candi Bentar dengan lilitan kain panjang warna kuning terang jadi suguhan pemandangan menyambut para pengunjung. Perasaan tenang, nyaman dan damai yang langsung terasa saat menatap Pura.

Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya, Taman Sari Gunung Salak ini adalah salah satu tempat wajib untuk melaksanakan Tirta Yatra. Tirta Yatra adalah sebuah perjalanan suci untuk bersujud di hadapan-Nya untuk memohon petunjuk dan ampunan-Nya.

Banyak upacara yang biasa dilakukan di pura ini, salah satunya adalah Upacara Siwa Ratri. Siwa Ratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Upacara ini telah dilakukan pada 22 Januari 2012 kemarin. Biasanya, pada malam sebelumnya banyak umat yang bermalam di pura.

Menurut legenda, Pura Parahyangan Agung Jagatkarta ini merupakan tempat Prabu Siliwangi beserta prajurit mencapai moksa (menghilang) dan tidak pernah diketahui keberadaannya hingga sekarang. Sebelum dibangun Pura, tempat ini diyakini sebagai persemayaman dan pemujaan terhadap Prabu Siliwangi dan para hyang (leluhur) dari Pakuan Pajajaran. Di lokasi tersebut, dibuat sebuah candi macan hitam dan macan putih sebagai bentuk penghotmatan kepada Prabu Siliwangi. Kemudian pada tahun 1995, candi itu dihilangkan dan dibuatlah Pura ini meski belum memiliki bangunan yang sempurna.

Untuk masuk ke Pura ini, pengunjung tidak ditarik biaya resmi tapi terdapat sebuah kotak dimana pengunjung bisa menaruh uang seikhlasnya untuk para penjaga Pura. Sebelum masuk ke Pura, pengunjung diharuskan memakai seutas kain berwarna kuning, merah, putih, atau hitam  yang diikatkan di pinggang dan dapat dikembalikan pada akhir kunjungan. Dulu, Pura ini sangat terbuka untuk umum hingga memasuki tempat ibadahnya. Namun sejak dua tahun yang lalu, pengunjung hanya bisa melihat dan berfoto di pelataran dan samping Pura. (eko)

- Advertisement -
Berita Terbaru
Berita Terkait